Ada yang Tak Ingin Terlewatkan

18 Mei 2017 15:04:55 Diperbarui: 18 Mei 2017 15:22:53 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Ada yang Tak Ingin Terlewatkan
media sosial - bgr.com

Pernahkah kita membayangkan di masa-masa sebelum media sosial Facebook didirikan (4 Pebruari 2004, oleh Mark Zuckerberg), bahwa kita dapat bertemu kembali, chatting, mengirim pesan kepada teman-teman kita yang telah berpisah sekian lamanya, baik itu teman sewaktu SMA, SMP, ataupun dengan rekan-rekan kita yang pernah kita kenal baik di pekerjaan, kantor, dsb. Di Facebook kita bisa mencari orang yang kita kenal, kemudian kita mengirimkan pertemanan kepada mereka. Kalau mereka menerima, merekapun menjadi teman sosial kita di dunia maya. Facebook membatasi jumlahnya sampai 5000.

Dulu sewaktu orang-orang ramai terlibat dan membicarakan Facebook, saya malah bingung bagaimana supaya ikutan dan cara mendaftarnya. Apakah dengan mendaftarkan di sekolah (karena ada kata booknya 😂). Tapi akhirnya mengerti juga.

Jadi di Facebook kita menulis status, tentang apa saja, layaknya curhat, bisa puisi, dsb., tentu kita sudah faham. Sesudah itu kita juga sering update status, berapa dan siapa saja teman-teman atau kenalan kita yang ngelike atau komentar. Sesudah itu kadang kita suka ketagihan update status setiap waktu, bangun pagi, di tempat kerja, di kendaraan, di mall, mau tidur, dsb.

Kita mesti berkorban juga untuk update di media-media sosial, mengorbankan jatah waktu untuk beristirahat, mengisi pulsa, dsb. 

Seiring perkembangannya di media sosial kemudian muncul istilah FOMO, singkatan dari Fear Of Missing Out. FOMO adalah suatu perasaan gelisah atau tidak nyaman karena ada sesuatu yang terlewatkan. Yang terlewatkan disini bisa postingan rekan-rekan, yang like dan berkomentar, kegiatan apa saja yang dilakukan. Kalau di Twitter mungkin ingin mengetahui 'kicauan' apa yang dikirim kenalan kita, komentarnya, yang mengikuti, dsb. Demikian juga di media sosial lainnya seperti g+.

Disisi lain media sosial itu menguntungkan karena kita punya banyak teman, kenalan, namun kerugiannya selain sering mengorbankan waktu di dunia nyata demi dunia maya, beli pulsa, juga kegelisahan karena FOMO tadi. Kalau kita tidak menanggapi komentar, atau bahkan kita melewatkan apa yang dilakukan orang, karena betul-betul terpaksa dan sibuk di dunia nyata, kita menjadi ketakutan dicap tidak toleran kepada mereka.

Ada sesuatu yang terlewatkan, membuat resah gelisah. Apakah ini salah satu sisi buruk dari pertemanan di dunia maya. Menurut JWT Intelligence, FOMO juga dapat memotivasi seseorang untuk melakukan pembelian diluar kebutuhan, misalnya gadget keluaran terbaru hanya karena terpengaruh oleh orang-orang sekitar yang memiliki benda serupa.

Rudy Wiryadi

/rudywiryadi12

www.pelangidipagihari.blogspot.com www.seindahcahayarembulan.blogspot.com www.sinarigelap.blogspot.com www.eaglebirds.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana