HIGHLIGHT

Buku 3 Fase Berganti, Siapkah?

11 Mei 2012 13:38:42 Dibaca :

Buku adalah symbol sacral yang terus mengiringi perkembangan umat manusia sejak peradaban itu ada. Buku telah melewati berbagai zaman yang berbeda dan telah berganti-ganti bentuk dari tiap-tiap zamannya. Namun buku tetap menjadi objek yang hidup, selama manusia ada dan menulis maka buku itu akan terus ada.


Buku bukan hanya menggambarkan kehidupan manusia namun juga apa yang ada dan tidak ada di dunia ini. Seperti yang kita tau berdasarkan perkembangan sejarah dan pengamatnya bahwa buku telah ada sejak awal peradaban. Fase pertama ini buku bukanlah disebut buku namun tulisan yang selalu dianggap petuah bagi bangsa-bangsa kuno terdahulu, yakni tulisan yang dimaktubkan diatas batu, kayu, daun, bambu, bahkan kulit. Seperti yang di jelaskan oleh prof santos dalam buku atlantisnya yang membenarkan bahwa pusat peradaban telah ada sejak zaman es yang disebut-sebut peradaban yang paling sejahtera yaitu tepatnya 16.700 tahun yang lalu. Pada zaman itu peradaban atlantis yang dijelaskan lebih tepatnya terletak di indonesia telah mengenal ukiran dan tulisan diatas batu. Hal ini pula di benarkan oleh kisah Marco Polo yang mengarungi lautan dan sampai ke benua asia yang menceritakan keajaiban-keajaiban bangsa di Asia baik itu rempah-rempah dan buah-buahan yang bergelimpangan serta penghuni-penghuninya yang sangat ramah. Legenda atlantispun di benarkan oleh tulisan-tulisan plato. Hal ini semuanya mendukung fakta-fakta bahwa peradaban telah ada sejak zaman itu di Indonesia dulunya yang disebut-sebut awal mula peradaban umat manusia yaitu atlantis. Dan bukti-bukti yang telah membenarkan itu semua tidak hanya sebatas benda-benda purbakala yang ditemukan namun juga ukiran-ukiran batu dan tulisan yang juga sudah ada.


Setelah fase pertama tulisan yang terpahat pada batu, kayu, dan objek lainnya yang diyakini adalah buku pada zaman kuno tersebut maka fase kedua berganti yaitu tulisan pada kertas yang seiring perkembangannya jadilah buku. Kertas pula pertama kali di ciptakan oleh bangsa cina yaitu Tsai Lun( 101 masehi )yang membuatnya pertama kali dari serat bambu dan kemudian menyebar ke jepang dan korea. Dan seiring perkembangan zaman maka kertas yang dulu pun dirahasiakan pembuatannya akhirnya tak menjadi penghalang dan terus berkembang menjadi sesuatu yang sangat kita kenal dengan sebutan buku. Buku pada fase kedua ini dengan bahan dari kertas menjadi obyek yang sangat penting bagi perkembangan manusia pada masa sekarang. Mungkin kita masih ingat karya-karya kontemporer dari berbagai penulis di eropa sana yang karena tulisannya dalam sebuah buku membuat begitu banyak perubahan terhadap dunia. Karl Marx dengan pemikiran dan pemahaman kemanusiannya yang di tuang kedalam tulisan dan menghasilkan buku antikapitalisme membuat begitu banyak pergolakan terhadap kaum-kaum kapitalis yang menyengsarakan masyarakat-masyarakat kecil. Kita juga mungkin pasti ingat Noam Chomski yang menjelaskan tentang kekuatan wacana sebagian orang yang berkepentingan yang menjadikan masyarakat Amerika yang dulunya damai menjadi haus aksi kepahlawanan dan akhirnya ikut dalam peperangan yang tercatat dalam sejarah perang dunia. Ada pula teori kritis Jurgen Hebermas dan language and powernya Norman Fairclough yang mengajarkan kita akan ilmu bahasa kritis yang harusnya dimiliki setiap orang zaman sekarang untuk dapat menganalisis bahasa-bahasa para ahli yang selalu berusaha mengendalikan masyarakat besar melalui permainan bahasa. Sedangkan Indonesia sendiri juga punya banyak pemikir dan pecinta baca melalui buku seperti Soekarno, Hatta, Tan malaka, Chairil anwar, Gusdur dll. Mereka semua adalah orang-orang Indonesia yang gemar baca dan berteman dengan buku dan menjadi pahlawan-pahlawan Indonesia karena pemikiran-pemikiran yang mereka tuangkan dalam berbagai tulisan untuk perkembangan Indonesia. Kita juga dapat melihat kebiasaan Amin Rais yang menghabiskan waktunya 5 jam sehari hanya untuk beribadah membaca buku. Maka dari semua ini bisalah kita tau bahwa setiap pemimpin yang selayaknya pantas sebagai pemimpin adalah seorang pemimpin yang rajin membaca buku dan semakin memperluas pengetahuannya bukan seorang pemimpin yang hanya sekadar gemar melamun.


Sudah begitu banyak buku yang telah dibuat sampai zaman ini, buku juga telah mengiringi perkembangan Indonesia sampai ketahun sekarang. Namun banyak pula dari berbagai kalangan yang memprotes buku karena bahan pembuatannya yang semakin menggeruskan hutan di dunia, karena itu teknologi dan modernitas berhasil menjawab ketakutan-ketakutan kita yaitu dengan terciptanya e-book atau buku elektronik yang bisa di akses melalui internet dan bisa di baca melalui alat yang disediakan tanpa menggunakan kertas lagi. Hal ini memang terobosan yang sangat menjanjikan keberlansungan buku kelak walaupun masih dalam proses dan tahap perkembangan yang masih terus di jalankan. Namun perpindahan fase buku cetak ke buku elektronik ini sepertinya masih terlalu cepat terjadi karena kita masih belum mampu mengenang dengan baik buku cetak yang juga belum dapat merampung hasil-hasil yang telah dibuat oleh para pahlawan nasional kita. Masih banyak orang Indonesia yang tidak mengenal karya yang di hasilkan oleh Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Chairil Anwar, dan berbagai pahlawan lain yang berhasil menuangkan pemikiran mereka menjadi kemajuan untuk bangsa Indonesia. Sastrawan serta sejarahwan Bandung Mawardi dalam essainya yang di muat di Koran tempo 8 januari tentang berumah di buku mengatakankan bila orang-orang terlalu tergesa-gesa meramalkan masa depan buku elektronik sebelum rampung masa lalu buku cetak. Dia pula menambahkan dan menjelaskan perbedaan menikmati buku cetak secara hening dan penuh imajinasi dengan kegemerlapan teknologi elektronik.


Memang benar bahwa saat ini kita terus menerus di paksa oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, sedangkan kita belum lagi dapat mengkliping kenangan-kenangan buku cetak oleh para pahlawan kita dengan baik malah terus didorong untuk maju ke fase teknologi dan elektronik. Kita pula belum melihat persentasi sebesar 50% dari para mahasiswa di suatu kampus yang mendatangi perpustakaan kampus mereka. Malah penyediaan hot spot atau wifi di satu universitas dengan biaya atau anggaran yang besar untuk penyediaan ini di salah gunakan, pasalnya penyediaan jaringan internet ini bisa di gunakan para mahasiswa dan dosen untuk mengakses dengan mudah informasi-informasi yang bermanfaat bagi perkuliahan mereka yang bisa di dapapatkan diberbagai perpustakaan online ini namun malah sebaliknya sekitar 60% dana yang dihabiskan anggaran yang disediakan ini dipakai untuk mengakses situs-situs jejaring social seperti facebook dsb, serta juga di pakai untuk mendownload music atau film. Hal ini memang sangat ironis bila kita melihat keadaan yang sebenarnya, sedangkan pertanyaan yang paling penting terhadap buku cetak dan buku elektronik ini adalah adalah apakah kita siap untuk mengalami perpindahan fase ini?

Rio Muqni

/rio_muqni

a man who's still studying, reading, and writing...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?