Budaya Media Sosial dan Opini Cerdas

19 Mei 2017 14:01:39 Diperbarui: 19 Mei 2017 16:07:06 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Kata “Indonesia” apa yang anda pikirkan ?  Apakah bayangan anda merujuk peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini terjadi di Ibukota negara tercinta ?. Atau anda berpikir mengenai fenomena angkutan berbasis internet (online) ?. Mungkin, juga anda memiliki jawaban seperti dunia kuliner yang tiada tandingannya. Ya, negara Indonesia merupakan negara yang memiliki kekhasan dengan beraneka ragam kebudayaan, agama, dan kepercayaan. Sebagai negara kepulauan yang terbesar dan dikelilingi oleh dua samudera membuat Indonesia memiliki kapasitas menjadi negara berkembang sehingga mampu untuk bersaing bersama negara-negara lain.   

Tentu, proses menuju negara berkembang khususnya Indonesia bukan tanpa hambatan. Faktor hambatan tersebut muncul dari sisi internal dan eksternal. Indonesia tidak terlepas dari berbagai persoalan silih berganti menerpa misalnya adanya gejolak politik, ekonomi, dan budaya. Pada saat ini nahkoda pemerintahan di bawah arahan Bapak Presiden Jokowi memiliki beberapa tantangan. Tantangan Indonesia saat ini yang terjadi dan nyata, yaitu serangan berita melalui jaringan media sosial (medsos). Perkembangan teknologi sekarang ini memberikan kekuasaan lebih bagi penggunanya (user) untuk melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan kebutuhan dari penggunanya.     

Keberadaan media sosial yang beragam tentu bermanfaat untuk mencari berita yang terbaru (up to date). Fenomena media sosial sungguh tidak dapat terbendung, ibarat air yang terus mengalir maka media sosial menjadi kebutuhan sehari-hari khususnya bagi masyarakat Indonesia. Dengan media sosial yang terus mengalami perkembangan berdampak pada derasnya informasi khususnya mengenai berita-berita misalnya kesehatan, politik, ekonomi, dan budaya.  Begitu derasnya informasi yang mengalir sikap kita sebagai konsumen media sosial hendaknya melakukan tindakan untuk membaca dengan teliti dan mengontrol diri. 

Secara umum, mengontrol diri merupakan kemampuan orang untuk mengendalikan perasaan dan pikirannya di hadapan berbagai bentuk keadaan. Kemampuan untuk mengendalikan diri tersebut harus dilandasi dengan pengetahuan intelektual serta latihan dari kegiatan sehari-hari yang berpijak pada kesadaran. Secara umum, kesadaran merupakan kemampuan orang untuk menjalani dari saat ke saat dengan sepenuh hati dan pikirannya (Wattimena, 2016: 130). 

Pentingnya usaha mengontrol diri sangat penting karena secara tidak langsung tidak memperkeruh suasana serta tidak menimbulkan persepsi yang tiada berujung yang menyebabkan kegalauan informasi. Tidak sebatas usaha untuk mengontrol diri namun juga harus dilandasi minat untuk membaca dengan teliti.

Di Indonesia minat baca khususnya orang Indonesia termasuk tergolong rendah bahkan kurang peminatnya. Kegiatan membaca khususnya sumber bacaan yang memiliki sumber data yang dapat terpercaya tentu memberikan kita pencerahan terhadap berbagai informasi yang beredar disekitar kita. Namun, semua kembali diri kita secara pribadi dengan membangun atau membantuk sebuah opini yang cerdas. 

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah “Dapatkah kita membangun opini cerdas ?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut diperlukan beberapa langkah, antara lain memiliki sikap kritis dan curiga sampai batas tertentu terhadap sebuah informasi yang beredar. Selain itu, melakukan kritik ideologi secara berkelanjutan terhadap berbagai pikiran yang melintas dipikiran kita. Dengan sikap kritis tersebut kita sebagai pembaca tidak boleh terpengaruh dengan persepsi dan opini yang diarahkan oleh media massa yang tidak bertanggung jawab. Untuk melatih membangun opini cerdas tidak semata melalui proses pendidikan seperti halnya di sekolah. Namun, peranan keluarga juga memiliki andil penting untuk memberikan pengarahan dan informasi sehingga diharapkan setiap masyarakat memiliki opini yang cerdas (Wattimena, 2016: 39-40).      

Daftar Pustaka

Wattimena, Reza A.A. 2016. Tentang Manusia. Yogyakarta: Maharsa.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana