Ronny Noor
Ronny Noor Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Mengatasi Dampak Stroke dengan Bisa Laba-laba, Mungkinkah?

21 Maret 2017   09:21 Diperbarui: 21 Maret 2017   09:36 39 12 3
Mengatasi Dampak Stroke dengan Bisa Laba-laba, Mungkinkah?
Bisa laba laba berpotensi dikembangkan menjadi obat untuk mengurangi kerusakan otak akibat stroke. Photo: Mark Baker/Reuter

Bagi penggemar film fiksi ilmiah seperti spiderman pastilah kita pernah membayangkan ada sesuatu yang luar biasa dalam bisa laba laba yang berpengaruh besar pada tubuh manusia yang dapat merubah menjadi manusia super.

Ketertarikan para peniliti pada bisa seperti ular dan  laba laba sebagai bahan pengobatan memang sudah lama.  Sampai dengan saat ini mereka berlomba lomba untuk mengidentifikasi senyawa yang ada di bisa  untuk digunakan sebagai bahan aktif untuk pengobatan.

Kini salah satu penyakit yang menjadi target pengobatan dengan menggunakan  bisa laba laba adalah penyakit stroke.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Stroke Association, stroke akan menyerang otak ketika pasokan darah ke otak terhenti atau saat terjadi pendarahan di otak.

Di dunia hampir setiap 2 detik ada orang yang terkena serangan stroke.  Hal ini berarti jumlah orang yang terserang stroke setiap tahunnya mencapai 17 juta orang.

Tingginya angka serangan strok ini membuat stroke  merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia dengan angka kematian mencapai 6,7 juta orang.  Artinya dalam setiap 5 detik terdapat satu korban jiwa akibat stroke.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak stroke yang menyebabkan cacat dan juga kematian dini yang angkanya akan meningkat 200% dalam kurun waktu 15 tahun mendatang

Baru baru ini para peneliti dari the University of Queensland dan  Monash University berhasil memanen bisa laba laba yang paling mematikan di Australia dan mengisolasi protein yang dikandungnya.

Bisa laba laba Australia Hadronyche infensa berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi obat stroke. Photo: Toby Hudson
Bisa laba laba Australia Hadronyche infensa berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi obat stroke. Photo: Toby Hudson

Selanjutnya protein ini dimurnikan di laboratorim dan menghasilkan protein murni yang dinamakan Hi1a.

Protein ini berfungsi untuk membkolir jalur acid-sensing di otak yang menjadi pemicu kerusakan otak. Tidak hanya sampai disitu saja, ternyata protein Hi1a dari bisa laba laba ini berfungsi melindungi pusat otak yang paling sering terpengaruh jika otak kekurangan oksigen.

Dengan fungsi seperti ini para peneliti berpendapat bahwa prtotein Hi1a merupakan kandidat obat stroke yang sangat potensial.

Sebagaimana yang kita ketahui periode paling kritis dari serangan strok adalah 8 jam sejak terjadi serangan.  Periode kritis inilah yang akan menentukan tingkat parahnya serangan stroke.

Protein Hi1a memang sangat menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut  sebagai obat untuk melindungi otak dan mengurangi kerusakan otak akibat serangan stroke.

Jika potensi yang diperlihatkan oleh protein ini sama halnya pada manusia dengan apa yang pernah diperlihatkan pada percobaan dengan menggunakan  tikus percobaan bukan tidak mungkin ke depan protein ini akan berjasa besar bagi penderita stroke karena dapat melindunginya dari kerusakan otak.

Sumber: satu, dua, tiga, empat, lima