ZIARAH DI BANTEN LAMA

02 April 2011 15:30:01 Dibaca :

Banten lama, kini menjadi tempat wisata sejarah yang eksotik. Meskipun kurang terawat,  pengunjung Banten lama selalu membludak. Terlebih di hari atau bulan tertentu. Seperti bulan Syawal, Haji, Maulud, Rajab dan Ruwah. Sementara setiap hari Kamis, Jumat dan Minggu pun menjadi hari pilihan bagi para peziarah untuk mengunjungi Masjid Banten Lama. Ada juga waktu yang paling ramai yaitu malam Jum’at ketika malam 14 bulan purnama. Para peziarah percaya malam Jumat tanggal 14 bulan purnama adalah waktu di mana para auliya berkumpul dan bermusyawarah sehingga dikeramatkan, dan bila berziarah pada tanggal itu doanya mustajabah. Wallahu alam. Itu kembali kepada niat si pengunjung.

Para peziarah yang mengunjungi masjid ini tidak hanya dari Banten. Di luar Banten pun tetarik mengunjungi masjid bersejarah ini. Bagi Anda yang tidak mengetahui letak keberadaan masjid ini tidak perlu khawatir. Karena masyarakat Banten khususnya yang tinggal di Kabupaten/Kota Serang tahu jelas lokasi ini yang bisa memandu Anda hingga bisa menuju ke sana. Masjid agung Banten Lama berada di Kecamatan Kasemen, Serang, Banten. Masjid yang terletak sekira 10 km sebelah utara Kota Serang ini merupakan peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), putera pertama Sunan Gunung Jati. Konon, pembangunan Masjid Agung Banten bermula dari instruksi Sunan Gunung Jati kepada Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih suci untuk pembangunan Kerajaan Banten. Hasanuddin lalu shalat dan bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang tanah yang dimaksud ayahandanya. Setelah berdo’a, spontanitas air laut yang berada di sekitarnya menyibak menjadi daratan. Selanjutnya, Hasanuddin mulai mendirikan Kerajaan Banten beserta komponen-komponen lainnya, seperti alun-alun, pasar dan masjid agung.

Masjid yang berdiri sejak tahun 1569 M ini memang kental akan nilai budaya dan sejarah. Tidak heran, kalau banyak masyarakat yang penasaran akan keunikan masjid ini. Masjid berarsitektur unik, perpaduan gaya Hindu Jawa, China dan Eropa. Tapi tetap sarat nilai-nilai Islami. Berdirinya Masjid Agung Banten tidak lepas dari tradisi masa lalu, di mana dalam sebuah kota Islam terdapat minimal 4 komponen. Pertama, ada istana sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja. Kedua, Masjid Agung sebagai pusat peribadatan. Ketiga, ada alun-alun sebagai pusat kegiatan dan informasi. Keempat, ada pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Keempat komponen ini, jejaknya masih terdapat di Desa Banten Lama Kecamatan Kasemen Kabupaten Serang. Tapi yang masih kokoh berdiri dan berfungsi hingga saat ini hanya Masjid Agung.

Nurzahara Amalia

/nurzahara_amalia

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Penulis Amatir
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?