Mengubah Ratapan Menjadi Tarian

21 Oktober 2011 06:58:48 Dibaca :

Seorang polwan dari jajaran kepolisian Salatiga membuat heboh masyarakat setempat. Polwan yang cantik dan terkenal cerdas bernama Sumini tersebut ditangkap karena kasus narkoba. Bukan saja sebagai pemakai tapi juga diduga sebagai pengedar. Ternyata di balik kasus tersebut ada kisah pahit kehidupan wanita itu. Beberapa tahun yang lalu dia bercerai dengan suaminya. Kemudian anak keduanya baru saja meninggal karena kanker otak. Padahal upaya pengobatan anaknya sampai ke Singapura telah diusahakan oleh wanita itu.

Kisah yang hampir sama dengan akhir yang berbeda juga terjadi pada seorang wanita. Saya pertama membaca namanya di sebuah koran dan kemudian saya browsing di internet mencari tahu tentang yayasannya. Ternyata yayasan itu didirikan oleh seorang single mother bernama Natalia S Tjahja, untuk mengenang putrid semata wayangnya, Maria Monique yang meninggal tiba-tiba karena penyakit misterius di usia tujuh tahun. Kemudian dia mendirikan sebuah Yayasan, Maria Monique-Lastwish Foundation.  Awalnya yayasan ini memfokuskan diri mewujudkan permintaan/hadiah anak-anak yang menderita penyakit kritis. Tapi kemudian yayasan ini berkembang membantu anak-anak korban perang dan korban bencana alam. Saya mengenal yayasan ini di koran saat memberi bantuan ke sebuah SLB di Semarang. Hebatnya, yayasan ini telah bergerak juga di luar negeri.

Setiap orang pernah mengalami kegagalan. Setiap orang pernah terluka begitu menyakitkan. Setiap orang pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Setiap orang pernah mengalami kehilangan tragis dalam hidupnya. Selanjutnya hidup masih harus terus berjalan. Akan tetapi hidup seperti apa yang akan kita jalani tergantung pilihan yang kita ambil.

Oprah Winfrey sering mengalami kekerasan fisik dan kekerasan seksual di masa kecilnya. Dia pernah memilih untuk melarikan diri dari lukanya, mencoba mengatasinya dengan berganti-ganti teman kencan. Tapi dia tidak pernah mendapat kelegaan. Pada akhirnya dia mengatasi lukanya dengan membantu membuka mata orang lain tentang kekerasan fisik dan seksual pada anak lewat acara talkshownya. Dia telah menginspirasi dan membuka mata banyak orang lewat acara, yayasan sosial, serta sekolah yang didirikannya.

Ada begitu banyak kisah tentang orang-orang yang mampu bangkit mengatasi kepedihannya. Bukan saja mampu bangkit tapi mampu membantu dan menjadi inspirasi bagi orang lain yang pernah mengalami kegagalan atau penderitaan yang sama dengannya.

Bila kita mau merenung sesaat, tentu ada maksud Tuhan di balik kegagalan, kehilangan, dan kejatuhan kita. Kita diijinkan mengalami semua itu supaya suatu saat kita dapat membantu orang lain yang mengalami keadaan serupa. Siapa yang paling mengerti derita seorang pecandu narkoba selain mereka yang juga pernah mengalami kecanduan narkoba?

Proses kehidupan memang bukan sesuatu yang instant. Begitu pula dengan proses seseorang untuk bisa bangkit dari pengalaman pahitnya, bahkan untuk bisa menolong dan menginspirasi orang lain. Seringkali ada banyak hal yang menjegal seseorang dalam proses tersebut. Beberapa hal tersebut antara lain,

Selalu memandang diri sebagai korban. Saat kita fokus memandang diri sebagai korban maka kita akan selalu mengasihani diri sendiri. Kita akan menghabiskan waktu untuk menuntut kasih sayang, perhatian, dan pengertian dari orang lain. Tak akan pernah ada waktu untuk berpikir apa yang dapat kita lakukan untuk membantu orang lain.

Menghabiskan energi untuk marah. Marah kepada semua orang yang kita anggap harus bertanggungjawab sebagai penyebab segala kepahitan kita. Memfokuskan pikiran dan usaha untuk membalas kepedihan yang kita rasakan. Menebarkan sakit hati agar orang lain pun dapat merasakan sakit yang kita rasakan. Sebenarnya, bukankah semakin kita marah akan semakin terasa kepedihan itu? Bukankah ketika kita terluka maka luka itu akan semakin parah bila kita terus menggaruknya?

Mencari pelampiasan. Ini adalah cara yang sering kita ambil untuk melupakan kepedihan kita. Tanpa sadar bahwa sebenarnya kita hanya menciptakan jurang baru dalam hidup kita. Seringkali kita sadar bahwa pelampiasan yang kita lakukan bukan hal yang baik. Jadi, tujuan sebenarnya adalah menghancurkan diri sendiri.

Sebelum proses menuju kebangkitan dari pengalaman pahit tersebut secara manusiawi memang kita akan melewati proses-proses mengasihani diri, kemarahan, serta mencari pelampiasan. Tapi kita tidak bisa berhenti di situ untuk sekian waktu. Memfokuskan hidup dan menghabiskan energi dalam fase yang hanya akan membuat kita semakin terluka dan bahkan merampas kepribadian kita.

Seharusnya kita memfokuskan diri pada apa yang di depan. Apa yang harus kita lakukan agar hidup kita lebih baik? Apa yang harus kita lakukan agar orang lain tidak mengalami pengalaman pahit yang sama dengan kita? Apa yang dapat kita lakukan agar orang yang sedang mengalami kepahitan yang sama dengan kita dapat merasa lebih baik?

Ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa saat kita berbagi kasih maka hidup kita dengan sendirinya akan dipulihkan melalui kasih yang kita bagikan. Kita tidak akan punya banyak waktu lagi untuk meratapi pengalaman pahit kita. Kita akan terlalu sibuk menari bersama orang-orang yang kita tolong. Akhirnya kita akan mendapati, bahwa kita semakin banyak tersenyum dan menjadi pribadi yang lebih sabar serta tegar menghadapi segala sesuatu.

Yunita Handayani

/nita.handayani

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Ibu yang bahagia :) www.yunita-handayani.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?