HIGHLIGHT

Investasi Bodong Dengan Modus Laba Tinggi

11 Juni 2012 06:31:31 Dibaca :
Investasi Bodong Dengan Modus Laba Tinggi
Sumber Kontan Online/Cheppy A Muchlis

Kabar tidak sedap menguap dari koperasi langit biru. Investasi dengan iming-iming hasil tinggi (return) kepada para investor berakhir dengan kerugian dan penipuan.  Diperkirakan dana nasabah yang digarong mencapai Rp 9 triliun dari 120.000 nasabah.  Suatu penipuan yang cukup fantastis, begitu banyak orang yang mudah terkecoh.  Niat awal nasabah ingin meraup untung, justru berakhir buntung. Bukan kali ini saja berita semacam ini santer terdengar, namun sudah berkali-kali. Ambil contoh investasi Qurnia Subur Alam Raya pada thaun 2002.  Investasi ini juga menjanjikan imbal hasil tinggi sampai 10% per bulan dari nilai investasi. Investasi Add Farm (mirip dengan model investasi QSAR) tahun 2003 yang menjanjikan imbal hasil 44%per tahun dengan total kerugian investasi sebesar Rp 544 miliar. Selain beberapa investasi bodong di atas, ada juga banyak investasi bodong lainnya yang tidak sempat tercium oleh media. Salah satunya terjadi di daerah saya, di desa Lubuk Ampolu, Kecamatan Lumut, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Selain di daerah saya, ia juga menawarkan investasi yang sama di beberapa desa sekitar. Ceritanya bermula pada tahun 2008  silam, ada orang yang menawarkan investasi serupa. Ia menjanjikan imbal hasil tinggi kepada masyarakat desa. Persyaratannya pun sangat mudah,  nasabah cukup menyetor uang dan namanya dicatat di pembukuan. Kemudian,  tiap bulan, nasabah akan mendapat bunga di atas  20% dari investasi. Sungguh mengiurkan tentunya. Dengan keuntungan yang menjanjikan ini, masyarakat desa berbondong-bondong menaruh duit sebagai investasi. Pengelola investasi bodong ini bilang, bos-nya, pemilik usaha tersebut, memutar uang milik nasabah untuk bisnis kopi, obat-obatan, dan dagang sapi di daerah Padang Sidempuan. Ia berusaha meyakinkan nasabah dengan berdalih bawah uang mereka akan lekas menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat. Hal itu juga terbukti,  sebab para nasabah yang sudah terlebih dahulu menanamkan investasi telah meraup banyak keuntungan. Bahkan ada yang memilih tidak mengambil fulus tersebut tapi menanamkannya lagi supaya nilai keuntungannya semakin berlipat. Hal itu juga dimungkinkan. Sebab tidak ada pembatasan. Bahkan nasabah dibujuk agar tidak mengambil keuntungan mereka supaya penghasilannya semakin berlipat saja tiap bulan. Tentu saja modus ini hanya mengulur-ngulur waktu saja, sebelum si pemilik bisnis ini kabur. Untuk mengelabui nasabah, ia menjual aneka produk seperti kopi, obat-obatan yang menurutnya sebagai salah satu lahan perputaran bisnis uang yang diinvestasikan tersebut. Selain itu, ia juga membeli rumah di desa dan memboyong keluarganya di situ. Ia membujuk dua sampai tiga orang asal desa tersebut untuk menjadi pihak pemasaran dan promosi ke tiap-tiap orang. Dengan strategi ini, ia berhasil meraup duit masyarakat dalam jumlah ratusan juta rupiah. Bahkan ada orang yang memilih menjual kebun miliknya dan menaruh uangnya di investasi itu. Akibatnya, hanya berselang satu tahun pascaberoperasi, si agen tadi menghilang. Masyarakat pun pada panik dan mereka baru sadar mereka tertipu. Anehnya, dari awal sudah ada beberapa orang yang curiga terkait investasi ini, tapi mereka melakukannya juga karena memperkirakan uang mereka sempat kembali dan bahkan bisa memetik untung sebelum si agen kabur. Kala itu,  saya sempat mendatangi si agen dan menanyakan investasi yang dia tawarkan. Ia pun mengarang banyak cerita dan mengatakan bisnis milik bos-nya itu diputar hingga ke Jakarta. Bahkan ia meminta nomor telepon seluler saya untuk meyakinkan bahwa ia sering ke Jakarta untuk memutar bisnis milik bos-nya  itu. Nanti kalau ia ke Jakarta lagi, ia akan menelpon saya dan memperkenalkan bisnis milik bos-nya yang sudah beroperasi. Namun, sampai ia kabur, tak pernah ada kontak sama sekali. Saya juga menyaksikan sendiri ketika ada seorang warga menanamkan investasi sebesar Rp 5 juta untuk investasi bodong tersebut. Si agen menulis di buku catatan dan tanpa memberikan kuitansi  sebagai bentuk tanda terima. Modalnya cuma kepercayaan.  Sesuatu yang tidak rasional memang. Tapi karena setiap orang sudah kepincut dengan laba tinggi, mereka akhirnya kehilangan rasionalitas dan kemudian tertipu. Berdasarkan pengalaman tersebut, dari beberapa investasi bodong yang selama ini beroperasi, ada beberapa hal yang menjadi ciri investasi bodong ini. Pertama, mereka menawarkan investasi dengan bunga yang cukup tinggi, bahkan di luar rasionalitas. Kedua, mereka tidak bisa membuktikan bisnis yang mereka geluti, tapi cuma bisa menjelaskan. Kalau berhadapan dengan orang yang jeli, pasti kebohongan mereka mudah dibongkar. Sebab mereka tidak bisa menjelaskan secara detail, hitung-hitungan perputaran bisnis yang mereka janjikan. Ketiga, umumnya mereka meminta uang disetor secara tunai, tanpa melalui bank. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan jejak penipuan yang mereka lakukan, sebab tidak tercatat di lembaga resmi. Keempat, mereka tidak mendapat izin resmi dari pemerintah. Meskipun terkadang mereka mengatakan telah mengantongi izin resmi. Maka berhati-hatilah. Jangan mudah kepincut investasi bodong macam ini. Jauh lebih baik, jika menelusuri jejak pihak yang menawarkan investasi tersebut terlebih dahulu. Lakukanlah riset kecil-kecilan, telusuri dananya kemana, dan lihat sendiri bisnis apa yang dijalankannya. Jika menggunakan nama-nama perusahaan yang sudah terkenal, telusuri hubungannya dengan perusahaan tersebut, sebab, bisa saja ia memakai nama usaha tersebut untuk mengelabui calon korbannya. Ingat, sesuatu yang untungnya besar besar, risikonya juga besar. Jadi jangan mudah kepincut penghasilan instan yang  tidak rasional.

Noverius Laoli

/noveriuslaoli

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pemuda yang lahir dan besar di Desa Lubuk Ampolu, Sitonggi tonggi, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sibolga. Sejak kecil bercita-cita ingin melihat keindahan kota-kota terkenal di dunia. Menjalani masa Sekolah Dasar hingga SMP di Sekolah Negeri Kebun Pisang, dan Gunung Kelambu. Namun masa SMA di Sekolah Katolik, Aektolang Pandan, Sibolga. Menjalani kuliah di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Kini menjadi jurnalis di salah satu media ekonomi di Jakarta. Saat ini ingin menulis sebanyak-banyaknya.
Suka membaca novel-novel sejarah dan menuliskan kisah-kisah perjalanan. Suka berimaginasi dan kelak berharap dan berusaha agar imaginasi itu bisa bisa menjadi kenyataan.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?