Riap Windhu
Riap Windhu Sales

senang membaca dan menulis, cinta bersepeda, suka pada tema lingkungan. Menggemari dunia pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di sebuah perusahaan asuransi jiwa. Dapat dihubungi di 081287749530. Email: rwindhu@gmail.com. Instagram : riapwindhu dan twitter @riapwindhu. Bisa juga di www.rindhuhati.com

Selanjutnya

Tutup

Jakarta headline

7 Hal yang Perlu Diketahui dari Proyek MRT di Angka Pengerjaan 74 %

13 Juli 2017   02:12 Diperbarui: 13 Juli 2017   10:17 1448 5 2
7 Hal yang Perlu Diketahui dari Proyek MRT di Angka Pengerjaan 74 %
Pembangunan moda transportasi masal Mass Rapid Transportasion (MRT) hingga minggu pertama Juli sudah mencapai angka 74 %. (foto:www.jakartamrt.co.id)

Setiap kali melewati sepanjang jalan Sudirman-Thamrin, Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Lebak Bulus, warga Jakarta tentunya melihat pembangunan moda transportasi massal Mass Rapid Transportation (MRT). Siang dan Malam, selama bertahun-tahun, pengerjaan Angkutan Cepat Terpadu Jakarta ini seakan tak berhenti. 

Keberadaan MRT ini diharapkan sebagai sarana transportasi pengurai kemacetan yang ada di Jakarta. Tentu saja, menawarkan solusi transportasi yang berbeda dengan transportasi umum massal yang sudah ada saat ini.

Bahkan, dengan semangat, teman saya berkata senang seandainya MRT sudah jadi, maka tidak perlu lagi ke negara tetangga Singapura untuk tahu rasanya naik MRT. Kenapa? Ya, karena MRT akan hadir di Jakarta.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar (dokpri)
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar (dokpri)

Namun, Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menyatakan janganlah hanya melihat pembangunan transportasi MRT hanya sekedar instrumen menyelesaikan kemacetan jangka panjang. "Lihat ini sebagai lompatan teknologi dan lompatan pembangunan yang dilakukan anak bangsa Indonesia. Sehingga, boleh bangga punya Indonesia," tukas William, dalam diskusi MRT forum jurnalis-blogger di Cikini, 5 Juli 2017.

Hal yang pasti adalah lebih dari 3,5 tahun masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jakarta melihat pengerjaan MRT, sejak pertama kali diresmikan pengerjaannya pada Oktober 2013 oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat itu, dengan dana dari pinjaman lembaga keuangan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Jajaran direksi PT MRT (dokpri)
Jajaran direksi PT MRT (dokpri)

Memasuki Juli 2017, lalu sejauh apa proyek transportasi massal MRT saat ini?

1. Pengerjaan MRT Tinggal 25 % lagi

Pembangunan konstruksi MRT secara keseluruhan hingga Rabu 5 Juli 2017 mencapai 74, 89 %. Rinciannya, yakni meliputi 62,42% struktur layang (elevated section) dan 87,48 % struktur bawah tanah (underground section). Hal ini berarti tinggal 25, 11 % lagi pengerjaan yang tersisa.

Ini hal yang menggembirakan tinggal seperempat langkah pengerjaan lagi masyarakat Jakarta dan Indonesia dapat menikmati dan bisa merasakan jadi penumpang MRT. Merasakan lajunya mengurai kemacetan dengan transportasi bergengsi ini, di tengah kota Jakarta.

Pembangunan konstruksi MRT secara keseluruhan hingga Rabu 5 Juli 2017 mencapai 74, 89 % (materiforummrtjakarta)
Pembangunan konstruksi MRT secara keseluruhan hingga Rabu 5 Juli 2017 mencapai 74, 89 % (materiforummrtjakarta)

2. Masih Terkendala Pembebasan Tanah

Masih ada kendala dalam pembebasan tanah, yang masih berada dalam proses hukum seperti banding dan kasasi. Belum berhasilnya pembebasan empat bidang tanah dalam pembangunan Stasiun Haji Nawi, dapat menyebabkan pembangunan stasiun ini mundur dari target waktu.

Bila tanah untuk keperluan pembangunan Stasiun Haji Nawi tak segera bisa dibebaskan, sudah dipastikan stasiun Haji Nawi tidak dapat dioperasikan karena tidak bisa dilakukan pembangunan tiang struktur stasiun.

Mengenai pembebasan tanah, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah memenangkan sebagian gugatan warga pada tanggal 4 Juni 2017 lalu. Pemerintah provinsi DKI Jakarta yang diharuskan membayar ganti rugi sebesar Rp. 60 juta per meter persegi, akhirnya melakukan banding.

Pembangunan MRT semula harus membebaskan 136 lahan kritis. Kini sebanyak 110 sudah bisa dibebaskan karena terjadi kesepakatan harga. Selain itu, sebanyak 26 lahan yang tidak setuju sudah diajukan ke pengadilan dengan proses berjalan. Sehingga sebenarnya hanya ada 4 masalah pembebasan empat bidang tanah di H Nawi. Ketetapan hukum sangat dinantikan agar proyek MRT bisa berjalan lancar.

3. Optimis MRT Bisa Beroperasi Maret 2019

Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar optimis rencana operasional MRT pada Maret 2019 dapat tercapai. Bila melalui sepanjang Jl. Fatmawati, Blok M ke arah selatan sejak pekan pertama Juli, jalanan sudah mulai terasa lebar. Sejumlah pagar pengamanan sudah mulai dihilangkan.

Masalah pembebasan tanah di H Nawi ini diyakini tidak akan mengganggu pembangunan konstruksi jalur kereta secara keseluruhan. Stasiun-stasiun lain tetap akan bisa diselesaikan pengerjaannya. Sehingga, kata Direktur Konstruksi PT MRT Silvia Halim, operasional MRT tetap bisa berjalan dan melayani penumpang, walaupun Stasiun H Nawi belum selesai.Pengoperasian MRT nantinya mengacu pada standar internasional

Jalur layang MRT (sumber:materijakartamrt)
Jalur layang MRT (sumber:materijakartamrt)

4. Berfokus pada Prasarana, Sarana, dan Pengembangan Bisnis

Tahun lalu, proyek pembangunan MRT masih berfokus pada prasarana. Tahun ini, sejalan dengan pembangunan Infrastruktur, kegiatan operasi dan pemeliharaan mulai disiapkan, dan pengembangan kawasan bisnis khususnya stasiun disiapkan.

Kenapa hal ini dilakukan? Sebab, bila hanya mempersiapkan infrastruktur tetapi tidak menyiapkan sarana dengan baik, maka pelayanan tidak akan baik. Sebaliknya bila dipersiapkan dua hal ini tapi pengembangan kawasan di sekitar stasiun tidak dikelola, yang akan terjadi adalah nilai ekonomi dari tranportasi tidak akan dikapitalisasi dengan baik.

Menurut Wiliam, MRT ingin bisa memaksimalkan kapitalisasi ekonomi yang hadir. Nilai ekonomi yang lahir dari adanya investasi MRT. Itulah karenanya, saat prasarana sedang dibangun, sekaligus disediakan sarana, dan dipersiapkan pengembangan properti dan bisnis di kawasan stasiun dan sekitarnya. Ketiganya berjalan bersamaan.

5. Sudah Memulai Pemasangan Interior  

Bila berkesempatan meninjau underground section dengan turun ke bawah, sudah bisa dilihat mulai membangun bentuk interior di dalam stasiun. Tidak ada lagi pembangunan panel dua sisi, pemasangan plafon, pemasangan keramik, platform, dan pemasangan jaringan listrik.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim mengatakan, nantinya stasiun dan kendaraan MRT akan dilengkapi fasilitas untuk membantu mereka yang memiliki disabilitas agar tetap bisa berpergian. Salah satu contohnya adalah adanya ubin kuning bagi penyandang tuna netra. Namun, untuk saat ini MRT nantinya belum ada rencana adanya gerbong wanita, seperti halnya di Commuter Line.

Ilustrasi stasiun bawah tanah MRT fase I (sumber:materijakartamrt)
Ilustrasi stasiun bawah tanah MRT fase I (sumber:materijakartamrt)

6. MRT Merekrut 400 Pegawai Hingga Agustus

Hingga Agustus 2017, pihak MRT sudah melakukan perekrutan karyawan. Dibutuhkan sebanyak 400 pegawai baru. MRT membutuhkan sumber daya manusia (man power) sebanyak 600 orang saat sudah beroperasi. Sebelumnya sebanyak 200 orang sudah direkrut.

Jumlah peminat untuk melamar berbagai posisi yang ada di PT MRT hingga 4 juli 2017 sebanyak 35.032. Jumlahnya sebanyak 40,2 % perempuan, sisanya 59,8% laki-laki yang mengajukan diri untuk bidang operation and maintenance, construction, GRC, dan Support. Mereka berada pada rentang usia 19-26 tahun. Usia produktif kerja. Untuk mencari tahu informasi lowongan, bisa dibuka website www.jakartamrt.co.id.  

7. Pendanaan Fase II dan tambahan Fase I Menunggu Persetujuan

Untuk pendanaan Fase II digabung dengan tambahan pendanaan Fase I (VO) sebagaimana usulan PT MRT Jakarta dengan total senilai Rp 25,1 triliun, saat ini masih menunggu persetujuan DPRD Provinsi DKI Jakarta.

Direktur Keuangan MRT Tuhiyat mengatakan, secara paralel, DJKA Kementerian Perhubungan telah mengajukan perubahan Blue Book menjadi Green Book untuk Pembangunan Fase 2 sebesar USD 1,678,000,000. Namun untuk tambahan pendanaan Fase 1 (VO), DJKA Kementerian Perhubungan masih memerlukan data pendukung dari Pemprov DKI Jakarta. Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta DKI telah bersurat kembali ke Kemenhub agar dapat diproses ke Bappenas dan dimasukkan ke Green Book.

Fase II meliputi koridor Bundaran HI-Kampung Bandan yang memiliki panjang jalur 8,3 KM. Terdiri atas 8 stasiun dengan metode konstruksi bawah tanah dan jalur layang.  

Pembangunan MRT Fase 2 (sumber:materijakartamrt)
Pembangunan MRT Fase 2 (sumber:materijakartamrt)


7. Pengembangan Transit Oriented Development

MRT Jakarta telah mengirimkan surat permohonan kepada Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 2 Mei 2017 untuk menugaskan/menetapkan PT MRT Jakarta sebagai Operator Utama Pengelola Kawasan TOD di Koridor Selatan-Utara Fase I (13 kawasan) dan Fase II (8 kawasan).

Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Agung Wicaksono mengatakan, dengan adanya surat perjanjian penyelenggaraan, maka PT MRT pendapatannya tidak hanya dari penjualan tiket, tetapi juga dari sarana ritel dan pemasangan iklan.

Menghasilkan sinergi dengan perkeretaapian dan pengembangan properti/bisnis, sehingga keuntungan tidak pada pemerintah DKI, tetapi juga kepada masyarakat, perekonomian, nilai lahan, dan konektivitas antar wilayah.  

TOD (Transit Oriented Development) dikembangkan di stasiun MRT. Nantinya tak hanya sebagai lokasi transportasi, melainkan juga lifestyle station (sumber:materijakartamrt)
TOD (Transit Oriented Development) dikembangkan di stasiun MRT. Nantinya tak hanya sebagai lokasi transportasi, melainkan juga lifestyle station (sumber:materijakartamrt)

Ke depannya,stasiun MRT akan dikembangkan menjadi lifestyle stasiun dengan fasilitas minimarket, atm, kedai food and beverage, serta fashion. Untuk fase 1, ada empat stasiun TOD, yakni Stasiun Cipete Raya dan Stasiun Istora (bekerja sama dengan pemilik lahan properti), Stasiun Blok M (terintegrasi terminal bus, pusat hiburan, dan taman kota), dan Stasiun Dukuh Atas (bertemunya jalur komuter (commuterline), kereta Bandara Soekarno-Hatta, halte bus Transjakarta, stasiun Light Rail Transit (LRT), dan circular pedestrian bridge untuk pejalan kaki.

Apa sih sebenarnya Manfaat Pembangunan Berorientasi Transit (TOD)?

* Pengguna transportasi umum dan pribadi mendapatkan layanan lebih baik, waktu tempuh menjadi lebih singkat, dan kemacetan jalan berkurang (Manfaat transit)

* Nilai properti meningkat dengan peningkatan aksesibilitas transportasi dan kemudahan (Manfaat properti)

* Pemilik bisnis memperoleh keuntungan peningkatan aksesibilitas pelanggan dan pegawai (Manfaat ekonomis)

* Pemerintah daerah dapat meningkatkan pendapatan melalui pemasukan konsumsi dan manfaat fiskal

* Mengubah kota dan penduduknya dan menjadi bagian dari program berkelanjutan, peremajaan area transit sekitar stasiun MRT.

Stasiun MRT Dukuh Atas merupakan tempat bertemunya sejumlah moda transportasi (sumber:jakartamrt)
Stasiun MRT Dukuh Atas merupakan tempat bertemunya sejumlah moda transportasi (sumber:jakartamrt)

***

Pembangunan proyek MRT masih berjalan mengejar target operasional Maret 2019. Dengan adanya transportasi umum MRT, masyarakat Jakarta bisa berharap cepatnya waktu tempuh dari dan ke suatu tempat.Dengan MRT, diperkirakan hanya membutuhkan waktu 30 menit saja untuk jarak sepanjang 16 KM dari Stasiun Lebak Bulus ke Stasiun Bundaran Hotel Indonesia. Jeda waktu keberangkatan hanya 5 menit hingga 10 menit.

MRT juga bakal memiliki sistem ticketing khusus dengan teknologi yang memiliki kemampuan untuk tap in dan tap out dengan waktu singkat. Hanya 0,2 detik saja.Tentu saja, nantinya para calon penumpang bisa membelinya di vending machine. Mesin tiket MRT ini bisa untuk membaca enam jenis kartu. Ada dua buah tiket, yakni untuk perjalanan sehari dan multitrip seperti Commuterline.   

Hmm, tentunya jadi tak sabar menunggu MRT dapat beroperasi di Jakarta dan mengubah wajah transportasi umum menjadi lebih baik. Masyarakat yang ingin berkunjung pun diperbolehkan meski saat ini hanya di stasiun Bundaran HI saja.  

--

Tulisan Terkait MRT :

Serunya Mengunjungi Proyek MRT