Tangis Sang Perawan Setelah Kencan Malam Mingguan

26 Maret 2011 13:07:51 Diperbarui: 26 Juni 2015 07:25:17 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Tangis Sang Perawan Setelah Kencan Malam Mingguan
1301139613713598920

from google

Pukul 18.35, rumah papa Nuniek.

"Jangan ikuti aku lagi pa. Jangan permalukan aku sekali ini. Atau aku akan pindah ke rumah mama lagi!" Kata Nuniek mengancam papanya yang malam mingguan bulan lalu menguntit dia dan pria yang pedekate dengannya.

Date yang tadinya baik-baik saja jadi kacau saat si pria mau mencium tangan Nuniek langsung si bapak nongol tiba-tiba dan mencengkram krah baju si pemuda.

"Hei, mau kau apain anakku, ha? Mau kau perkosa?"

Pelayan restoran pun melerai mereka, Nuniek menjerit marah dengan papanya dan sang papa pun melepaskan cengkramannya. Her si pemuda langsung minta maaf dan permisi pulang.

"What? Papamu selalu menguntit setiap kamu date? Gak banget deh. Kamu wanita pujaanku banget, tapi papamu gak gue banget. Bye Nuniek. Aku gak kuat dimata-matai terus begini. Aku nyerah!"

Kedua orang tua Nuniek bercerai saat dia masih SMP, papanya nikah lagi dengan tante Jun dan mamanya menikah pula dengan om Bram. Alasan keduanya berpisah sangat tidak jelas bagi Nuniek dan Adi adiknya. Lagian apa perlu alasan ya? Kalau mau cerai ya cerai saja, memang sudah tak cinta, mau apa lagi coba?

Sampai SMA sang perawan ikut mamanya, tetapi setelah kuliah dia pindah ke rumah papanya yang lebih dekat dengan tempat kuliah. Papanya senang ada Nuniek di rumahnya, karena anak dari istrinya tiga orang kuliah di luar kota semua. Sementara papa Nuniek dan tante Jun sepakat tidak punya anak lagi dari pernikahan keduanya, enggak tahu kenapa.

"Oke, papa janji. Swear! Tidak membuntuti kamu lagi. Tapi HP kamu selalu aktif kan ya? supaya papa bisa sesekali tanya keadaan kamu." Sang papa angkat tangan kanan berjanji bak pramuka. Dia tidak ingin sang buah hati ngambek dan pindah ke rumah mantan istrinya lagi. Toh HP dia dan Nuniek punya fasilitas GPRS, jadi kemana sang buah hati bisa dipantau selagi mereka pergi ke tempat yang ada sinyalnya.

"Jangan terlalu khawatir dong pa. I'm not a girl anymore coz i'm a lady now." Yakin si putri menenangkan sang papa yang gundah.

Pukul 19.02, rumah papa Nuniek.

Dan datanglah pria ganteng itu, Bob. Menyalaminya dan membawa pergi anaknya untuk date mereka yang pertama, menggunakan mobil jenis city car yang sederhana, tetapi ada AC nya. Jadilah.

Mall xxx, check in. Pukul 1935.

Pasti nih anak muda jam beginian nonton film dulu, ya? Gelap-gelapan di sana, si Bob tangannya gerayangan nakal gak ya?

Papa ingin merangsek ke mall itu menguntit puterinya, tetapi di sana tidak mungkinlah mereka berbuat yang terlalu gimana-gimana, kan banyak orangnya?

Restoran yyy, Check in. Pukul 21.15.

Nah, mau nembak nih si cowok. Pasti buat candle light dinner gitu deh. Tetapi tidak mungkin restoran mewah yang satu porsi 500 ribuan gitu. Mobil yang menjemput juga biasa. Ya, sudah, makan di tempat sederhana biasanya paling-paling setengah jam. Jam 10 malam  paling lama udah pulang. Tidak usah telepon dululah.

Hotel zzz , check in. Pukul 22.15.

Ha? Masuk ke hotel bintang 5? Gila! Nonton di mall yang biasa, makan malam di restoran yang sederhana. Nah, giliran mau tidurin anaknya diajak ke hotel bintang 5! Dasar buaya!

Tanpa pikir lama-lama, sedan mewah papa Nuniek keluar dan meluncur ke hotel yang hanya 15 menit perjalanan dari rumahnya kalau lagi ngebut-ngebutnya.

"Papa! Jemput Nuniek papa!Hiks...Hiks.." Nuniek menelepon papanya sepuluh menit kemudian saat sedan masih ngebut kesetanan. Suara tangis sang puteri kesayangan membuat pedal gas tambah ditekan kuat nian.

"Iya, sayang. Tunggu, papa ke sana sekarang juga!"

Baru 5 menit, mobil sampai.

"Kok cepet banget papa? Kan baru 5 menit tadi aku nelpon papa?" Nuniek terheran-heran bengong, sambil sesekali sesengukan menyisakan tangisnya.

"Mana si Bob? Biar kutampar dia! Kau diapakannya, ha?" Sang papa mau keluar mobil marah-marah, tetapi si perawan yang sedih mencegahnya.

"Tidak usah papa. Kita langsung pulang saja. Ini bukan salah dia.."

"Kenapa kamu menangis?" Papa penasaran sambil menyetir sekali ini dengan pelannya.

"Tadi kami nonton dan makan malam, lalu Bob ajak jadian. Aku bilang mau, tetapi aku ingin tahu dulu yang sejujurnya pekerjaan dia apa. Lalu dia ajak aku ke hotel bintang lima itu papa. Dan ternyata, kerjaan Bob hanya room boy di sana. Jadi mobil tadi hanya pinjaman saja, dan pertemuan kami yang terjadi di hotel itu dua minggu lalu, adalah saat dia menunggu di lobby saat pulang kerja. Aku sedih, papa. Aku ternyata suka sama lelaki yang gaji sebulannya tidak sampai dua juta.  Sedangkan uang saku aku dari papa sebulan saja sudah 2,5 juta. Mana bisalah dilanjutkan, padahal aku sudah mulai suka dengan dia...Hiks..Hiks.." Nuniek menangis sedikit lagi.

Sang papa tersenyum bahagia. Ealah, ternyata itu toh yang membuat anak perawannya nangis-nangis minta jemput setelah check in di hotel bintang lima. Kalau itu masalahnya, ya gak jadi deh meninju si Bob yang date sama anaknya.

Ternyata tangis yang pecah dari sang perawan, akibat kecilnya gaji pekerjaan bukan karena hal-hal lain yang sering pecah saat malam mingguan.

Ya, sang papa yang tadinya mau ngamuk memukuli si Bob malah kasihan. Si pemuda bagaikan pungguk merindukan rembulan, karena Nuniek adalah seorang lady yang realistis soal kebutuhan hidup dibandingkan jumlah gajian.

Posma Siahaan

/posmasiahaan

TERVERIFIKASI

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL prosa fiksi

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana