Masa & Rasa

10 Juni 2011 14:05:37 Dibaca :

Masih teringat jelas awal masuk sekolah dasar, ada kebanggaan tersendiri walaupun baru mengenakan seragam putih merah. Bisa merasakan membawa tas yang berisikan beberapa buku dan perlengkapan menulis. Ada hal-hal baru yang diperoleh dan itu menjadi sesuatu yang menarik. Apalagi ketika adik laki-lakiku, cris masuk sekolah dasar, usia kami hanya terpaut satu tahun. Saat itu dengan bangganya menjaga sang adik, memperhatikan gerak-geriknya, karena merasa dia baru masuk dan pasti dia butuh pelindung. Uang jajan 150 rupiah pun rela diberikan kepadanya, agar dia tidak sedih dan nyaman dengan sekolah baru, dan itulah pikiran polosku saat itu. Memastikan dia pulang dengan aman, karena memang sekolah kami sangat jauh dari rumah.

Karena jauh dan sering sakit-sakitan makanya, mama memindahkan kami kesekolah lain yang lebih dekat dengan rumah. Beberapa hari ditempat baru, sempat membuat aku tidak nyaman dan ini karena belum terbiasa saja.

“Mama… tanti sekolah di Bonipoi lagi ya ma…” Pintaku

“Kenapa dek? G enak? Kan masih baru…”jawab mama

“Tapi lebih suka yang di Bonipoi ma…” . Merengut lalu merebahkan diri di tempat tidur sambil menutup wajah dengan bantal dan menangis tanpa mengeluarkan suara.

Mama yang menyadari itu hanya karena masa penyesuaian diri saja, jadi permintaanku tidak dikabulkan, dan kenyataanya aku pun terbiasa lalu mulai menikmati pertemanan dan segala hal yang ada disekolah itu.

Berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah dasar lalu melanjutkan pendidikan di tingkat SMP. Di masa ini pun ada kebanggaan, mulai berasa sudah tidak sekecil kemarin, warna rok sudah tidak merah lagi, uang jajan naik, akan lebih sering menggunakan belpoin. Sempat merasa aneh juga, karena ada hal-hal yang berbeda yang tidak ditemui ketika duduk di bangku SMP. Semasa SD sukanya godain mahasiswa pacaran di sebelah sekolah, sekarang aku mulai tahu bagaimana rasanya menyukai lawan jenis. Mulai tahu apa itu haid dan sempat membuatku tidak nyaman. Mulai merasa aneh dengan pertumbuhan fisik di salah satu bagian tubuh. Lalu menikmati kisah teman-teman yang mulai pacaran di masa SMP dan merasa sudah cukup mengerti tentang hal ini dengan kisah cinta teman-teman, merasa sok tahu tepatnya.

Kemudian lanjut lagi ke jenjang berikutnya yaitu SMA. Hal yang sama pun terjadi, ada sebuah kebanggaan bahwa aku sudah tidak anak kecil lagi, rok sekolah sudah berwarna abu-abu. Tetapi pada masa ini cukup biasa saja dengan suasana dan teman-teman baru.

Mulai mengenal yang namanya persahabatan dan cinta. Kalau dulu hanya terhenti pada cerita teman, sekarang, aku tahu bagaimana rasanya pacaran, walaupun itu dilakukan secara diam-diam. Dari yang sangat pendiam dan tertutup, perlahan mulai membuka diri, walaupun masih dikategorikan pendiam, tetapi sudah lebih baik daripada sebelumnya. Dan bagi saya masa putih abu-abu ini menjadi masa yang sangat menyenangkan.

Setelah lulus SMA, dengan pemberitahuan secara tiba-tiba oleh papa, akhirnya berangkat ke Semarang dan melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Bukan hanya lingkungan pendidikan yang baru tetapi benar-benar semuanya serba baru bagiku. Kota ini memang lebih besar dan lebih maju dari kota asalku, Kupang, Tetapi tetap ada yang membuatnya berbeda. Walaupun ada kakak tetapi terus memaksa diri untuk menyadari bahwa, aku sudah berada sangat jauh dari kota Kupang. Bukan hanya proses menyesuaikan diri dengan lingkungan serta budaya baru, aku sempat dilanda kebingungan tentang bagaimana sistem yang berlaku, sampai-sampai brosur berulangkali ku baca, lalu berulangkali pula bertanya hal yang sama tentang apa itu KRS, SKS dan segala macam yang menyangkut didalamnya.

Dan sekali lagi masa ini pun terlewati, walaupun ada kisah sedih, menjengkelkan dan beragam kisah lainnya serta kebodohan-kebodohan yang sempat terjadi pada masa itu, tetapi aku bisa melewati dan menyelesaikannya. Bahkan menemukan bahwa “cap” yang selama ini melekat erat perlahan mulai sirna. Tentang sosok pendiam dan pemalu.

Dengan kondisi yang belum tertarik untuk melanjutkan pendidikan lagi, sempat merasa bebas karena paling tidak masa study SD hingga kuliah sudah terlewatkan. Sempat terasa ringan ketika kaki melangkah, tetapi itu tidak berlangsung lama. Ternyata masih ada masa berikutnya yang harus dihadapi. Bukan hanya sekedar lulus lalu bekerja, ada masa peralihan yang juga harus dilewati. Proses mencari kerja yang juga tidak gampang, menjadi pelengkap cerita yang sangat baik.

Setelah bekerja kembali harus mengingatkan diri yang sering lupa bahwa aku bukan mahasiswi lagi, aku bukan remaja. Ada tugas dan tanggung jawab perkembangan untuk usiaku saat ini yang harus “dipenuhi” dan sempat bingung, merasa “aneh” serta rasa yang tidak biasa.

Kalau dulu, selalu ingin beranjak dewasa, agar bisa tahu apa yang ingin diketahui pada masa itu. Selalu bangga ketika warna rok berganti. Dan untuk saat ini bukan tidak bangga, aku senang dan bangga sudah berpenghasilan, sudah bisa melakukan hal-hal baru dan banyak hal. Tetapi ada rasa yang beda saat ini dan dibalik rasa itu kadang ingin menjadi kecil kembali.

Sebuah masa peralihan berikutnya dan harus benar-benar menyadari bahwa, usiaku bukan lagi remaja. Sudah setahun lebih terus mengingatkan diri seperti masa-masa sebelumnya, ini hanya tentang waktu dan kondisi yang belum biasa.

Lalu berkata pada diri sendiri, selamat melewati masa peralihan dan semangat untuk menikmatinya...

Berlatih lebih lagi, karena masih ada beberapa masa didepan.

NonaHana

70611 - 11.10 WITA

Hana Manglapy

/nonahana

Memang tidak gampang tapi pasti bisa!!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?