Kakakku, Pahlawanku

09 Januari 2015 06:14:01 Dibaca :

Oleh : Noer Ima Kaltsum


Aku terlahir sebagai anak nomor empat dari enam bersaudara. Ada cerita yang tak akan pernah aku lupakan, tentang aku dan kakakku yang nomor dua. Dia adalah Mbak Ana.


Setelah Mbak Ana bekerja, dia membantu orang tua untuk membiayai sekolah adik-adiknya, termasuk aku (mulai kelas 1 SMA). Waktu itu aku duduk di kelas satu dan kakakku yang nomor tiga (Mbak Lichah)  kelas dua. Aku dan Mbak Lichah satu sekolah.


Kami berasal dari keluarga kurang mampu. Aku dan Mbak Lichah berusaha untuk mendapatkan keringanan biaya sekolah. Kalau perlu dapat bebas SPP alias gratis.  Untuk mendapatkan bebas SPP, kondisi kami tidak memenuhi syarat. Oleh pihak sekolah aku dan Mbak Lichah diberi keringanan 50% dari uang SPP yang seharusnya kami bayarkan.


Aku dan Mbak Lichah tidak bilang pada Mbak Ana kalau kami mendapat keringanan membayar SPP. Mbak Ana setiap bulan memberikan uang SPP penuh. Aku dan Mbak Lichah berbeda dalam menggunakan uang keringanan tersebut.


Aku membayarkan semua uang SPP dari Mbak Ana untuk dua bulan. Setelah enam bulan lunas untuk satu tahun, maka bulan berikutnya uangnya aku tabung atau aku belikan benda-benda yang bermanfaat. Mbak Lichah membayar SPP satu bulan, sisa uangnya digunakan untuk keperluan sekolah termasuk untuk membeli buku.


Selama aku SMA sampai kuliah, aku tak pernah bercerita pada Mbak Ana soal keringanan 50% biaya sekolah. Setelah lulus kuliah, aku dan Mbak Lichah baru bercerita pada Mbak Ana. Mbak Ana memang baik hati, tidak marah atau tidak merasa dibohongi adik-adiknya. Tanggapan Mbak Ana biasa saja. Dengan nada bercanda dia bilang,”Adikku memang licik semua.”


Aku dan Mbak Lichah memang berbeda. Sejak dahulu sampai sekarang aku dikenal paling hemat di antara saudara-saudaraku. Kalau Mbak Lichah termasuk boros. Mbak Lichah tidak sungkan meminta uang pada Mbak Ana. Kalau aku memang cukup tahu diri. Aku tahu bagaimana beratnya Mbak Ana mencari uang. Aku jarang meminta uang pada Mbak Ana. Karena aku tak pernah minta uang, malah sering ditawari atau ditanya,”Uangmu masih atau tidak?”


Saudaraku yang lain akan bilang,”Yang butuh uang tidak ditawari, yang tidak butuh ditanya-tanya.” Ya, begitulah. Lain aku, lain Mbak Lichah.


(Tulisanku kali ini tidak menceritakan orang tua sebagai pahlawan. Karena orang tuaku adalah segala-galanya. Tak cukup ruang dan waktu untuk menceritakan kehebatan mereka, bukan karena aku mengabaikan peran beliau berdua.)


Mbak Ana bekerja sebagai PNS, ditempatkan di Laboratorium di FMIPA UGM. Yang aku tahu waktu itu dia menyiapkan segala sesuatu untuk praktikum mahasiswa. Akan tetapi Mbak Ana juga membuat preparat untuk memenuhi pesanan dan kepentingan mahasiswa.


Kadangkala aku membantu Mbak Ana untuk mencari tumbuhan yang akan digunakan untuk membuat preparat. Pernah suatu hari aku ikut ke Kaliurang untuk mendapatkan lumut. Aku harus ke Kulon Progo mencari bunga cengkeh yang masih segar atau mencari perdu teh dari akar, batang sampai daun hingga Kabupaten Karanganyar. Hanya itu yang bisa aku berikan pada Mbak Ana.


Pertama kali aku menulis cerita anak lalu mengirimkan ke media dan dimuat, Mbak Ana tidak tinggal diam. Dia mendukung kegiatanku. Kadang-kadang dia akan meminjam mesin ketik dan membawakannya untukku. Itu dilakukan agar aku bisa menulis.


Ketika aku sudah mengenal komputer, dia juga tidak merasa terganggu bila aku ke kantornya setelah jam kantor usai (Mbak Ana suka lembur sampai sore).  Malah dia merasa hubungan kami bagai simbiosis mutualisme. Aku beruntung bisa mengetik di kantornya dan dia merasa ditemani untuk mengerjakan pekerjaannya.


Suatu hari aku ke kantor Mbak Ana. Aku meminta uang untuk membayar SPP. Betapa terkejutnya aku, Mbak Ana saat itu marah-marah. Aku dikatakan mendadak minta uang. Seharusnya jauh-jauh hari sebelumnya bilang supaya dia bisa mencarikan pinjaman dulu. Aku diam merasa bersalah. Dalam hati aku menyesal. Rasanya aku telah mengecewakannya. Aku bilang kalau belum ada uang juga tidak apa-apa. Tapi Mbak Ana tetap mencari pinjaman uang.


Sore harinya, pulang dari kantor Mbak Ana minta maaf padaku sambil meneteskan air mata. Aku bingung, ada apa? Dia bilang kalau marahnya tadi waktu di kantor bukan tanpa alasan, ternyata saat itu dia pas datang bulan. Mendadak emosinya meledak. Dalam hati aku membatin, pantas saja, biasanya tidak pernah marah-marah padaku. Aku jadi maklum sesama perempuan pasti pernah mengalami juga.


Kakakku, pahlawanku. Itulah yang aku rasakan dari dulu sampai sekarang. Setelah lulus kuliah dan aku bekerja, aku ingin membantu keluarga yang sedang memperbaiki rumah. Waktu itu gajiku belum seberapa. Tapi aku ingin memberikan beberapa rupiah untuk bisa ikut berkontribusi. Waktu itu, tahun 1998, aku mau memberikan uang Rp. 150.000,00. Tapi Mbak Ana berpikiran kalau aku masih membutuhkan uang dan gajiku belum seberapa. Dia menyarankan uangku aku gunakan untuk keperluan lain dulu.


Ketika aku menikah pada tahun 1999, lagi-lagi Mbak Ana tidak tinggal diam. Saudara-saudaraku semua ambil peran, tapi aku akui peran Mbak Ana tidak bisa dibilang enteng.


Setelah anakku lahir, aku tetap mengingat-ingat kalau aku dulu pernah mau menitipkan uang pada Mbak Ana untuk membantu biaya renovasi rumah. Mbak Ana menerima uangku. Akan tetapi saat itu anakku genap berusia satu tahun. Ulang tahun anakku dirayakan. Mbak Ana membuat pesta kecil-kecilan, dan biayanya melebihi dari uang yang aku berikan untuknya di hari sebelumnya. Subhanallah, Mbak Ana tidak pernah ingin melihatku kekurangan.


Setelah menikah aku dan suami tinggal di rumah mertua. Pada saat usia anakku dua tahun, kami menempati rumah sendiri. Aku dan suami mengajar. Di rumah tidak ada pembantu rumah tangga. Sehari-hari anakku berada di penitipan anak bila kami tinggal bekerja.


Untuk meringankan pekerjaanku lagi-lagi Mbak Ana memberikan sesuatu yang amat berharga buatku. Sebuah mesin cuci dengan harga tidak murah karena mereknya juga tidak asal-asalan. Belum lagi ketika aku memperbaiki rumah, Mbak Ana juga memberikan uang untuk membeli bahan bangunan. Bagaimana aku bisa membalas kebaikan kakakku ini?


Kalau aku tak bisa membalas kebaikannya, minimal aku bisa memberikan sesuatu untuk orang tuaku. Sekarang kehidupanku jauh lebih mapan. Aku ingin memberikan sesuatu buat Mbak Ana. Aku tahu, dia pasti menolak. Dia merasa aku lebih membutuhkan materi yang aku miliki. Tapi aku akan memaksa padanya untuk menerima.


Ketika aku mendapatkan rezeki dan aku berikan padanya, dia masih bertanya,”Uang ini untuk bapak dan ibukah?”


“Bukan, itu buat kamu. Terserah mau digunakan untuk apa. Aku akan memberikan sendiri untuk bapak dan ibu.”


Rasanya tidak percaya kalau aku bisa mengulurkan beberapa lembar rupiah untuk kakakku. Mbak Ana mungkin masih ragu. Aku bilang misalnya buat membeli genteng yang bocor atau kran untuk rumah bapak juga tak apa. Lalu dia bilang kalau untuk membeli salep kaki yang gatal (kena kutu air), bagaimana? Ya sudah aku jawab, tak apa biar kakinya tidak mlethek-mlethek (pecah-pecah). (SELESAI)


Karanganyar, 8 Januari 2015

Noer Ima Kaltsum

/noerimakaltsum

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Ibu dari dua anak dan suka menulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?