Magister Meja Kardus

19 Januari 2012 10:31:35 Dibaca :

Ada istilah rumah kardus, tempat  para pemulung berlindung dari derasnya hujan dan teriknya matahari. Dan aku pernah menjadi bagian dari pemulung. pemulung yang kebetulan juga seorang mahasiswa. Mengapa? Karena pada saat itu aku juga memanfaatkan kardus, untuk menjadi ‘meja belajar’.

Sejak kecil, aku terbiasa membaca dan belajar dengan ‘meja’. Entah di meja makan, meja dapur atau di meja belajar. Untuk itu, bapak menyiapkan meja belajar besar bagi kami semua. Jadi belajarnya malah seperti liqo, satu meja dirubung enam orang. Asyik juga, jadi ada tempat bertanya kalau ada yang kurang kumengerti.

Kos di tahun pertama menjadi mahasiswa di sebuah sekolah tinggi kedinasan. Oleh karena meja kayu nangka yang kudapatkan gratis dari kakak kelas, ternyata terlalu besar untuk dimasukkan ke kamar, dia kuletakkan di ruangan tengah. Sedang di kamar, aku memanfaatkan kardus bekas yang di atasnya diberi papan triplek untuk belajar. Meski cuma kardus bekas, ini bukan sembarang kardus. Kardus bekas yang kupakai ini dilapisi lilin cukup tebal, karena biasa digunakan untuk mengeksport ayam potong. Kudapatkan kardus itu dari teman satu kosan yang saudaranya punya usaha ayam potong untuk diekspor.

Jadi, secara struktur kardus itu sangat tebal dan kuat. Tidak lembek, juga bila terkena (sedikit) air. Supaya menarik, bagian luarnya kulapisi dengan kertas kado. Tak hanya sebagai meja, dia juga berfungsi sebagai ‘bunker’. Benda-benda penting pribadi yang kecil-kecil seperti album foto keluarga, juga buku diary, kusimpan rapi dalam kardus itu.

Tapi, layaknya kardus, di atasnya ada empat lipatan sehingga tidak rata. Kuakali kondisi itu dengan selembar white board di atasnya, agar aku leluasa menulis. Ukuran white boardnya tidak persis sama dengan luas bagian atas kardus. White board itu agak kebesaran, sehingga kadang-kadang white board itu njomplang ke kiri atau ke kanan. White board ini juga multi fungsi sebenarnya. Bisa untuk ‘taplak’ meja kardus itu, kadang juga untuk papan tulis saat aku mengaji pekanan bersama teman-teman.

Kalau saja waktu itu teknologi sudah canggih dan bisa memindai kondisi mahasiswa dari jarak jauh, maka tampilanku saat belajar rasanya pantas untuk dijuluki mahasiswa pemulung, atau mahasiswa meja kardus. Pokoknya modal minimalis bangetlah. Gakpapa, yang penting prestasi maksimalis. He. Ya, kadang keprihatinan justru melecut diri untuk memberikan yang terbaik yang kita mampu. Begitulah yang kurasa saat itu.

Maka, meja kardus itu sempat menemaniku satu tahun lamanya, awal menjadi mahasiswa. Memang cuma kardus bekas. Tapi jasanya luar biasa. Kalau saja dia benda hidup, maka aku akan berterima kasih padanya. Karena dialah, salah satunya, yang mengantarkanku menjadi aku seperti sekarang ini. Terima kasih ya, mejaku kardusku yang berjasa :)

*melepaspenatsiangsambilbiduran

pamulang, 19 jan 2012

Mukti Amini Farid

/muktiaminifarid

seorang ibu rumah tangga biasa, yang ekspresif, ulet, romantis, dan detail. sekarang nyasar profesinya jadi dosen PAUD di sebuah kampus negeri. tapi kadang2 juga jadi peneliti, kadang auditor, kadang redaktur, kadang konsultan TK, kadang narsum tivi, kadang tukang fotokopi, kadang operator telpon, kadang juru ketik, kadang guru ngaji, kadang badut, whateverlah. kerjaan apa aja asal halal, sabet aja. he
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?