Si Jurnalis Sejati Spongebob Menghadapi Kegilaan si Kapitalis Mr. Krabs

23 Juni 2012 14:23:56 Dibaca :
Si Jurnalis Sejati Spongebob Menghadapi Kegilaan si Kapitalis Mr. Krabs

Terlalu banyak kisah sentil menarik dari kartun Spongebob. Salah satu edisi yang barusan saya lihat adalah saat bocah sponge tersebut berubah profesi menjadi wartawan (Edisi ini sebenarnya sudah sering ditayangkan). Awalnya Mr. Krabs ingin mengiklankan Krabby Pretty-nya ke surat kabar. Ia pun mengecek harga iklan ke koran yang ada di pusat keramaian warga Bikini bottom. Mr. Krabs ternyata kaget ketika melihat harga iklan koran yang begitu mahal. Bukan kaget karena merasa kemahalan, tetapi kaget senang. Kaget yang penuh inspirasi. Insting bisnisnya muncul. Mendirikan bisnis media bisa menjadi sumber uang. Seperti itulah karakter kapitalis Mr. Krabs, melihat sesuatu yang mahal langsung insting bisnisnya jalan. (silakan baca tulisan saya yang berjudul Otak Kapitalis Mr. Krabs) Bukan hanya itu, ia juga mengamati koran yang banyak dibaca adalah Koran yang beritanya menarik. Segera ia berinisiatif membangun bisnis media. Spongebob, pegawai setianya yang biasa dibayar murah sebagai pembuat burger krabby patty, disuruhnya berubah profesi menjadi wartawan surat kabar The Krabby Kronicle. Dengan dimodali mesin ketik dan kamera dari Mr. Krabs, Spongebob mulai melakukan pekerjaan barunya. Ia keliling kota untuk mencari berita menarik. Ternyata insting jurnalisnya belum ada. Ketika ia menemukan kejadian perampokan pada sebuah bank, ia hanya cuek. Baginya itu bukan hal yang menarik untuk jadi berita. Ia pun menemukan kawannya, Patrick, yang sedang berdiri dipinggir jalan di sebelah tiang listrik. Patrick yang dikira sedang menunggu bus bisa menjadi berita menarik. “Hei Patrick, kau sedang menunggu bus?” Tanya spongebob “Tidak,” Patrick menjawab, “aku sedang perhatikan tiang ini. hoo… ” (kalau mengerti karakter Patrick pasti ngakak melihat dialog ini) Apa yang dilakukan Patrick ternyata tidak sesuai yang diharapkan spongebob. Patrick heran dengan tiang listrik yang diam tidak bergerak. Sampai, Patrick pun tidak mau bergerak sebelum tiang itu bergerak. Akhirnya gambar Patrick yang sedang perhatikan tiang listrik di potret Spongebob untuk dijadikan berita tentang warga Bikini Bottom yang menunggu tiang listrik bergerak. Berita pun dicetak dan mulai diedarkan. Ternyata Koran yang dijual di kasir Squidward tidak ada yang mau membeli. Mr. krabs kebakaran jenggot dan marah kepada wartawannya. Mengapa orang seperti patrick dijadikan berita. Ia pun menceramahi Spongebob agar mencari berita yang unik dan menjual sensasi. “Cari berita sensasi yang disukai masyarakat Spongebob, biar kita menghasilkan uang.” Begitu kira-kira perintah Mr. Krabs. “Berita yang seperti apa Tuan Krabs.” “Cobalah ditulis pakai imajinasimu.” “Aha.. Imajinasi.. Imajinasi…” Spongobeb akhirnya dapat gambaran. Spongebob mulai kembali mencari berita untuk Koran hari berikutnya. Saat sedang berkeliling kota mencari berita, ia menemukan Larry (tokoh lobster yang berbadan kekar dan seorang binaragawan) sedang berjalan-jalan. Spongebob memperhatikannya. Lalu Larry bertemu anak kecil yang kagum pada tubuh kekarnya. Anak kecil pun meminta untuk memukul tubuh Larry. Saat anak kecil memukul tubuh Larry, ia pura-pura meringis kesakitan untuk menghibur sang anak. Spongebob mengambil gambar tersebut dengan kameranya untuk dijadikan berita. Lalu dituliskanlah berita tentang Larry yang kalah berkelahi dengan anak kecil. Koran pun dicetak dan diedarkan. Ternyata laris. Mr. Krabs senang dengan pemberitaan tersebut. Tumpukan uang pun mulai mengisi ruang kantornya. Namun sayang, akibat pemberitaan tersebut, Larry harus di pecat dari pekerjaan binaraganya. Pemberitaan bohong ini dianggap oleh pimpinan Larry telah mencemarkan nama baik federasi binaraga tempat Larry bekerja. Setelah korang The Krabby Kronicle laris dengan pemberitaan Larry, Spongebob terus di paksa oleh Mr Krabs untuk mencari berita-berita yang lebih sensasi lagi. Spongebob pun bekerja keras mencari dan menuliskan berita yang sensasional dari gambar-gambar dengan pemberitaan yang dimanipulasinya. Krabby Patty penuh dengan antrian orang yang ingin membeli surat kabarnya. Tumpukan uang pun semakin memenuhi ruang kantor Mr. Krabs. Ia begitu ceria dengan kehadiran tumpukan kertas hijau yang berlambang dollar. Lama-kelamaan hati nurani Spongebob mulai bicara. Banyak orang-orang yang tersakiti oleh pemberitaan yang dibuatnya, khususnya teman-temannya sendiri seperti Sandy dan Sheldon Plankton. Ia pun mengadu kepada bosnya. Namun tidak digubris. Mr. Krabs sudah gila dengan uang. Ia tidak peduli dengan orang lain yang dirugikan. Yang penting korannya bisa terjual. Spongebob terus dipaksa mencari berita dengan ancaman pemecatan. Sampai akhirnya Spongebob sudah tidak tega dengan pemberitananya yang sudah menghancurkan kehidupan orang-orang disekitarnya. Tidak hanya itu, ia pun sadar bekerja siang malam dengan gaji kecil demi menambah kekayaan Mr. Krabs. Spongebob melawan. Namun melawannya tidak ia hentikan dari aktivitas Jurnalisnya. Ia tetap ditantang oleh Mr. Krab untuk membuat berita yang lebih sensasional lagi. Entah apakah ini karena kejeniusannya atau memang karena kepolosannya, ia membuat berita sensasional tentang kejahatan bisnis medianya Mr. Krabs di korannya sendiri. Diberitakan kalau Mr. Krabs telah mempekerjakan seorang anak siang malam tanpa belas kasih dengan gaji kecil. Begitu Koran beredar, diserbulah Krabby Pretty oleh warga Bikini Bottom. Warga protes dan memarahi Mr. Krabs dari berita yang dituliskan Spongebob. Lalu para warga tersebut mengambil uangnya. Tamatlah ia. Meski bisnis medianya hancur akibat ulah spongebob, Mr Krabs tidak kehabisan ide pada sikap oportunisnya. Diakhir cerita, mesin printing yang biasa untuk cetak korannya kini menjadi alat untuk mencetak uang untuk memperkaya dirinya. Dasar konyol! ** Begitulah kisah edisi Spongebob jadi wartawan. Kelihatannya seperti kisah kartun lelucoan biasa saja. Padahal kisah ini sangat terlihat di dunia nyata. Bisa dikatakan, kartun ini benar-benar menunjukkan realitas sosial yang sebenarnya. Banyak kisah-kisah kenyataan sosial yang diangkat dengan gaya lelucoannya. Khususnya kisah tentang kelas pekerja dengan pemilik modal. Inilah serial kartun yang sangat-sangat konyol, namun kritik sosialnya dalam banget.

Ridwan Hidayat

/ridwan-hd

Baca, tulis, ide, mimpi, harapan, dan cita-cita
Blog : www.ridwanhidayat.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?