Penolakan di Pemandian Umum

09 Agustus 2012 19:32:14 Dibaca :

Bulan Ramadhan tidak hanya bulan yang penuh berkah. Bulan suci ini juga membawa begitu banyak hikmah. Dalam kesempatan pagi menjelang sahur ini, sebuah kisah hikmah yang dinukil dari sebuah cerita sufi setidaknya bisa menjadi cermin bagi kita semua.


Alkisah, seorang sufi bernama Ibrahim bin Adham memasuki sebuah tempat pemandian umum. Namun, petugas yang berada di situ berusaha mencegahnya. Ia meminta uang untuk tiket masuk ke tempat tersebut.


Ibrahim bin Adham menggelengkan kepala karena memang tak punya uang sepeser pun. Si penjaga kemudian berkata, “Apabila tak punya uang, engkau tidak boleh masuk.”


Seketika tubuh Ibrahim bin Adham tersungkur ke tanah. Ia lemas, mulutnya bergetar. Kemudian menangis dan mengeluarkan ratapan-ratapan kesedihan. Sontak para pejalan di situ berhenti dan berupaya menghiburnya.


Salah seorang di antara mereka lantas menawari Ibrahim bin Adham uang untuk masuk ke tempat pemandian umum tersebut. Namun, uluran tangan itu ditolaknya.


“Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat tersebut. Aku menangis karena teringat sesuatu saat petugas itu meminta uang untuk tiket masuk,” kata Ibrahim bin Adham.


”Kalau aku ditolak ke tempat pemandian umum itu karena tak punya tiket masuk, lalu apa yang kupunya supaya diizinkan Allah memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku padaku jika malaikat penjaga pintu surga menanyakan amal salih yang aku bawa sebagai tiket masuknya? Apa yang telah aku kerjakan di dunia yang cukup berharga sehingga aku bisa masuk surga?” tanya Ibrahim bin Adham pada dirinya sendiri.


Dia kemudian melanjutkan ratapan kesedihannya. ”Sama ketika aku ditolak masuk ke tempat pemandian umum itu, tentu aku tidak bakal diizinkan masuk surge jika tak punya amal salih apa pun. Karena itulah aku menangis dan meratap,” ucapnya. Orang-orang di sekelilingnya terkesiap saat mendengar ucapan tersebut. Mereka ikut menangis dan menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat.


Wallahu ‘alam.


Eko Prasetyo

/prasetyo_pirates

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Hingga Januari 2015, penggemar wedang kopi ini baru menulis 30 buku. Kini ia melanjutkan sekolah di Pascasarjana Unitomo Surabaya. Alasan utamanya kuliah S-2 adalah menghindari omelan istri.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?