HIGHLIGHT

Ketika Sampai di Sini

28 Mei 2012 00:40:25 Dibaca :
Ketika Sampai di Sini
Lahan kuburan adalah lapangan hijau kami (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)

Kurangnya lahan untuk bermain karena padatnya kawasan pemukiman di tempat tinggal mereka, tak menghapus kerinduan anak-anak di kampung Peneleh, Surabaya untuk bermain menikmati senja. Mereka terpaksa memanfaatkan sedikit lahan yang lapang di dalam kompleks pemakaman tua sebagai lapangan hijau tempat menyepak bola. Sebagian tampak bermain petak umpet diantara nisan dan puing kuburan, berbagi tempat lahan bermain dengan kambing-kambing yang turut berjemur dan memamah biak di situ.

Di sela riuh rendah suara anak-anak mengejar si bundar, tampak pula sepasang muda-muda asik memadu kasih. Mereka bergandengan tangan, berjalan beriringan di antara puing-puing makam. Tak jarang tangan si pemuda usil menggoda kekasihnya yang membuat sang kekasih merajuk sebel lalu mengejar sang pemuda. Dari jauh saya tersenyum memperhatikan tingkah laku mereka serasa nonton film India, lagi senang menari, saat sedih berjoget, kala berseteru malah berkejaran meliuk-liukkan badan diantara tiang apa saja yang ditemuinya. Aha, mungkin saja mereka memang terinspirasi dengan Shah Rukh Khan dan Kajol dalam Rab Ne Bana Di Jodi atau Kuch Kuch Hota Hai.

1338164095523666958
Sepasang muda-mudi memadu kasih di depan makam tua (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)

1338164507357791474
Pulau Perak, destinasi untuk menyepi bersatu dengan alam di utara Jakarta (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Gooooooooolllll! Sorak kegiragan memecah kesunyian ketika bola berhasil menembus gawang lawan. Bisa jadi anak-anak itu membayangkan sedang menyepak bola di salah satu stadion besar dielu-elukan oleh ribuan penggemar. Lalu sepasang kekasih itu serasa berlibur berdua di suatu pulau kecil menikmati birunya laut tanpa takut digigit nyamuk kuburan yang moncongnya sangat tajam menancap di kulit.

Hari ini atau esok ketika jarak, tempat, waktu dan alam memisahkan; akankah engkau tetap mengenang perjalanan ini seperti kala kita menapakinya? Sayup-sayup dari warung di seberang pemakaman terdengar suara D'Massive melantunkan tembang Jangan Menyerah:

Tak ada manusia yang terlahir sempurna Jangan kau sesali, segala yang telah terjadi

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah Tetap jalanin hidup ini, melakukan yang terbaik

13381651061534000706
Sebelum kita hanya saling diam terpisah jarak, waktu dan alam (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)

Apapun keadaanmu hari ini, jangan pernah menyerah pada keadaan. Ucaplah syukur senantiasa pada DIA yang masih mengaruniakan napas kehidupan. Selamat pagi, selamat beraktifitas. [oli3ve]

*****

Silahkan disimak cerita Kampretos lainnya di SINI

1338165414108559570

Olive Bendon

/oli3ve

TERVERIFIKASI (BIRU)

penikmat alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki & menyesap senyap saat mutar-mutar di kuburan tua. menitipkan jejak di http://obendon.wordpress.com dan http://perempuankeumala.wordpress.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?