Telunjuk Sakti Itu Mengatakan "F*ck" Padaku

08 Agustus 2012 05:47:56 Dibaca :

Ternyata, jadi orang kaya dan berada itu enak ya. Sama halnya dengan menjadi seorang customer.
Karena mereka punya power untuk bersikap semaunya sendiri. Termasuk memaki dan mengumpat staf pekerja.
Pembeli adalah raja.
Ahh..rasanya mau marah saja dengan pembuat semboyan itu. Alih-alih seorang raja maka bisa bersikap seenak udelnya sendiri.
Pagi ini, ketika sedang sibuk menekuri email dan berpuluh reservasi dengan status waitlist. Saya di kejutkan dengan kedatangan seorang bapak paruh baya. Seorang bapak dengan penampilan sangat super duper parlente.
Perawakan dan wajahnya menurut saya sangat standard. Yang membuat dia nampak seperti raja karena mobil yang di pakai adalah sebuah mobil jaguar warna hitam.
Semalam dia reservasi pada salah seorang rekan, dan berniat mengambilnya. Namun karena saya kesulitan membaca kodebooking, saya coba mencari detailnya dengan bertanya nama, tanggal dan jam keberangkatannya.
Entah mengapa dan karena sebab apa, yang saya dapatkan malah jawaban super ketus dan super galak.
“ Kamu dong tanya pada anak buah kamu, jangan pada saya.”
“ Maaf, Bapak, kebetulan rekan saya masuk sore. Dan kode ini saya cek responnya invalid. Nah untuk mencari nya, saya butuh detail fligtnya.”
“ Cari aja sendiri, tanggal 26 pake garuda.” –ketus dan galak plus wajah sanggar-
Dalam hati sudah “panas” rasanya, saya tarik nafas agar emosi tidak mengambil alih logika. Tersenyum. Lagi-lagi saya harus tersenyum pada sosok di depan saya. Yang dengan sombongnya berkacak pinggang dan memandang sinis pada saya.
( dalam hati bertanya, “salah guwe apa yak?” )
Sekian menit berlalu, saya tidak menemukan reservasi yang di maksud oleh bapak tersebut. Saya putuskan sekali lagi untuk bertanya.-dengan menahan nafas-
“ Maaf bapak, semalam reservasinya garuda ya?. Karena saya sudah cek di tanggal 26 aug, all flight nama bapak tidak ada. Mungkinkah ada pesawat lain.” Suara paling lembut di iringi senyum paling manis saya lampirkan saat bertanya. Berharap sikap bapak itu akan melunak dan melembek.
Tapi.
Tiba-tiba, dia keluarkan kartu GFF-nya dan menghempas-nya di meja saya.
“ NGAPAIN SAYA PAKE PESAWAT LAIN SELAIN GARUDA, SAYA MAMPU BAYAR HARGA TIKET GARUDA.”
“ INI BUKTINYA, KAMU LIHAT GFF GOLD SAYA.”
“ Anak buah kamu gimana sich, saya minta garuda bukan pesawat lain. “
Lagi-lagi saya menarik nafas dan mencoba tersenyum..getir dan nelongso oleh sikap yang di tunjukan bapak itu.
“ Bapak, silahkan duduk. Kita bicara.”
“ Ga usah.”
“ Mohon di tunggu ya Pak, saya coba telp rekan saya.”

###


Ahkirnya saya menelpon rekan kerja saya, di depannya.



“ Selamat siang Mbk.”
“ Siang juga Rika, maaf ya ganggu waktu freemu. Semalam ada reservasi pak Andi Soedirman. Pake apa neng.?”
“ Pake lion, mbk, awalnya minta garuda namun karena posisi harganya mahal. Jadi minta option dengan lion.”
“ Kamu yakin, ga salah reservasi kan ?.”
“ enggak mbk, yakin banget. Karena sebelumnya tak bacain dulu detailsnya. Terus ybs minta kode bookingnya untuk di ambil besok.”
“ Oke, terima kasih ya.”

###



Ketika menelpon, saya sengaja aktifkan speaker di ponsel operasional kantor.
Agar bapak tersebut bisa mendengar penjelasan staff yang bertugas semalam.
“ Nah bapak, kode booking yang bapak berikan pada saya, bukan garuda, melainkan lion.”
“ SALAH, ANAK BUAH KAMU ITU BODOH, SAYA MINTA GARUDA BUKAN LION. “
Mulai meradang mendengar perkataan kasar yang tiada henti.
“ Pak, maaf ya, saya rasa bapak tau sekarang bulan apa dan sedang apa, saya rasa kata-kata bapak tidak pantas di ucapkan. Kecuali jika bapak tidak sedang menjalankan. Namun dari nama bapak, saya yakin bapak salah satu umat yang sedang menjalankannya.”
Kali ini saya berbicara tanpa senyum, dan mata saya lurus menatap wajahnya.
“ Ahhh, anak buah kamu ga becus.”
“ Bapak jangan sembarang mengatakan rekan saya tidak becus. Tanpa maksud membela, saya katakan bahwa rekan saya cukup profesional dalam bekerja. Sudah jadi prosedur baku, dalam setiap reservasi akan selalu di baca ulang detailsnya. Saya rasa bapak salah paham soal ini semalam.”
Dan lagi-lagi bapak itu mengumpat dalam bahasa daerah yang tidak saya pahami. Hanya menurut saya, terdengar seperti bahasa dari daerah Sulawesi.
“ Kamu dan tempat ini FUCK..” telunjuk itu mengarah persis di wajah saya.
Saya tatap tajam wajah bapak itu, sangat tajam dengan tangan mengepal. Mencoba untuk tetap tenang. HARUS TENANG.
“ Terima kasih, dan pintu keluarnya ada di sebelah sana.”
Bapak itupun pergi. Dengan mobil jaguar hitamnya.
Sementara telinga saya nyeri, terngiang-ngiang percakapan tadi.


Note ; Ternyata benar kata orang bijak, bahwa kedudukan, jabatan dan harta jika tidak di imbangi oleh budi pekerti yang baik, akan menjadi pedang bermata dua.

Inem Ga Seksi

/novi25

TERVERIFIKASI (BIRU)

Kita hanyalah dzat yang tak pandai membaca dan melihat
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?