Who am I?

21 Januari 2012 05:51:56 Diperbarui: 25 Juni 2015 20:37:23 Dibaca : Komentar : Nilai :

Saya cukup bingung dan sedikit panik kalau seseorang melontarkan pertanyaan, “Who am I?” Bingung dan panik karena saya harus mulai menjawab dari hal apanya. Andai saya menjawab, “saya seorang penulis gadungan” maka pertanyaannya tentang pekerjaan atau aktivitasku sehari – hari. Apabila saya menjawab, “saya seorang laki – laki yang berasal dari Ende, sebuah kabupaten di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur”, maka pertanyaannya mengenai asal muasal dan jenis kelamin. Ahhh, sungguh membuat saraf motorikku pusing tujuh kali tujuh kali. Saya kemudian teringat dengan kata – kata seorang Einstein, “Try not only to become a man of success, but rather try to become a man of value”. Artinya, “cobalah ‘tuk tidak hanya menjadi orang sukses, tetapi menjadi orang yang bernilai”. Nah, apa ukuran orang yang sukses dan orang yang bernilai? Sebagai seorang anak pedesaan (untuk tidak mengatakan dari kampung), saya bergumul dan berkembang dalam sebuah kultur masyarakat yang demokratis dan gotong – royong. Di sanalah saya belajar bekerja sama, toleransi dan saling menghargai. Kehidupan keluarga yang disiplin dan kerja keras mengajarkan kepadaku untuk menjadi pribadi yang kuat dan teguh. Tidak ada kata “menyerah” dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Pesan ini yang selalu membekas dalam hatiku hingga kini. “Bumi tak akan pernah menangis tatkala aku terantuk dan jatuh, namun ia akan meneteskan airmata ketika aku tak mau bangun lagi” Kalimat ini aku temukan dari yang berserakan di atas meja belajarku kala itu. Persis ketika kegagalan dan kejatuhan melandaku. Saya pernah gagal. Saya terpuruk lantaran dieliminasi dari sebuah “pesantren” karena memang cita – citaku ingin menjadi seorang religius. Namun semuanya sungguh tidak berjalan mulus seperti yang diidealkan. Kata orang, bukan sebuah kegagalan, hanya saja Tuhan lupamemanggilku untuk jangan bekerja di ladang itu. Pengalaman ini adalah titik balik dalam hidupku. Aku bangkit. Sebuah lagu “Sarjana muda” oleh Iwan Fals menginspirasiku. Ijazah SMU dan keberanian adalah modal awalku ‘tuk melangkah maju. Hampir setiap perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan kujajaki. Tak peduli akan ditolak, tidak diterima dan surat lamaranku ditong-sampahkan. Kesempatan tidak datang untuk dua kali, maka sebagai cleaning service pernah kujalani, penjual koran pernah kulakoni, salesman plastik pernah diperankan dan sebagai salesman door to door sebuah produk MLM pernah kuperankan. Saya sadar, pengalaman ini membentuk saya menjadi pribadi yang semakin kuat dan sabar. Tak lupa di setiap langkah, aku memohon dan mengandalkan Tuhan untuk menunjukkan jalan yang terbaik. Saat itu sangat letih. Gua Maria Gereja Paroki St Arnoldus Bekasi menjadi saksinya. Saya menumpahkan semua isi hatiku dan harapan kepada Tuhan. “Tuhan, kalo Engkau yang menghendaki saya keluar, maka tunjukkan jalan yang terbaik bagi masa depanku. Tuhan, saya mau kerja dan kuliah. Berilah jalanMU”. Kalimat ini mengalir bersama airmata yang membanjir. Airmata membersihkan pandangan gelapku, bahwa hidup terus berjalan dan tidak harus putus asa. Sehari kemudian, saya diterima sebagai finance staf pada sebuah perusahaan air minum dalam kemasan. Bahagia dan haru melebur jadi satu. Bahagia karena cita – citaku tuk meneruskan kuliah menemui titik cerah. Haru karena saya bahagia. “Tuhan tidak menutup mata menyaksikan perjuanganku” madahku. Sebulan saya bekerja di perusahaan itu, gaji pertama langsung disisipkan untuk uang pangkal masuk kuliah. Kampusnya cukup jauh dari kantor. Tiga kali ganti angkutan kota menuju ke kampus. Seminggu tiga sampai lima kali tatap muka kujalani dengan sabar. Lelah dan letih tak pernah kuhiraukan, apalagi bersungut – sungut. Pigura masa depanku mulai diukir dari sekarang, sadarku. Lima tahun berlalu seperti cahaya. Cepat dan terasa membekas dalam dada bahwasanya perjuangan itu tidak sia – sia. Gelar strata satu kudapatkan tidak dengan mudah. Emosi dan ego, luapan tawa dan tetesan airmata melebur menjadi suatu perjuangan penuh makna. Teriring kata terima kasih kepada sahabat dan teman seangkatanku yang selalu kompak. Seminggu kemudian, kutitipkan surat pengunduran diriku dari perusahaan air minum dalam kemasan di bilangan Jakarta Timur. Bukan karena kuliahku telah rampung melainkan persis sebuah film “Denias : Senandung di atas Awan” seakan memanggilku untuk menjalani profesi yang lain. Tapi keingin untuk menjadi guru kandas. Saya terlempar ke sebuah yayasan sosial. Di sana saya bekerja, bergumul dan bergulat dengan diriku sendiri di antara bukit dan hutan. Kira – kira hanya enam bulan saya melakoni itu. Jakarta memanggilku kembali. Sekali lagi, “aku ingin menjadi pendidik”. Sebuah yayasan menerimaku sebagai guru Bahasa Inggris tingkat SD dan IPS pada tingkat SMP. Pengalaman baru kulakoni. Aku belajar bukan hanya sebagai pendidik tapi peserta didik. Sebab dari siswa saya belajar sabar, jujur dan rendah hati. Saya semakin memaknai sebuah tugas dan tanggung jawab yang didasarkan atas panggilan jiwa. Suatu kebahagian tersendiri. Nah, sampai pada titik ini saya kembali mengulang pertanyaan reflektif di atas, apa ukuran sebuah kesuksesan? Melihat perjuangan dan perjalanan panjangku serasanya tidak ada kesuksesan yang didapat menurut persepsi banyak orang. Sampai saat ini saya tidak kaya, masih tinggal di kos, belum punya rumah dan kendaraan pribadi. Tabungan atau deposito tidak ada sepeser pun. Kesuksesan tidak diukur dengan mobil merk tertentu, tidak dengan rumah tipe tertentu, atau pun tidak dengan banyaknya simpanan atau deposito di bank. Kesuksesan ada ketika saya mampu melewati tahap demi tahap pilihan hidup dengan sabar. Dan saya telah melewati proses itu. Saya berteriak, “eureka !!!” (saya telah menemukan) kesuksesan itu. Dan pertanyaan berikut, ukuran orang yang bernilai? Tentu saya ingin hidup yang bernilai bagi semua orang. Saya mengcopy-pastekan kata – kata seseorang yang berserakan di atas meja belajarku, “jika ingin menuai setahun yang akan datang, taburkan benih ; Lima puluh tahu ke depan, semaikan pohon ; dan seratus tahun yang akan datang tanamkan pendidikan.” Ulasan yang panjang di atas sekiranya menjawab pertanyaan, “Who am I?” “Eureka !!!” (aku telah menemukan)…

Roman Rendusara

/roman

TERVERIFIKASI

Roman Rendusara, nama pena. Lengkapnya, Oswaldus Romanus M. Berdiam di kampung Kepi, Desa Rapowawo, Kec. Nangapanda, Ende Flores NTT. SDK Kekandere 2 dan Seminari Todabelu Ngada tempat saya menimba 'sapientia et virtus'. Sempat belajar filsafat di STF Driyarkara, lalu hijrah ke Ekonomi di Unkris-Jakarta. Beberapa kisah tercecer pernah tertuang di media lokal. Tulisan lain: floreside.wordpress.com. PIN BBM D03FD99D
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article