Teman Setia

30 September 2013 11:14:27 Dibaca :

Ditengah-tengah keheningan malam itu terdapat tiga orang pria yang lagi asik berbincang-bincang, mereka adalah Jontik Asa dan Losi. Dalam perbincangan tersebut, mencapai pada hal yang cukup serius yakni soal keberlanjutan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kita sudah tamat di bangku SMP, Bagaimana untuk melanjutkan ke jenjang SMA nya kawan-kawan? Ungkap Jontik. Iya, pertimbangan saya juga melihat kondisi orang tua kita yang kurang mampu dari segi pembiayaannya!!! Saya juga bingung untuk mejawab peroalan tersebut.... lanjut Asa. Begini kawan-kawan! Tak ketinggalan juga si Losi !!! Saya punya ide, kitakan masing-masing punya pohon karet, bagaimana kalau kita bersama-sama norehnya dan hasilnya kita bagi sama-sama? kita cukup SMA di kecamatan ini saja (kampung mereka sendiri). Wah, ide yang bagus itu, dengan serentaknya Jontik dan Asa.  Memang, dalam perjalanannya mereka bertiga ini, tidak pernah pisah dari masa kecil hingga kini dan segala sesuatu yang dijalankan selalu ingin bersama.

Singkat kata, ketika menjalani masa sekolah ke SMA mereka mulai aktifitas-aktifitas yang sebelumnya pernah didiskusikan. Pagi-pagi buta sekitar jam 04.00an, mereka sudah pergi bersama-sama ke kebun karet. Kebun karet yang ditoreh tersebut, secara bergantian dari kebun yang satu ke kebun yang lainnya dalam tiap hari mereka menorehnya. Hingga, perjalanan tersebut mencapai satu bulan terkait dalam aktifitas sekolah dan bekerja.

Dan, tiba saatnya karet tersebut dijual, dan setelah di timbang mencapai 200 kg. Pun, kami noreh tidak tiap hari, sabtu dan minggu kami istirahat ikut kegiatan di gereja. Dengan harga karet Rp. 10.000/kg kami memetik hasil ± Rp.2.000.000/bulannya. Jadi, masing-masing dapat sekitar 600-an ribu rupiah. Kita bayar ke sekolah 50 ribu/bulan. Sisanya, Rp. 300.000,- kita tabungkan dan Rp. 250.000 nya lagi untuk jajan tiap harinya di sekolah. Karena, kami punya cita-cita untuk melanjutkan ke perguruan tinggi nantinya. Mudah-mudahan biayanya bisa mencukupi.

Dalam menjalani aktifitas sehari-hari sepulang dari sekolah, setelah selesai makan siang kami belajar bersama dengan mengulang materi ajar yang diberikan oleh Bapak/Ibu Guru di sekolah. Ini Setelah itu, kami bertiga tidur siang untuk mengistirahatkan segala aktifitas yang telah kami lakukan. Sore harinya, kami pergi ke hutan sambil bawa ketapel cari binatang yang ada dihutan. Walaupun kadang-kadang tidak binatang, sepulangnya kami bawa sayur yang dipetik di hutan, dan kayu api untuk masak dirumah.

Paling seru!!! saatnya musim buah, kami bertiga sepulang dari sekolah pergi kehutan untuk cari buah di kampung tembawang yang kami miliki. Kampung tembawang ini peninggalan nenek moyang dahulu memang betul-betul ditanam dan dirawat hingga kini. Di dalam kampung tembawang yang kami miliki, utamanya didominasi oleh pohon buah-buahan. Kemudian, sebagai ucapan terima kasih kepada sang pencipta baik sebelum dan sesudahnya orang kampungku slalu melakukan upacara adat.

Ayo kita bantu orang para orang tua cari bahan-bahan dihutan untuk keperluan beradatnya, ungkap si jontik mengajak kedua orang temannya.  Bambu, aneka pohon kayu hutan, rotan, daun-daunan hutan kami pikul bersama-sama orang tua. Dalam perjalan, Jontik tiba-tiba bilang kepada orang tua disampingnya, saya merasa bangga memiliki kekayaan hutan ini Pak! Mudah-mudahan kondisi ini tidak pernah berubah sampai anak cucu kami nantinya, tegasnya!!!

Cukup, pengalaman dari ilegal loging yang pernah terjadi sebelumnya ya! Ungkap si Asa. Kayu-kayu alam yang merupakan kayu-kayu klas satu diambil habis-habisan. Namun, apakah persoalan dan atau perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita sekarang? Tegas Asa. Sehingga, belajar dari itu jangan pernah termakan bujuk rayu atau janji manis ketika pengusaha dalam bentuk apapun datang ingin mengambil alih hutan dan lahan kita yang ada.

Ya, apalagi pengalaman yang ada di tempat lain yang biasa ditayangkan di televisi, perusahaan-perusahaan yang ada bukan malah menyelesaikan masalah, namun malah menambah masalah!!! Ungkap si Losi. Terjadi konflik antar warga sendiri, kerusakan lingkungan kita, pengambilan hak-hak masyarakat adat, dan gejala sosial lainnya malah terjadi, dan kita menjadi buruh ditanah kita sendiri. Kemudian tidak terlepas juga runtuhnya peradaban kita, akibat pergeseran hutan dan lahan. Kalau hutan dan lahannya sudah habis yang ada perayaan-perayaan adat kita lakukan tinggal sebatas kamuflase saja!!! Tegas si Losi

Iya! betul itu, jawab oleh bapak Domong (Kepala Adat)! Mari kita tetap lestarikan hutan kita, agar identitas kita tidak hilang. Orang-orang seperti kalian inilah sebagai penerus yang kami harapkan. Kita sudah lama hidup dan tinggal ditempat ini, kita sudah lama merawat dan menjaga hutan kita ini. Jangan berpikir jangka yang pendek, berpikirlah dengan jangka waktu yang panjang. Hutan, lahan dan sumberdaya alam kita yang ada ini kalau dikelola secara baik, adil dan berkelanjutan mampu menghidupi masyarakat yang ada.

Tulisan di post oleh: Nikasius Meki

Nikasius Meki

/nikasiusmeki

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Belajar, belajar dan terus belajar.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?