HIGHLIGHT

Briket Kotoran Sapi, Bisakah Menjadi Alternatif Bahan Bakar Pengganti Gas?

04 Februari 2010 09:33:00 Dibaca :

Dalam suatu pameran dalam rangka seminar penutupan Program Pelayanan Lingkungan (ESP) yang dikelola USAID minggu lalu, saya menemukan salah satu gerai tentang pemanfaatan kotoran sapi untuk bahan bakar pengganti kayu bakar dan gas, yang dikembangkan oleh para peternak sapi di Batu, Malang (Jawa Timur) yang mendapat bimbingan dari ESP. Saya pikir ini cukup inovatif dan perlu disebarluarkan. Saya lalu mencari informasi lebih jauh dari berbagai sumber dan ternyata gagasan ini sudah lama dikenal dan sudah dikembangkan di beberapa tempat.

Ternyata banyak masyarakat yang sudah mengetahui pemanfaatan kotoran sapi sebagai bahan bakar alternatif, tapi terkendala oleh kesan bahwa membuat biogas itu rumit dan memerlukan banyak ketrampilan. Untuk biogas mungkin benar, tapi membuat briket dari kotoran sapi ternyata tidak terlalu sulit. Seperti yang dibuat oleh para peternak sapi dari Batu tersebut.

Mereka terlebih dahulu mencampur kotoran sapi dengan limbah tebu (tetes) dengan perbandingan 1 banding 10 (satu bagian tetes dan 10 bagian kotoran sapi), setelah dikeringkan di bawah sinar matahari, campuran tetes dan kotoran sapi dipres dengan alat pres sederhana yang terbuat dari kayu (lihat foto). Fungsi tetes sebenarnya hanya sebagai pengikat, yang dapat diganti dengan bahan lain yang fungsinya sama.

Hal yang sama dilakukan para dosen Fak. Peternakan Universitas Padjadjaran yang tergabung dalam Livestock Bioenergy Conversation Program (Libec), sebagaimana dilaporkan dalam milis Kementerian ESDM. Yaitu dengan memodifikasi bentuk bahan baku biogas menjadi briket yang tidak bau. Lain dengan para peternak di Batu yang berbasis pedesaan, para dosen Unpad mengharapkan sasaran pengguna biogas model baru itu justru masyarakat perkotaan.

Alasannya adalah bahwa elpiji dan minyak tanah yang bisa dipakai masyarakat kota tidak bisa lagi diandalkan. Di lain sisi, masyarakat kota sekarang dan yang akan datang memerlukan alternatif bahan bakar yang murah serta mudah dijangkau. Kendalanya mungkin pada peternakan sapi yang umumnya ada di daerah pedesaan.

Pengalaman di Banjarbaru (Kalimantan Selatan) lain lagi. Program energi alternatif yang dikembangkan Kementerian ESDM tahun 2008 tidak jelas kelanjutannya. Menurut Banjarmasin Post, dari 10 unit kompor yang disebarkan ke sejumlah peternakan sapi percontohan di Banjarbaru hanya tersisa satu unit saja. Selebihnya bahan bakar gas dari kotoran sapi itu hanya tinggal cerita. Kegagalan itu ternyata karena banyak peternak sapi yang tidak melakukan perawatan kompornya dengan sempurna.

Kesimpulannya, program yang dirancang dari pusat dan hanya mengandalkan pencapaian target dan tidak disertai penyuluhan yang memadai tidak bisa berlangsung lama. Sedangkan program yang dikembangkan dengan sepenuhnya menyertakan masyarakat, sebagai bagian dari siklus yang berproses akan besar kemungkinannya untuk bisa berlanjut.

Saya berharap bahwa pengembangan briket kotoran sapi perlu diteruskan sebagai alternatif pengganti bahan bakar yang makin lama makin mahal dan sulit didapat.

Ris Sukarma

/rissukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?