Tak Ada Lagi Sumur di Ladang

27 Maret 2013 05:04:57 Dibaca :

Tak Ada Lagi Sumur di Ladang

Hai orang gila! Untuk apa kau masih di sini. Lihat, tak ada satupun dari mereka yang sudi berbicara denganmu. Pergilah!

Tak sekali kudengar pekikan suara itu. Suara yang mampu memecahkan selaput gendang telinga. Aku merasakan pertengkaran sengit antara hati dan pikiranku. Di saat rasa bertentangan dengan logika. Aku lelah, rasanya aku sudah terlalu jauh melangkah dari titik semula.

Kupeluk erat kedua kakiku, tubuhku pun mencekung di sudut ruangan yang tak begitu luas. Bayangan tubuh yang terbentuk di setiap dindinglah yang setia menemani malamku. Sesekali nafas angin membelai lembut wajahku yang kusam, dan tanpa kusadari buliran air matapun tertumpah dan membasahi pipiku. Entah apa yang kutunggu di sini. Di dalam ruangan pengap, yang membuatku merasa lebih baik daripada harus menghirup udara bebas di luar sana.

Sudah berkali-kali bibirku mencoba melawan cibiran itu. Lidahku kelu, rasanya pita suaraku pun tak berfungsi lagi. Aku bukan gila. Aku tidak memiliki kelainan. Jika aku gila, lantas panggilan apa yang pantas untuk kawan-kawanku yang suka mencela, dan guru yang suka memarahiku.

Semua berawal ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Sebelum aku di masukkan ke sekolah itu, ibuku berpesan agar aku sungguh-sungguh dalam belajar. Ibu ingin aku menjadi seorang guru, bukan seperti kakak-kakakku.

Siang itu, aku ingat betul ketika pak Agam guru kesenianku, menyuruh murid-muridnya untuk menggambarkan sebuah pemandangan. Aku lihat temanku di meja depan, meja samping, dan meja belakangku. Mereka semua menggambarkan peman-dangan berupa gunung seperti yang dicontohkan pak Agam di papan tulis. Aku bingung, mengapa semuanya menggambar dua buah gunung dengan matahari di tengahnya, dan sawah di bawahnya. Aku belum pernah melihat pemandangan seperti itu. Ketika pak Agam memperingatkan bahwa waktu tinggal lima menit, beliau berjalan menuju mejaku. Pak Agam marah, karena kertasku sama sekali belum tergambar. Kemudian waktu yang tersisa itu aku gunakan untuk menggambar.

Setelah dikumpulkan, pak Agam mengoreksinya satu persatu. Semua gambar yang melukiskan pemandangan dengan dua buah gunung dengan matahari di tengahnya selalu dipuji bagus. Ketika tiba di gambar milikku, beliau kembali marah. “Apa-apaan ini!” aku mencoba menjelaskan bahwa itu adalah gambar luka di lenganku. Semua menertawakanku. “Dasar gila!” Cibir teman-temanku. Aku terdiam, layaknya anak sekolah dasar yang masih takut dan malu-malu. Bukankah bekas luka terkena pisau di lenganku adalah sebuah pemandangan? Pemandangan itu tak sebatas gambar gunung. Aku ingat sekali cerita ibu ketika ibu masih sekolah dulu.

Kisah selanjutnya, ketika aku sedang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Guru yang sama ketika aku belajar kesenian waktu itu, Pak Agam. Beliaulah yang mengampu semua mata pelajaranku. Saat itu sedang membahas soal pantun. Pak Agam menulisan satu buah pantun yang tak asing bagiku. Mungkin menurut kawan-kawan pantun itu bagus, tapi menurutku biasa. Aku sudah sering membacanya di buku kakak-kakakku ketika sekolah dasar dulu. Aku juga pernah diceritakan oleh ibu ketika ibu sekolah dulu, ibu juga pernah diberi contoh pantun ini oleh gurunya, dan itu sudah lama sekali. Kenapa ketika aku sekolah, pantun yang diajarkan adalah pantun yang serupa?

Kalau ada sumur di ladang

Boleh kita menumpang mandi

Kalau ada umur yang panjang

Boleh kita berjumpa lagi

Bukan aku membenci pantun ini, tapi mengapa harus ini lagi? Semua kawan-kawanku menulis dengan semangat. Seperti biasanya, pak Agam berjalan melihat-lihat pekerjaan kami, namun ketika melewati kursiku pak Agam berhenti. “mengapa kau tidak menulisnya!” Aku menjawab, “sudah hafal dengan pantunnya sejak dulu, pak!” Pak Agam marah, beliau mengira aku meremehkan pelajarannya. Kembali seisi kelas mencercaku. “Dasar gila! Gila! Kau gila!”

“Kalau aku gila, berarti sisanya tidak gila. Tetapi bodoh!”, Kata-kata itu terluap dari bibirku. Pak Agam semakin marah, dan menyuruhku berdiri di depan kelas dengan satu kaki, dan tangan di telinga. Aku tak keberatan, karena aku mengaku salah. Aku pun tak kaget dengan hukuman seperti itu, karena dulu kakak-kakakku juga pernah bercerita kalau mereka pernah dihukum seperti aku, gara-gara lupa mengerjakan tugas.

Untuk memberi hukuman saja masih monoton. Kenapa hukuman diberikan hanya untuk menimbulkan efek jera, kenapa tidak sekaligus yang memberikan manfaat. Membuat sepuluh pantun dengan tema yang berbeda misalnya. Menurutku akan lebih menimbulkan efek jera dan bermanfaat. Lihat saja nanti, apakah masih ada orang yang mandi di sumur ladang mereka? Di ladang mereka saja tidak ada sumur, kenapa masih dibuat untuk sampiran sebuah pantun dari tahun ke tahun.

Hari-hari berikutnya, aku tidak masuk sekolah. Rasanya aku ingin berhenti saja. Guruku selalu marah dengan apa yang aku lakukan, kawan-kawanku selalu mencercaku dengan sebutan orang gila. Aku tak punya teman. Saat itu aku benar-benar sudah kehilangan semangat. Aku malas untuk belajar di sekolah. Setiap aku mendapati masalah dalam pelajaran, ibu tak ada di sampingku untuk membela puterinya. Lagi pula kalau aku lulus dengan nilai bagus nanti, ibu dan ayah juga tidak bisa melihat rapotku. Kakak-kakakku? Mereka hanya sibuk bekerja sebagai buruh cuci, sebagai kuli bangu-nan, tak satu pun yang menanyakan tentang sekolahku. Mereka hanya berusaha untuk membiayai sekolahku saja.

Akhirnya, aku melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Awalnya semua terlihat biasa saja, karena aku memiliki guru dan kawan-kawan baru. Saat itu pelajaran kewarganegaraan, semua murid ditugaskan untuk menghafalkan pembukaan UUD’45. Aku tidak keberatan, kalau hanya untuk menghafalkan itu cukup mudah, namun untuk apa pembukaan UUD’45 dihafalkan? Harusnya diamalkan, bukan dihafalkan. Aku rasa itu lebih baik. Belum lagi hafalan-hafalan yang diberikan guruku saat pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jepang, dan bahasa Daerah. Memang ada benarnya, bahasa itu sangat penting apalagi belajar bahasa asing untuk menghadapi arus globalisasi. Bahasa Inggris harus kita kuasai untuk bisa berkomunikasi dengan seluruh orang di dunia. Bahasa Jepang juga, karena sebagian besar mereka tidak mau menggunakan bahasa Inggris, sedangkan kita banyak bekerja sama dengan Jepang, makanya kita harus mempelajarinya. Masih dini sudah diajarkan bahasa Inggris oleh gurunya, mungkin terdengar keren. Tapi, aku sama sekali tidak setuju. Aku tidak mau sekolahku menjadi tempat pencarian label keren. Aku lebih suka belajar bahasa daerah. Banyak teman-temanku yang tidak paham dengan bahasa daerahnya sendiri. Mereka juga tidak begitu paham dengan bahasa Indonesia. Semua bahasa dijejali ke otak kami dalam usia sedini mungkin, sehingga semua bahasa itu tertumpuk di dalam otak kami yang kecil ini. Bahasa asing mereka kuasai, namun bahasanya sendiri dipleset-pleseti dan disalahartikan. Itulah mengapa aku lebih suka terdiam di ruangan yang pengap ini, dari pada harus menghirup udara bebas di luar sana yang terselubung kebodohan, kebohongan, dan membuat hati bak tersayat sembilu.

“Hai orang gila! Untuk apa kau masih di sini. Lihat, tak ada satupun dari mereka yang sudi berbicara denganmu. Pergilah!” Kini aku tak pernah mempedulikah perkataan itu.mereka hanyalah orang-orang yang berusaha untuk mencuri impianku. Impian untuk menjadi seorang guru. Aku tak ingin negaraku didogma dengan sesuatu yang sebenar-nya keliru. Aku teringat akan perkataan ibu, “menuntut ilmu saja sudah berpahala, apalagi memberikan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain.” Aku ingin menjadi guru yang bisa menjadi contoh. Aku tak ingin anak cucuku nanti dididik dengan contoh yang serupa dengan ibuku ketika sekolah dulu. Supaya tak ada lagi pembatasan terhadap pemandangan dengan gambar dua buah gunung, dan tidak ada lagi pantun sumur di ladang karena akan berevolusi.

Munic Talova

/munictalova

Saya Munic Talova, Puteri Jawa kelahiran Sumatera (pujakesuma).
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?