Epistemologi Kata "Jancok" Dalam Budaya

18 Juni 2017 13:32:22 Diperbarui: 18 Juni 2017 13:43:01 Dibaca : 45 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Mungkin sebagian rekan-rekan pernah mendengar kata Jancok, Dancok, atau disingkat menjadi Cok (juga ditulis Jancuk atau Cuk, Ancok atau Ancuk) yang diucapkan oleh sebagian masyarakat Jawa Timuran. 

Kata “Jancok” merupakan kata yang tabu digunakan oleh masyarakat Pulau Jawa secara umum karena memiliki konotasi negatif. Namun, penduduk Surabaya dan Malang menggunakan kata tersebut sebagai identitas komunitas mereka sehingga kata “Jancok” memiliki perubahan makna ameliorasi (perubahan makna ke arah positif), bahkan digunakan sebagai kata sapaan untuk memanggil di antara teman.

Normalnya, kata tersebut digunakan sebagai umpatan pada saat emosi meledak, marah, atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok meluas hingga menjadi simbol keakraban dan persahabatan khas di kalangan sebagian arek-arek Suroboyo.

Etimologi Jancok

Menurut Kamus Online Universitas Gadjah Mada , istilah “jancuk, jancok, diancuk, diancok, cuk, atau cok” didefinisikan sebagai “sialan, keparat, brengsek (ungkapan berupa perkataan umpatan untuk mengekspresikan kekecewaan atau bisa juga digunakan untuk mengungkapkan ekspresi keheranan atas suatu hal yang luar biasa)”.

Sejarah Kata Jancok

Kata ini memiliki sejarah yang masih rancu. Kemunculannya banyak ditafsirkan karena adanya pelesetan oleh orang-orang terdahulu yang salah tangkap dalam pemaknaannya, dimana versi-versi ini muncul dari beberapa negara tetangga yang orang-orangnya mengucapkan kata yang memiliki intonasi berbeda, namun fon-nya hampir sama. Dikarenakan orang-orang dari beberapa negara tetangga tersebut mengucapkan kata yang hampir mirip kata “jancok” itu dengan ekspresi marah atau geram dan semacamnya, orang-orang Jawa dulu mengartikan kata “jancok” (menurut lidah orang Jawa) adalah “kata makian”.

Dalam perkembangannya, setidaknya ada empat versi asal mula kata "Jancok":

>> Versi Kedatangan Bangsa Arab

Salah satu versi asal mula kata “Jancuk” berasal dari kata “Da’Suk.” Da’ artinya “meninggalkanlah kamu”, dan Assyu’a artinya “kejelekan.” Kata tersebut jika digabung menjadi kata “Da’suk yang  memiliki makna “tinggalkanlah keburukan”. Kata tersebut diucapkan dalam logat Surabaya menjadi “Dancok”.

>> Versi Penjajahan Belanda

Menurut Edi Samson, seorang anggota Cagar Budaya di Surabaya, istilah Jancok atau Dancok berasal dari bahasa Belanda “Yantye Ook” yang memiliki arti “Kamu Juga”. Istilah tersebut popular di kalangan Indo-Belanda sekitar tahun 1930-an. Istilah tersebut diplesetkan oleh para remaja Surabaya untuk mencemooh warga Belanda atau keturunan Belanda dan mengejanya menjadi “Yanty Ok” dan terdengar seperti “Yantcook”. Sekarang, kata tersebut berubah menjadi “Jancok” atau “Dancok”.

>> Versi Penjajahan Jepang

Kata “Jancok” berasal dari kata “Sudanco” pada zaman kerja paksa romusha yang artinya “Ayo Cepat”. Karena kekesalan pemuda Surabaya pada saat itu, kata perintah tersebut diplesetkan menjadi “Dancok

>> Versi Umpatan

Warga Kampung Palemahan di Surabaya memiliki sejarah oral bahwa kata “Jancok” merupakan akronim dari “Marijan ngencuk” (Marijan berhubungan badan). Kata “encuk” merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti “berhubungan badan," terutama yang dilakukan di luar nikah. Versi lain menyebutkan bahwa kata “Jancuk” berasal dari kata kerja “diencuk”. Kata tersebut akhirnya berubah menjadi “Dancuk” dan terakhir berubah menjadi “Jancuk” atau “Jancok”.

Penggunaan Kata Jancok

Dalam keseharian, tata bahasa kata “Jancok” sering digunakan dalam:

> Kata Seru

Kata ‘Jancok”, atau “cok” dalam bentuk singkatnya, digunakan sebagai kata seru untuk menunjukkan perasaan yang muncul, baik perasaan yang bersifat negatif maupun positif. Contoh kalimat:

- "Cok, ora usah cekel-cekel!" (Cok, tidak usah pegang-pegang!)

- "Wih, apik'e, Cok!" (Wow, bagusnya, Cok!)

> Kata Sapaan

Diantara para pengguna, kata “Jancok” juga digunakan sebagai kata sapaan untuk mengungkapkan kemarahan atau menunjukkan kedekatan hubungan di antara teman. Karena konotasi buruk yang melekat pada istilah “Jancok”, seseorang akan menjadi marah jika dipanggil menggunakan kata tersebut. Namun, hal tersebut tidak berlaku di antara teman karib, yang malah menunjukkan bahwa kedekatan hubungan mereka membuat mereka tidak akan saling marah jika dipanggil dengan kata “Jancok”. Meskipun tergolong bahasa gaul anak muda, kata tersebut masih terasa tidak pantas untuk digunakan untuk memanggil orang tua karena arti sebenarnya adalah perkataan kotor. Contoh kalimat:

- "Cok, nang endi ae koen?" (Cok, kemana saja kamu?)

- "Ojo meneng ae, Cok!" (Jangan diam saja, Cok!)

- "Mlaku-mlaku yok, Cok." (Jalan-jalan yuk, Cok)

- "Jancuk, yok opo kabare rek ?" (Jancuk, gimana kabarnya kawan)


Nah, mungkin itulah sedikit pembahasan dari saya. Mudah-mudahan dapat menjadi wawasan baru dan bermanfaat buat rekan-rekan sekalian.


Jakarta, 18 Juni 2017

Prabu Bathara Kresno


Ditulis ulang dari: https://bathara-kresno.blogspot.co.id/2014/01/sejarah-kata-jancok.html


Prabu Bathara Kresno

/prabubatharakresno

Dalam Asa, Rasa, Cipta, Karsa dan Karya Kehidupan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana