TTM : Teman Tapi Monyet!

24 Februari 2012 17:04:18 Dibaca :
TTM : Teman Tapi Monyet!
-

*

ilsutrasi

*

By : Bung Opik & Langit

*

Room 1509

Sabtu siang dibulan Desember. Panas terik di luar sana sama sekali tak terasa di dalam ruangan ini. Sebuah apartemen mewah dengan desain interior yang minimalis. Terdengar jelas alunan musik jazz memenuhi ruangan, kaleng-kaleng bir berserakan di lantai dan meja ruang tamu. Asbak rokok dengan puntungnya juga nampak di sana. Dinginya ac membuat seluruh ruangan terasa amat sejuk.

Di salah satu kamarnya terlihat sepasang manusia  baru saja menikmati siang. Siang yang hangat di antara lenguh dan peluh. Kini keduanya terkulai lemas di atas ranjang bermotif  garis-garis yang simetris.

Keyla dan Rico, sepasang sahabat berlainan jenis. Tinggal di kota yang berbeda, namun kerap bertemu di akhir pekan. Mereka teman sejak kecil. Dahulu keduanya selalu bersekolah di tempat yang sama, sekolah dasar yang sama, SMP yang sama, hingga SMA.

Saat mereka menginjak bangku kuliah, Rico memutuskan untuk pindah ke Bandung. Sampai saat ini ia masih menetap di sana. Sementara Keyla tetap tinggal dan melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Namun jalinan persahabatan di antara mereka berdua tak pernah terputus, hingga sekarang keduanya sama-sama telah bekerja.

“Aku lebih memilih persahabatan dibandingkan cinta. Apa yang kami lakukan hanyalah untuk senang-senang semata. Kami sama-sama menyukai hubungan ini dan tak ingin orang lain mengusik kesenangan kami. Sampai suatu saat nanti, salah seorang dari kami menikah.” Rico selalu berkata demikian setiap kali temannya menanyakan perihal kedekatan dirinya dengan Keyla. Dan itu juga yang selalu ia katakan di hadapan Keyla.

“Pacar?? Aku sudah punya pacar. Demikian juga dengan Rico.” Keyla pun begitu. Gadis cantik itu selalu memiliki jawaban setiap kali orang-orang terdekatnya menanyakan hubungannya dengan Rico.

Keduanya kini sedang tidur kelelahan di apartemen milik Keyla. Gadis mandiri yang kini tinggal sendiri. Setelah ia bisa mencari uang sendiri, Rico dan dirinya menjalani persahabatan gila yang diselingi acara tidur bersama. Kesepakatan yang tak tertulis. Tujuannya hanya untuk bersenang-senang.

***

Jam dinding di dalam kamar menunjukkan angka tujuh malam. Keyla telah terbangun dari tidurnya, namun ia belum beranjak dari samping  Rico. Matanya menatap tajam ke arah pria yang masih terlelap dalam mimpinya. Sesungguhnya ada lara di dadanya. Ada duka di sana. Ia tak dapat membohongi dirinya. Laki-laki di sebelahnya telah mengisi relung hatinya sejak lama. Bukan hanya persahabatan semata. Tapi cinta.

“Sadarkah kamu? Hampir setiap malam aku merindukanmu?”

“Sadarkah kamu, jika aku tak pernah berhenti memikirkanmu?”

“Sedang apa kamu di tempatmu?”

“Apakah kamu sedang menghabiskan waktu berdua dengan kekasihmu?” Perasaan sakit hinggap di benak Keyla setiap kali pertanyaan-pertanyaan itu muncul.

“Mungkin kamu sama sekali tak pernah memikirkanku. Sejujurnya aku terluka dengan semua ini. Dengan hubungan yang gila ini. Aku harus segera mengakhirinya bukan? Toh cepat atau lambat kita akan berpisah…”

Bulir-bulir air mata mengalir membasahi kedua pipi Keyla. Pada saat yang bersamaan, Rico membuka mata. Dengan cepat Keyla mengenakan bajunya, membelakangi pria itu. Menyembunyikan air matanya dari Rico, kemudian ia melompat dan menuju kamar mandi.

***

Minggu pagi

Jakarta memang tak pernah mati. Kerumunan muda-mudi tampak asyik berlari pagi di areal tugu monas. Tampak ibu-ibu beserta keluarga menggelar tikar di atas rerumputan, menikmati sejuknya udara pagi yang masih segar.

Keyla dan Rico.  Keduanya kini tengah menikmati sarapan pagi di restoran lantai dasar apartemen yang letaknya di jantung kota Jakarta.  Wajah-wajah yang ceria seperti biasa. Seolah tak pernah terjadi apa-apa. Ada luka di hati Keyla. Hanya saja Rico tak menyadarinya karena Keyla memang lebih suka menikmati sendiri. Itu lebih baik baginya. Bukankah persahabatan yang lebih mereka pilih ketimbang cinta?

“Kamu pulang ke Bandung sore ini?” Tanya Keyla di sela-sela makan paginya.

“Iya. besok pagi ada meeting penting di kantor. Setelah sarapan aku cabut dari sini. Mau ketemu teman di suatu tempat” Jawab Rico.

“Oh, Ok.” Keyla menjawab tanpa memandang mata pria di depannya. Hanya senyum yang tersungging di bibirnya. Senyuman luka. Beberapa saat berlalu tanpa suara, namun tak lama kemudian Keyla angkat bicara.

“Kita…” Sebuah kata menggantung. Rico menatapnya lekat.

“Kita kenapa Key?” Tanya Rico penasaran.

“Kita akhiri hubungan gila ini sampai di sini” Sebuah jawaban mengejutkan dari bibir Keyla yang membuat Rico menatap heran. Gadis itu memilih menunduk tanpa berani menatap mata Rico. Bukan ia takut, hanya saja untuk menyembunyikan luka di hatinya.

“Hmmm… what’s wrong, Key?” Tanya Rico lagi

“It’s nothing! Mungkin… dalam waktu dekat aku akan menikah.” Jawab Keyla gelisah.

Tanpa menunggu, Keyla beranjak dengan cepat dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah lift, kembali menuju apartemennya.

***

Dua bulan telah berlalu. Rico masih tetap sibuk menjalani rutinitas kehidupannya. Seorang pengusaha muda yang kerap nongkrong bersama teman-temannya. Satu hal yang berbeda, ia tanpa perlu lagi bolak-balik ke Jakarta untuk menghabiskan akhir pekan bersama Keyla. Karena memang itulah permintaan Keyla.

“Mungkin Ia masih enjoy dengan kehidupannya. Ia masih bersenang-senang dengan kekasihnya. Namun aku harus jujur tentang ini kepadanya” batin Keyla. Gadis itu tengah di rundung gelisah di sudut ranjangnya.  Sore ini ia tak ada acara. Secepat kilat ia keluar apartemen, menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Ia menelusuri jalanan Jakarta, menuju tol ke arah Bandung.

***

Cahaya senja berwarna kemerahan sedang menghiasi langit sore. Tak jauh dari sebuah rumah yang dibangun bergaya arsitektur khas rumah joglo, sebuah mobil Pajero Sport berwarna hitam terlihat mendekat. Pemiliknya turun dari sana dengan dandanan seadanya. Dialah Keyla, dan rumah di hadapannya adalah milik Rico. Ragu-ragu gadis itu menekan bel dari luar pagar.

Seorang wanita separuh baya keluar dari rumah itu. Ia mengenali sosok Keyla dan menyuruhnya masuk. Rumah ini tak asing bagi Keyla. Mobil sedan di depan sana menandakan pemiliknya sedang berada di rumah. Tanpa ragu Keyla masuk ke dalam, menuju kamar Rico.

“Klik!”

Pintu tebuka lebar, sebuah pemandangan yang sama sekali tak ia harapkan. Rico bersama seorang wanita.

“Sorry…” Gumam Keyla, diiringi suara pintu yang kembali tertutup. Ia kembali ke mobilnya dengan tergesa-gesa, tanpa menghiraukan tatapan heran dari pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Rico.

***

Setelah kedatangan Keyla yang sama sekali tak disangka-sangka, Rico sudah berulang kali mencoba menghubunginya. Sayangnya Keyla sama sekali tak menjawab panggilan Rico ke ponselnya. Larut malam, di tengah kegelisahan yang mendalam, Rico coba membuka akun FB nya. Terdapat sebuah pesan di sana. Dari Keyla.

“Dear Rico. Sorry, mungkin kedatanganku kemarin mengganggumu. Aku hanya ingin memberitahumu, di rahimku telah tertanam darah dagingmu. Seumur hidup hanya dengan kamu aku melakukan hubungan itu. Kadang hidup ini tak bisa di duga bukan? Dan aku sama sekali tak menuntutmu. Aku hanya ingin kamu tau.  Kadang aku berpikir, aku ini bodoh. Melakukan hal seperti itu, dengan orang yang bahkan sama sekali tak mencintaiku. Tapi satu hal yang kamu harus tau. Aku tak akan pernah bisa melakukannya tanpa cinta. Meski rasa ini hanya miliku saja. Meski ada luka di setiap akhirnya. Kamu lebih memilih persahabatan dibandingkan cinta bukan? Setelah ini aku akan pergi dan tak akan pernah kembali di hadapanmu lagi. Keyla.”

***

Dua koper besar telah di masukkan ke dalam taksi. Di lobby apartemen, Keyla berjalan menuju pelataran dengan membawa sebuah travel bag berukuran sedang yang ia seret perlahan. Meninggalkan kamar apartemen yang beberapa tahun ini ia huni. Meninggalkan segala kenangan bersama pria yang juga sahabatnya. Kenangan yang sesungguhnya tak kan pernah bisa ia lupakan. Sebab kenangan itu kelak akan mengubah hidupnya.

Tekadnya sudah bulat. Ia ingin membuka lembaran baru di negeri orang. Kakaknya di London menyuruhnya ke sana.

“Kalau kamu pergi, aku tak akan pernah memaafkanmu…” Keyla terkejut mendengar suara pria yang berbicara kepadanya dari arah belakang. Suara yang sangat ia kenal. Membuat langkah kakinya tiba-tiba saja terhenti.

Rico. Pria itu tengah berdiri di sana. Menatap Keyla, kemudian mendekati dan meraih tubuh Keyla dalam pelukannya. Keyla hanya pasrah.

“Bodoh! Aku juga ngga mungkin melakukan itu dengan kamu kalau tanpa cinta….”

***

Rico lalu menjelaskan semuanya. “Wanita yang kamu lihat waktu itu, sepupuku yang baru datang dari luar kota. Jangan berpikir macam-macam.” ejek Rico sambil menempelkan telunjuknya di kening Keyla.

“Kadang aku berpikir, apa benar kamu memiliki pacar? Selama ini, kamu sama sekali ngga pernah mengenalkannya padaku.” Lanjut Rico lagi.

“Kamu bohong kan? Untuk menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya? Yang kamu cinta  itu cuma Rico si pria ganteng ini, Ya khan?” tanya Rico sambil tersenyum jahil.

“Zzzzzzzzzzzzzzzz… MONYEEEETT!!!”

***

Langit Queen

/queen

Istri Nakal... Founder Fiksiana Community...

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?