HIGHLIGHT

Perempuan Nano-nano

30 Mei 2012 00:54:02 Dibaca :

"Lip, gak usah turun-naik biar ibu yang masakin ya."


"Lip, tidur aja! Jangan banyak jalan, nanti tambah sakit!"


"Mau kemana, Lip? Sakit koq jalan-jalan?"


"Haduuuh, si Olip wiz waras gak betah di rumah!"


"Semalam pulang pagi tah,Lip?"


Toloooong, kenapa ibu ini lebih cerewet dari mak gw?


Di rumah ini penghuninya perempuan semua, lima pekerja ditemani seorang asisten rumah tangga. Dua Batak, satu Padang, satu Manado, satu dari Cibarusah dan saya sendiri dari Solo (itu kata sebagian orang kalo hanya melihat dari tampang) dengan karakter dan tindak tanduk yang beragam cenderung bertolak belakang. Ada yang selalu merasa dirinya paling pintar tapi tak punya empati pada sesama, ada yang sok bersih tapi habis mandi koq badannya menebar aroma tengik dan suka buang ludah seenaknya, ada yang sok dewasa tapi kelakuan kek balita, ada yang suka pamer dan gak mau kalah sama orang lain, ada yg suka sirik dan lain-lain. Beragam rasa berpadu dalam satu rumah jadilah nano-nano. *jadi kek permen ya*


Perempuan terakhir yang bergabung di rumah ini adalah sang asisten yang proses perekrutannya tidaklah gampang. Bayangkan, akhir tahun lalu posisi asisten rumah tangga (ART)-nya dalam waktu seminggu bisa ganti sampai tiga kali. Semua bermula dari kepindahan ART lama yang naik jabatan dan diangkat sebagai asisten yang mengawasi satu rumah yang lebih besar di tempat induk semang. Sekembali mudik akhir tahun saya dikabari untuk tidak kaget karena di rumah ada anggota baru, lucunya nama ART baru yang diinfokan ke saya, ternyata adalah nama ART sebelumnya yang cuma bertahan 2 hari terus disuruh pulang karena kerjanya hanya main telpon. Jadi begitu sampai di rumah, saya sok akrab mengulik informasi seputar ART dan memanggil namanya dengan nama orang lain.


Karena dua bulan ini sering bolak-balik ke bengkel dan harus lebih banyak ngendon di garasi, otomatis jadi sering berinteraksi dengan si ibu. Mau tak mau, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi suara merdunya akan selalu terdengar bagai alarm yang berbunyi nyaring sesuai dengan setelannya. Jadi banyak mendengar cerita seputar keluarga maupun tempat kerjanya dahulu, tentang tuan Arab-nya yang baik hati atau Oma Cina-nya yang katanya banyak duit tapi gak pernah terlihat pegang duit boro-boro ngasih duit.


Ibu Kornel namanya, oleh rekan-rekan di tempatnya dulu menjadi pengasuh oma dan balita beliau sering dipanggil ibu Nel. Waktu remaja sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan lelaki yang usianya terpaut jauh dengannya. Mereka akhirnya berpisah tanpa pernah bersentuhan karena sebagai ABG dirinya lebih memilih untuk tidur beramai-ramai dengan kawan sepermainan daripada dengan lelaki yang telah menjadi suaminya. Setelah pasangan mereka tiada, mantan suami yang ternyata diam-diam menaruh hati padanya memintanya untuk menghabiskan masa tua bersama. Namun ibu Nel menolak dengan alasan, "gak ah Lip, ibu mah sudah senang seperti sekarang."


"Tapi kalau ada suami khan ibu jadi ada temannya, gak perlu kerja jauh dari anak cucu seperti sekarang. Bisa curhat-curhat dan ada teman ngobrol"


"Cukuplah ibu sudah tiga kali menikah, dua sudah tidak ada. Anak ibu juga sudah mentas semua sekarang tinggal senang-senangin cucu."


Ibu Nel buta huruf, tak paham urutan nama bulan tapi kalau soal mengaji nomor satu. Si ibu menjadi sangat sedih ketika tivi di ruang tamu ngadat selama dua minggu karena dirinya tak bisa menyaksikan acara pengajian kesukaannya. Ketika berhasil membeli HP murah untuk berkomunikasi dengan anak dan cucunya, yang pertama dia tanyakan adalah,"kalo shalawat dengarnya dimana?"


Meski sering dibentak-bentak dan diperlakukan kayak anak kecil oleh dua Batak yang tabiatnya ajaib, ibu Nel tampaknya masih betah menjadi ART di sini. Ibu Nel yang baik hati, polos walau terkadang nyebelin bila dikasih tahu suka membantah, matanya berkaca-kaca diliputi keharuan menyambut kepulangan saya dari bengkel bulan lalu.


"alhamdulillaaaaah, ibu tiap hari berdoa semoga Olip cepat sembuh. Aduh ibu gak bisa tidur mikirin selama Olip gak di rumah" ngomongnya gak mau melepas tangan serasa pejabat disambut dayang-dayang. Dalam hati mikir juga, kenapa ini si ibu sampai berkaca-kaca padahal saya nginap di bengkel cuma empat hari (sebenarnya sih tiga hari tapi minta tambah biar dapat jatah makanan bergizi yang gratis hahahaa).


Akhir pekan biasanya menjadi saat para penghuni rumah bisa bertemu setelah lima hari pergi pagi pulang pagi. Minggu kemarin, saya mendapat berita terkini dari salah satu penghuni rumah yang juga sering dicurhatin si ibu. "Kasihan lho si ibu, anaknya kurang ajar banget deh!"


"Kenapa lagi?" tanya saya dengan mata tak lepas dari layar kaca yang gambarnya meleot sana sini.


"Anaknya minta uang beli sepeda buat cucunya, harga sepedanya enam ratus ribu tapi si ibu ngasih duitnya delapan ratus ribu. Sekarang si ibu gak pegang duit sama sekali, makanya jadi lebih banyak puasa dan gak bisa jajan tuh."


"Ya, ibunya mau ngasih masa dilarang?" kata saya dengan ogah-ogahan


"Tapi itu anak kurang ajar, harusnya kan dia ngerti ibunya juga perlu uang? Namanya minta bantuan harusnya jangan semuanya donk, setengah aja kek." teman saya sewot dan mulai memelintir gelas di tangannya.


"Tau gak, seorang nenek itu lebih sayang sama cucunya daripada sama anaknya. Maka apapun akan diberikan atas nama cucu, demi cucu dia rela menahan lapar. Udahlah gak usah diurusin, yang penting kan kita sudah ngasih tahu agar dia juga menyimpan uang untuk dirinya sendiri."


"Iya sih, tapi kan kasian si ibu dan sebel liat anak berlaku seperti itu sama ibu sendiri." sambut kawan saya dengan berapi-api.


Karena cerita kawan tadi, saya pun teringat kejadian beberapa hari lalu. SI ibu senang banget saat saya bagi sepotong ayam goreng yang dibeli di kedai depan rumah. Dengan muka berseri-seri si ibu melihat dada ayam yang masih ngebul tanpa berkedip,"alhamdulillaaaaah, hari ini buka puasa bisa makan daging. makasih ya Lip, ibu doakan dapat jodoh yang baik, diberkahi sama Tuhan blaa ...blaaa..blaaa" Apa hubungannya dada ayam dengan jodoh ya? Ada-ada aja sih ibu ini hahaha. Si ibu gak tahu, saya bukan penggemar dada ayam tapi ketidaktahuannya membuahkan doa tulus dan mulut yang tak henti-hentinya berkicau.


Bersyukur Tuhan menempatkan orang-orang seperti ibu Nel di sekitar saya sebagai pengingat betapa besar Kasih dan PenyertaanNya dalam hidup ini.


"Liiiiip, buburnya sudah dingin di atas kulkas! Dibawa ke atas tah?"


"Taruh situ aja bu, nanti saya turun." alarm harus buru-buru dimatikan, kalau tidak bisa merepet ke sana kemari seperti lebah beterbangan. Sudah dimatikan pun bisa bunyi kencang lagi bila tak didengarnya suara anak tangga berkumandang karena dipijak. Selamat pagi,selamat beraktifitas. [oli3ve]

Olive Bendon

/oli3ve

TERVERIFIKASI (BIRU)

penikmat alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki & menyesap senyap saat mutar-mutar di kuburan tua. menitipkan jejak di http://obendon.wordpress.com dan http://perempuankeumala.wordpress.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPAS WOMEN FIESTA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?