Cerpen Malam Minggu

03 Desember 2012 02:24:54 Dibaca :



CERPEN MALAM MINGGU

"Sebungkus pisang keju coklat yang lezat"

Ketika itu seorang pemuda yang bekerja sebagai sales pulang dari luar kota untuk menemui kekasihnya yang sudah 6 bulan tidak bertemu,segera saja sang pacar mengajak untuk melepas kerinduan dengan menikmati makan malam pada sebuah cafe anak muda yang ramai di malam minggu.
"Yank...cafe ini biasa tempat aku bersama teman-teman nyantai kalo lagi suntuk..''..menu di sini lezat-lezat.."ucap sang gadis saat motor bebek berbadan usang yang di tunggangi mereka memasuki gerbang cafe berwarna putih biru.

Tak lama kemudian bebek itu pun di parkirkannya di antara ninja,dan satria-satria tangguh yang berbaris rapi,sejenak sang pemuda mengelus dada membandingkan dengan apa yang ia miliki.Huuft..."kapan ya aku bisa punya kaya gini"..ia bertanya-tanya dalam hati,namun secepat kilat hatinya menjawab.."Aku harus memperjuangkannya sendiri"..,Sembari melepas helm bututnya,pemuda itu melempar pandangan pada sisi gerbang cafe,tepat di bawah pagar pembatas cafe dan trotoar jalan duduklah seorang janda tua dengan 3 anaknya yang dekil beralas karung putih menatap kosong cawan plastik merah berisi lembaran kertas hijau dan logam logam rupiah.

"Yuk yank masuk...rame banget,cepet kita cari tempat"..Sang gadis menarik lengan pemuda,segera saja dua sejoli itu mencari meja dan kursi kosong di dalam cafe.Sang pemuda melihat sekeliling cafe,apa yang direkam pada mata tajamnya adalah ramai pemuda-pemudi kota dengan kehidupan yang sombong dan glamor."..Waah...ini tempatnya anak-anak orang kaya ya dik..?"..semua muda-mudi disini pembicaraanya tinggi semua..".pemuda itu pun membuka pembicaraan di meja cafe sembari menatap mata kekasihnya dengan penuh kerinduan.

Tak lama kemudian,menu pesanan tersaji di hadapan mereka,dua porsi kue tart pisang,dengan irisan potongan keju serta coklat cair dan susu putih kental tersaji sangat lezat.Keduanya menikmati santai sajian itu dengan gaya kebarat-baratan,karena mengikuti cara orang-orang di sekitar mereka.”Pisau di kiri dan garpu di kanan”….Oh begitu ya”..gumam hati pemuda,namun sang pemuda risih dengan hal demikian,ia meletakan pisau dan garpunya lalu meminta pelayan untuk mengambilkan sendok makan.Setelah ia mendapatinya pemuda itupun dengan tenang menaikan kaki kanannya di kursi,lalu mulai menikmati irisan setiap potong kuenya.Sementara beberapa pasang mata melirik ke arah mereka,mata-mata lemah yang tertuju pada sang pemuda seakan berkata.."dasar wong deso".

"Maaf dek kakak lebih suka begini maklum biasa di warteg".Sambil tersenyum memandangi paras kekasihnya yang cantik dan manis itu,sang pemuda seakan mencairkan suasana yang beku,kekasihnya hanya tersenyum mahal,seakan berat bibirnya untuk menampakan giginya yang putih rapi itu.Sekali lagi pemuda mengeluskan dadanya,"Mungkin aku tak bisa seperti mereka,pendidikan yang kudapatkan sangatlah jauh berbeda"...gumamaan hatinya mengiringi kunyahan kue yang perlahan masuk di mulut,menembus tenggorokan,lalu jatuh menyusuri usus-usus kebalnya.Pada potongan kue terakhir pemuda itu menatap keluar jendela,diantara lalu lalang muda mudi itu seorang bocah kecil menarik ekor-ekor belalang yang siap meluncur mengelilingi gemerlap kota dan dinginnya malam,di perhatikannya si bocah dengan lincah menyambar gumpalan-gumpalan kertas dari tangan-tangan halus tanpa cela.

"Aku sekarang tulang punggung keluarga,maaf kalo kakak terlalu lama pergi meninggalkan mu,kakak harap kamu bisa mengerti ya dik..”.Senyum lugu sang pemuda tercurah tulus dan manis,matanya memancarkan kepribadian yang bijaksana dan dewasa,tuturnya rapi tanpa ragu,sang kekasih pun menatap mata pemuda dengan rasa yang dalam,gadis muda berusia 21 tahun itu seakan ingin berkata jujur jika ia sudah memiliki laki-laki lain semenjak 4 bulan yang lalu.Hal itu di karenakan ia butuh seseorang yang dekat yang mampu menjadi tempat bersandar setiap waktu,namun ia tak mampu untuk mengatakannya,lidahnya kelu,hatinya mengunci semua kata,matanya terpaku pada garpu yang di putar-putar di kedua jarinya, ia berusaha untuk memperpanjang umur hubungan dengan pemuda yang sangat di cintainya selama 4 tahun yang saat ini ada di sampingnya.Ia tak bisa membohongi hati kecilnya,ia tahu persis jika pemuda itu adalah sosok laki-laki baik dan setia yang selalu ia tunggu kepulangannya dari luar kota selama 4 tahun berpacaran.Gadis itu menahan kata-katanya,ia berharap ada kekuatan besar yang mengukuhkan cintanya pada pemuda itu.Ia berdoa dalam hatinya agar tuhan menunjukan seorang pemimpin yang mampu membimbing jalan hidupnya dengan arif dan bijaksana untuk masa depannya.

“A’…Bungkus yang seperti ini satu ya”…suara lantang sang pemuda memecahkan lamunan gadis itu,..”Buat apa kak..?,hmm..enak ya..hee,he..”,Sang kekasih pun tersenyum lepas,giginya terlihat seperti susunan jagung muda,bibirnya tersungging manis merekah bagai buah delima terbelah.”Kau begitu indah…aku berjanji akan menjaga mu dengan segenap jiwa”…untaian kata-kata seakan mengalir tenang pada mata pemuda itu,sinar matanya melawan partikel-partikel cahaya lampu sorot café yang berpijar silau menusuk retina,namun tak mampu menghalangi tatapan matanya pada ke dua bola mata indah gadis yang sangat ia cinta.

Seaorang pelayan cafe dengan seragam putih dan garis-garis biru di lengan bajunya mendekati pemuda itu,seraya memberikan bungkusan kue tart pisang keju dan coklat yang sudah rapi terbungkus pada kotak kue didalam plastik putih,pelayan café itu memberikan secarik kertas untuk pembayaran.Pemuda dan kekasihnya berdiri serentak kemudian berjalan bersama menuju kasir yang tak jauh dari meja mereka,pemuda itu mengeluarkan dompet kulit berwarna coklat tua,sisi-sisi dompet itu jahitannya sudah terlepas,sehingga jika di isi uang koin sudah pasti uang koin itu akan lolos melalui celah yang sudah menganga.Ia menarik selembar biru yang masih terlihat baru,kemudian dengan ramah ia berpamitan kepada penjaga kasir yang berjam-jam menebar senyum di mata pengunjung yang datang.
”Terimakasih ya teh,.mari A’..permisi..".Senyum pemuda itu seakan memacu semangat semua karyawan café untuk mempertahankan senyum ramah mereka kepada pengunjung.

Langkah sepasang kekasih itu seirama,sang gadis memegang jemari pemuda menyusuri susunan kursi dan meja menuju pintu keluar café,mereka adalah pasangan yang serasi,sudah sepatutnya pemuda yang ramah tamah itu mendapati gadis muda,cantik jelita dan pandai menjaga perasaan lawan jenisnya.Kemandirian,kedewasaan,tampan,berani,serta pandai bertutur kata telah memikat hati sang gadis pada pemuda berusia 23 tahun yang sudah dikenalnya cukup lama itu.

Kini mereka berdua sudah di lapangan parkir café,sementara sang gadis masih menuntun pemuda itu kearah tempat mereka memarkirkan motor yang sudah berpindah tempat,namun seketika pemuda itu menarik tangan sang gadis menuju pintu gerbang café,..”Dik kita kesana dulu yuk’’.Pemuda itu mengajak sang gadis untuk mengikuti langkah kakinya,”Kemana lagi kak..?”..”Sst..dah ikut aja…yuuk..”..pemuda itu tersenyum menatap kekasihnya lalu sekejap mengarahkan kepalanya pada seoarang janda tua dan 3 orang anaknya yang menahan dinginnya malam kota Bandung di trotoar gerbang café.

“Ibu… ini untuk ibu dan anak-anak…mungkin ibu sudah mencicipi medapati uang,tapi ini makanan di dalam café sangat lezat sekali rasanya,mungkin juga ibu belum pernah mencicipinya,ini bu…silahkan di buka dan di cicipi..”.

Janda tua dan ketiga anaknya terperangah melihat dan mendengar kata-kata pemuda itu,mereka menopang dagunya keatas membenarkan jika selama ini mereka duduk disana hanya mendapati uang dari pemberian pengunjung café yang lalu lalang keluar masuk gedung berkaca bening tembus pandang dengan susunan meja dan kursi yang rapi.Sementara sang gadis menatap sang pemuda dengan mata berkaca-kaca,ia tidak menyangka jika ketika menikmati kue lezat di dalam café tadi sang kekasihnya itu juga memikirkan perut-perut kosong yang duduk beralaskan karung putih yang saat ini ada di hadapannya.

Gadis itu mendekat dan memeluk kekasihnya ,ia bersyukur kepada tuhan yang telah memberikan jawaban atas pertanyaanya,ia bersyukur dan sangat-sangat menyukuri jika ia telah di bukakan mata hati tentang sebuah ke muliaan.
Dan terakhir ia memeluk erat sang pemuda dengan segenap jiwa,menyesali atas apa yang telah ia perbuat,kemudian berbisik syahdu ; “Ya tuhan,jangan pisahkan aku dari orang ini”..

Oleh; Primanata.D

PERUSAHAAN PENCIPTA KATA KATA TANPA HAK CIPTA

/pujanggaindonesia

Makna kata sebagai di pelengkap, arti kata sulit diungkap. Bila kata tak sudi mendekap, Maaf kan diri penuh khilaf. Sudi hati membaca kata ini, bukanlah puisi hanya sajak berujung I. Bila hati adik berenggan diri, hamba disini ikhlas memberi. Bukan sang kisah raja dahulu kala, bukan jua dongeng malam sang bunda. Hanya jenuh di iring waktu, tuangkan kata di cangkir rindu..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?