Petrus Kanisius (Pit)
Petrus Kanisius (Pit) karyawan swasta

Belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Hijau highlight

Ini yang Unik dan Menarik dari Stasiun Penelitian Cabang Panti

13 Februari 2017   19:43 Diperbarui: 20 Februari 2017   13:27 25 5 2
Ini yang Unik dan Menarik dari Stasiun Penelitian Cabang Panti
Kantong Semar biasanya hidup di hutan rawa gambut dan di hutan pegunungan Gunung Palung. Foto dok GPOCP dan Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, beragam jenis hutan yang tersebar di wilayah hutan tropis Gunung Palung, tidak hanya hutan tetapi juga satwanya. Salah satunya adalah orangutan sebagai salah satu satwa endemik yang ada di Dunia. Setidaknya itulah yang menjadi daya tarik bagi para ilmuan baik dari dalam atau pun luar negeri untuk mengunjungi tempat ini, lebih tepatnya di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung.

Tentu, hal ini menjadi kekayaan sekaligus unik dan terlengkap  yang mungkin di tempat lain belum tentu ada. Apa saja kah yang unik dari hutan di Cabang Panti, Gunung Palung?.

Pertama, Di Gunung Palung  setidaknya terdapat tujuh jenis hutan dari 8 tipe hutan yang berbeda, hutan yang dimaksud adalah; 1. hutan rawa gambut di ketinggian 5-10 mdpl,  2. Kedua, hutan rawa air tawar di ketinggian 5-10 mdpl, 3. Hutan tanah alluvial di ketinggian 10-50 mdpl, 4. Hutan batu berpasir dataran rendah di ketinggian di 20-200 mdpl, 5. Hutan granit dataran rendah di ketinggian  200-400 mdpl, 6. Hutan granit dataran tinggi di ketinggian  350- 800 mdpl,  7.

Hutan Pegunungan di ketinggian 750-1100 mdpl (Marshall, Andrew j, 2008) dan 8. Hutan kerangas yang paling sedikit luasannya yaitu 7,6 ha dari total luas Cabang Panti. Lokasi ini merupakan lokasi yang cocok untuk menganalisa perilaku reproduksi tumbuhan berkayu di level alpha dan beta dari keberagaman jenis tumbuhan. Selain itu, bisa meneliti perilaku beragam satwa seperti orangutan dan beberapa satwa lainnya seperti kelempiau, kelasi serta satwa lainnya. Burung endemik seperti enggang, ayam hutan dan satwa lainnya.

Sketsa Jenis dan tipe hutan di Gunung Palung. Foto dok. GPOCP dan National Geographic Maps
Sketsa Jenis dan tipe hutan di Gunung Palung. Foto dok. GPOCP dan National Geographic Maps

Sebagian besar kawasan SPCP merupakan hamparan perbukitan dan gunung. Hanya rawa gambut dan rawa air tawar yang merupakan hamparan dataran rendah. Di area SPCP terdapat hamparan Gunung Palung dengan ketinggian 1.116 mdpl dan Gunung Panti dengan ketinggian  1.050  mdpl.

Keunikan jenis dan tipe hutan tersebut memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan makhluk hidup dan manusia lebih khusus sebagai perpustakaan yang paling penting bagi ilmu pengetahuan  dan penelitian.

Kedua,tidak hanya penelitian yang menyangkut ekologi dan biologi satwa dan tumbuhan seperti primata terutama orangutan tetapi juga pendataan  jenis tumbuhan  di TNGP tetapi juga penelitian jenis-jenis tumbuhan dipterocarp (meranti dan balau/Shorea, mersawa/Anisoptera, keruing/Dipterocarpus dan kapur/Dryobalanops).

Tipe habitat hutan dataran rendah Aluvial, dimana terdapat banyak ditumbuhi tumbuhan Dipterocarpaceae di Gunung Palung. Foto dok. Wahyu Susanto, Yayasan Palung (GPOCP)
Tipe habitat hutan dataran rendah Aluvial, dimana terdapat banyak ditumbuhi tumbuhan Dipterocarpaceae di Gunung Palung. Foto dok. Wahyu Susanto, Yayasan Palung (GPOCP)

Selain itu juga terdapat tumbuh-tumbuhan obat, jenis lumut, paku-pakuan, jenis palem, liana dan kantong semar serta tumbuhan lainnya. Obyek lainnya yang menarik adalah jenis fauna diantaranya jenis-jenis herpetofauna, serangga, ikan dan jenis mamalia  seperti  beruang madu,  kucing dan jenis tupai salah satunya tupai vampir.

Buahan-buahan termasuk sumber makanan utama orangutan. foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung
Buahan-buahan termasuk sumber makanan utama orangutan. foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Sedangkan Hasil dari penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, TNGP menyebutkan setidaknya ada ditemukan tumbuhan dan pohon yang menjadi pakan atau makan orangutan di Gunung Palung. Orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap). Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan dan beberapa satwa lainnya adalah dari family Sapindaceae/sapindales (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae/myrtales (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dan lain-lainnya.

Bayi orangutan dan Induknya di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung dan Tim Laman
Bayi orangutan dan Induknya di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung dan Tim Laman

Menurut Wahyu Susanto, selaku Direktur penelitian GPOCP/Yayasan Palung mengatakan, di Gunung Palung terdapat kurang lebih 2500 individu orangutan. Sedangkan orangutan yang teridentifikasi mendiami area penelitian Cabang Panti berdasarkan penelitian dan pemberian nama oleh para peneliti sejak tahun  2008-2016 tercatat ada 98 individu orangutan.

Adapun lokasi penelitian SPCP sekitar 2100 hektar. Sedangkan luasan Taman Nasional Gunung Palung adalah 90.000 hektar. Hingga saat ini tercatat setidaknya 150 peneliti dalam dan luar negeri yang melakukan penelitian di SPCP.

Untuk menjangkau Stasiun Penelitian Cabang Panti melalui dua akses; jalaur air dan jalur darat. Jalur air melalui Sungai Rantau Panjang dengan menggunakan sampan atau longboat. Jalur ini digunakan untuk mengangkut logistik yang dikirim melalui Melano, dusun Semanjak, dengan jarak tempuh 7 sampai 12 jam. Lama atau tidaknya jarak tempuh tergantung kondisi air, apabila kemarau sungai kering sehingga waktu tempuh bisa semakin lama. Sedangkan jalur darat menuju SPCP melalui dusun Tanjung Gunung dengan berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 16 km dan bisa ditempuh dengan  dalam waktu 4 hingga 6 jam perjalanan.

Camp Cabang Panti, di TNGP sebagai tempat (rumah) bagi para peneliti yang melakukan penelitian. Foto dok.Yayasan Palung
Camp Cabang Panti, di TNGP sebagai tempat (rumah) bagi para peneliti yang melakukan penelitian. Foto dok.Yayasan Palung

Apabila para peneliti ingin melakukan penelitian terlebih dahulu mengajukan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) terlebih dahulu kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung.

Stasiun Penelitian Cabang Panti The Heaven of Science. Foto dok. Yayasan Palung
Stasiun Penelitian Cabang Panti The Heaven of Science. Foto dok. Yayasan Palung

Bahan tulisan ini merupakan ringkasan yang sumbernya dari : buku saku (booklet) BTNGP yang berjudul; Stasiun Penelitian Cabang Panti “The Heaven of Science”, ditulis oleh Endro Setiawan,tebal buku 29 halaman, cetak tahun 2015.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung