HIGHLIGHT

Membaca Pram

04 Agustus 2012 17:38:34 Dibaca :

Membaca Pram (Pramoedya Ananta Toer) berarti berbicara tentang ketegasan. Ketegasan pribadinya tak tergerus oleh usia yang semakin senja. Bahkan, di penghujung hidupnya, Pram telah menunjukkan jati diri sebagai seorang maestro sastra yang emoh tunduk pada kesewenangan. Prikemanusiaan menjadi jalur hidupnya.


Entah kenapa, buku berjudul Pram Melawan yang dibuat secara keroyokan oleh P Hasudungan Sirait, Rin Hindrayati P dan Rheinhardt itu berhasil mengusik batin saya. Saat buku itu saya lihat terpajang tanpa plastik pengaman di sebuah toko buku, batin saya terdorong untuk membacanya. Lembar demi lembar dan tak sadar hampir dua jam mata saya tak lepas dari catatan-catatan wawancara dan pengalaman penulis bersama Pram.


Seperti biasa, Pram memang bukan orang biasa. Pria yang semasa hidupnya pernah merasakan sakitnya hidup terkekang di penjara ini tegas bicara. Mulutnya seakan tanpa filter. Semua apa adanya. Diucapkan dengan kalimat yang sederhana. Namun, dari kesederhanaan itu pula saya dapat merasakan gagasan Pram yang sebenarnya. Gagasan yang meledak-ledak ketika berbicara tentang ketidakadilan.


Kalimat-kalimatnya yang nyaris seluruhnya kritis terasa seperti godam besar yang menonjok keras di dada saya. Apalagi setelah meninggalkan dunia kampus dan berkecimpung dalam dunia kerja, idealisme bagi saya nyaris sudah seperti romantisme indah masa muda. Kini, berbagai situasi hidup dengan pasang surutnya nyaris mengubah saya menjadi pribadi yang realistis. Atau lebih tepat disebut egoistis.


Pram membantu membangkitkan idealisme. Ia juga berhasil mengobarkan kesadaran bahwa negara ini masih membutuhkan angkatan muda yang kokoh dan berkarakter. Karena menurutnya, sejarah Indonesia tak bisa lepas dari angkatan muda. Diakui atau tidak, angkatan muda memberi andil yang besar memerdekakan Indonesia. Sebut saja usaha sekelompok pemuda yang memaksa Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pasca bertekuk lututnya Jepang pada Sekutu.


Entah kritik atas kenyataan, Saya menilai argumentasi Pram tentang pemuda ada benarnya. Dewasa ini, pemuda menjadi tonggak perubahan. Hanya saja, perubahan yang dilakukan lebih condong pada eksistensi pribadi yang berlebihan. Narsisme dan plagiatisme menjadi satu dalam semangat  angkatan muda mengaktualisasikan dirinya. Akhirnya, nation and character building yang dicita-citakan justru tak tercapai. Angkatan muda mengalami krisis karakter bercirikan nusantara. Irosnis lagi, angkatan muda justru bangga dan merasa hebat ketika arah gaya hidupnya berkiblat ke Korea sana.


Ketika penguasa bertindak tak populis, angkatan muda sekarang memang bergerak. Turun ke jalan dan beretorika. Namun, perjuangan tak cukup sekedar retorika di jalanan belaka. Bukan pula soal bakar membakar ban bekas atau menyandera properti pemerintah. Melainkan sebuah dialektika berpikir yang seharusnya juga dilandaskan pada nation and character building tadi. Sayangnya, tak jarang perjuangan angkatan muda justru dinodai dengan sikap-sikap tak humanis. Emosional dan ujung-ujungnya anarkis. Padahal, perlawanan terhadap penguasa lewat jalur kekerasan justru tidak berkemanusiaan. Suatu sikap yang menurut saya Pram pun menentangnya.


Pram yang dulunya pernah menjadi tentara berpangkat letnan untuk beberapa kasus justru lebih humanis dibandingkan kaum intelektual dan aktivis yang sama sekali tak pernah mengenyam pendidikan militer, bahkan membenci militer. Perjuangan yang Pram tempuh justru melewati jalan suci. Lewat sastra dan otokritik. Tak bisa dipungkiri, jalan ini justru lebih efektif membuat mulut orang-orang menganga. Terkagum-kagum atau terkejut karena ada orang yang berani “berteriak” lantang lewat tulisan-tulisannya.


Satu kata yang membuat Pram melakukan itu, keberanian. Ya, keberanianlah yang membuatnya tak gemetar meski tahu kritikan pada penguasa (terutama di era Orde Baru) jelas berujung pada nasib buruk. Namun, Pram menolak kalah pada nasib buruk.


Dan pada akhirnya, keberanian itu pulalah yang menjadi modal hidupnya yang paling besar meski tak sedikit orang ikut menghujat dan menyayangkan keberadaannya. Tak heran, dalam buku berjudul Pram Melawan tersebut, ia berkali-kali menyebutkan bahwa menulis hanya butuh keberanian dan bukan bakat. Jelas pendapatnya itu ada benarnya. Bayangkan saja jika Pram takut saat menulis karya-karya fenomenalnya, tentu kita tak akan tahu apa itu Tetralogi Pulau Buru yang pernah menjadi barang haram di era pemerintahan Soeharto.


Keberanian itu pulalah yang menurut saya harusnya dimiliki angkatan muda saat ini. Tapi tentunya bukan keberanian yang buta yang justru berpeluang membuat kita mati konyol. Melainkan keberanian yang harus diisi dengan kematangan berpikir yang diraih lewat perenungan dan kajian-kajian faktuil. Tentu akan lebih baik jika pemikiran yang mencerahkan itu dituangkan dalam tulisan sebagaimana yang dilakukan Pram.


Angkatan muda harus bergegas karena krisis terus meranggas. Bangsa ini belum memiliki pemimpin yang mampu menjadi suri tauladan bagi masyarakatnya. Justru yang terjadi, masyarakat mengadopsi kebebasan yang salah kaprah pasca lahirnya reformasi. Bahkan cenderung menggerahkan.


Pemimpin, atau figur publik pun lebih sering melakukan dagelan-dagelan salah kaprah yang mudah terbaca oleh masyarakat. Korupsi menjadi keseharian para pejabat tinggi dan menjadi tontonan menarik di televisi. Sementara sang pemimpin, lebih condong bersikap pasif diwarnai tarik menarik intrik politik. Lalu, kebiasaan itu diadopsi oleh rakyat biasa. Tentunya dengan kondisi dan kesempatan yang berbeda-beda.


Alhasil, sikap salah kaprah dan salah menyalahi menjadi keseharian yang dipermaklumkan. Tak heran dewasa ini kita acap melihat bagaimana sekelompok orang atas nama “mayoritas” merasa berwenang mengatur-ngatur kehidupan “minoritas”. Meskipun yang mereka lakukan justru menginjak-injak hak saudara sebangsanya sendiri.


Angkatan muda mestinya membaca Pram. Bukan dalam artian membaca sosok pria yang kini sudah almarhum itu. Melainkan membaca pemikiran-pemikiran dan sikapnya yang masih hidup lewat huruf yang tercetak di atas kertas. Pram memberi pelajaran berharga tentang sebuah sikap kritis terhadap nasionalisme dan keberanian. Dua hal yang penting namun seperti rumput kering yang siap dimusnahkan di negeri ini.


Ketika nasionalisme mulai tergusur dan keberanian berbuat baik tak lagi popular, mungkin sudah saatnya kita bersiap menjadi saksi kejatuhan sebuah negara besar. Negara yang dulunya pernah disegani bangsa-bangsa lain. Jika hal itu menjadi nyata, maka tak salah jika Pram menilai tak ada yang dapat dibanggakan dari bangsa ini. Mudah-mudahan tidak.


Hendra Efivanias

/petikbiru

Hanya seorang pria yang mempunyai ketertarikan pada buku-buku. mempunyai mimpi besar menulis buku fiksi dan ingin selalu belajar menceritakan kehidupan lewat tulisan-tulisan. Kompasiana adalah wadah belajar saya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?