Awas Tipu Daya Setan

27 Mei 2013 08:15:48 Dibaca :

Typu: Aku mau cerita tentang salah satu ex suplierku nih. Dulu waktu baru kenal dia itu ngomongnya mau nitip barang di tokoku. Ya aku terima saja, namanya juga nitip kan. Herannya, dia itu naruh barangnya nggak tanggung-tanggung, banyak banget. Padahal aku sudah nolak-nolak, bilang kalau pangsa pasarku di sini nggak akan sanggup menyerap barang sebanyak itu. Eh dianya ngotot saja, bilangnya nggak apa-apa, nggak apa-apa. Karena dia ngotot, akhirnya ya aku terima saja barangnya. Toh nitip ini. Tahu nggak apa yang terjadi? Daiya: Apa tuh? Typu: Ya barangnya banyak yang masih tersisa, padahal musim jualannya sudah lewat. Terus tahu nggak apa yang terjadi? Dianya ngotot minta aku membayar semua barang-barang dia, baik yang sudah laku maupun yang belum laku. Daiya: Lho kok bisa? Kan bukan gitu perjanjiannya. Typu: Ya itulah. Menurut versi dia kata-kata 'nitip' itu berarti 'bayar belakangan', laku nggak laku harus dibayar kalau sudah jatuh tempo. Sedangkan menurut aku nitip ya nitip. Kalau laku baru dibayar. Gitu dia ngotot nggak mau kalah. Barang mau aku kembalikan, dia nggak mau terima. Aku tanya rumahnya di mana, dia nggak mau ngasih alamatnya. Daiya: Wah itu sih sudah termasuk modus penipuan. Terus akhirnya gimana? Typu: Ya aku nggak mau ngalah. Aku bayar saja yang sudah laku. Lima tahun baru habis barangnya laku. Tapi ya selama itu aku diteror terus, disuruh cepet-cepet ngelunasin. Habis itu aku nggak mau lagi nerima barang dari dia. Aku jadi hati-hati kalau ada orang yang bilang mau nitip barang. Perjanjian awalnya harus ditegaskan di depan secara detail. Biar nggak ada apa-apa di belakangnya. Daiya: Payah banget tuh orang. Memang ada saja manusia yang seperti itu. Terus maksudmu apa kok nyeritain ini? Typu: Ah enggak. Aku cuman inget cerita tentang eyang Subur. Sebenarnya banyak di sekitar kita ini orang-orang yang senang mencari jalan pintas dalam mencari rejeki. Mereka itu sampai-sampai nggak segan-segan untuk berhubungan dengan makhluk-makhluk halus seperti jin dan yang sebangsanya itu. Nah aku curiganya mereka itupun sebagian besar sebenarnya tertipu dengan perjanjian dengan makhluk halus itu. Sepintas mereka itu seolah-olah ingin menolong, padahal kelak di belakang hari pasti mereka akan meminta imbalan yang bisa mencekik leher. Betul nggak? Daiya: Bisa jadi sih. Kalau manusia saja bisa menipu dalam melakukan perjanjian, apalagi makhluk halus seperti jin yang mungkin sudah hidup ratusan atau ribuan tahun. Di depan mereka bertingkah seolah-olah benar-benar berniat menolong, seolah-olah menjadi orang yang bijaksana. Tapi di belakang, mereka akan menuntut balasan yang berlipat-lipat, yang menyengsarakan dan menyiksa. Ngeri lah pokoknya. Typu: Semoga kita semua dilindungi dari tipu daya setan, baik yang berupa manusia maupun makhluk halus lainnya. Daiya: Amin amin amin.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?