PROSPEK BISNIS PERTAMBANGAN NASIONAL 2011 DAN TANTANGANNYA

29 Januari 2011 17:38:55 Dibaca :
PROSPEK BISNIS PERTAMBANGAN NASIONAL 2011 DAN TANTANGANNYA

oleh  : Muhammad Solikin

A. PENDAHULUAN

Indonesia dikenal dengan Negara yang kaya akan sumberdaya tambangnya dan saat ini Indonesia memproduksi berbagai macam bahan tambang yang berguna bagi kebutuhan dalam negeri dan luar negeri. Dunia pertambangan Indonesia telah menyumbang banyak kemajuan perekonomian Indonesia. Karena dunia pertambangan mampu menambah devisa Negara dengan investor-investor yang menanamkan modalnya untuk mengolah sumberdaya Indonesia. Pertambangan Indonesia memiliki potensi untuk dijadikan tumpuan pendapatan dan sebagai usaha padat karya yang berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja. Merujuk pada data US Geological Survei tahun 2006, cadangan tembaga Indonesia sebesar 38 ribu metrik ton (ke 8 dunia), nikel 13 juta metrik ton (4 dunia), emas (8 dunia), dan timah (6 dunia) (Bank Indonesia tahun,2006). Dengan potensi yang sedemikian besar, dibutuhkan capital inflow yang besar untuk membangunkan potensi tersebut menjadi produksi riil. Berdasarkan fakta tersebut pengelolaan sumber daya tambang tersebut bagi pembangunan di Indonesia menjadi sangat penting untuk kembangkan dan dijadikan prioritas untuk menjadi penghasil devisa negara dan penyerapan tenaga kerja yang potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perlu dirumuskan dan di format pola pengelolaan dan strategi penanganan yang bijaksana agar eksploitasi potensi tambang tersebut dapat memberikan manfaat yang optimal dalam pembangunan bangsa. Dalam rangka optimalisasi pengelolaan potensi sumber daya alam tambang tersebut KADIN INDONESIA berupaya urun rembug menyampaikan makalah yang berjudul “ Prospek Bisnis Pertambangan nasional 2011 dan tantangannya”

B. Potensi Sumberdaya Tambang di Indonesia

Keberadaan potensi sumber daya alam tambang di Indonesia menempatkan Indonesia sebagai negara yang berpengaruh dan memiliki peran penting demi ketersediaan sumberdaya dunia. Khususnya sumberdaya yang menyangkut ke dunia tambang yang meliputi logam mulia, logam beharga, energy, dan energy alternative. Indonesia dikenal dengan Negara yang kaya akan sumberdaya tambangnya dan saat ini Indonesia memproduksi berbagai macam bahan tambang yang berguna bagi kebutuhan dalam negeri dan luar negeri. Dunia pertambangan Indonesia telah menyumbang banyak kemajuan perekonomian Indonesia. Karena dunia pertambangan mampu menambah devisa Negara dengan investor-investor yang menanamkan modalnya untuk mengolah sumberdaya Indonesia. Seharusnya Indonesia bangga dengan segala kekayaan yang dimiliknya ini. Salah satu cara adalah dengan mengeksploitasi sumberdaya tersebut dengan kegiatan eksploitasi yang memiliki sedikit atau tidak semasekali dampak buruk bagi lingkungan hidup. Sudah saatnya saat ini Indonesia meprioritaskan pertambangan sebagai tujuan utama untuk mendongkrak kemajuan bangsa. Berbagai macam bahan tambang tersebar di Indonesia dari sabang sampai merauke banyak kita temukan tambang-tambang yang mengeksploitasi sumberdaya alam Indonesia mulai dari emas, timah, tembaga, perak, intan, batubara, minyak, bauksit, dll. Semuanya terdapat di Indonesia. Kerterdapatan semuberdaya alam penting untuk diketahui karena bisa sebagai tolak ukur bagi kita sebagai modal perkebangan bangsa khusus dari segi ekonomi. Maka dari pada itu melalui paper ini penulis akan mencoba mengulas potensi sumberdaya tambang di Indonesia. Penulis akan menjelaskan satu-persatu bahan tambang yang ada di Indonesia berserta potensi yang dimilikinya dan potensi barang tambang tersebut dimata dunia. 1. Potensi sumberdaya alam Indonesia Secara umum potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh Indonesia berdasarkan data Indonesia mining asosiation menduduki peringkat ke-6 terbesar untuk Negara yang kaya akan sumber daya tambang. Namun dalam soal sinkronisasi peraturan Indonesia menduduki peringkat ke-42. Hal ini disebabkan banyaknya peraturan-peraturan yang ada di Indonesia tidak sinkron dengan dunia pertambangan atau malah tidak membolehkan dilakukannya kegiatan penambangan. Contoh “Masalah pemakaian hutan untuk kegiatan pertambangan masih menjadi isu utama, tidak terjadinya sinkronisasi dengan Kementerian Kehutanan soal hutan. Peraturan perundang undangan yang belum mendukung eksplorasi tambang, ditambah tidak adanya kepastian soal permintaan daerah yang menginginkan bagian dari kegiatan eksplorasi tambang,” tentu ini mempengaruhi nilai investasi dunia pertambangan Indonesia sehingga pantas 10 tahun terakhir ini tidak ada peningkatan investasi di bindang pertambangan yang ada hanya pengembangan dari perusahaan yang telah menanamkan modalnya. Kita semua berharap pemerintah Indonesia dapat memperbaiki semua ini karena potensi yang dimiliki oleh Indonesia sangat besar. Indonesia menduduki peringkat ke-6 yang memiliki potensi sumberdaya jika ini dimanfaatkan maka akan menjadi sumber devisa Negara serta menyerap tenaga kerja Indonesia. 2. Potensi Batubara Indonesia Estimasi 2008 World Coal Institute, cadangan batubara Indonesia hanya 0,5 % dari cadangan dunia namaun dari segi produksi Indonesia menempati posisi ke enam dengan jumlah produksi mencapai 246 juta ton, peringkat pertama ditempati China dengan jumlah produksi 2.761 juta ton, disusul USA 1007 juta ton, dan India 490 juta ton, Australia 325 juta ton, Rusia 247 juta ton. Untuk nilai Ekspotir batubara Indonesia menduduiki peringkat ke-2 terbesar di dunia dengan jumlah ekspor sebesar 203 juta ton. Posisi pertama ditempati Australia dengan jumlah ekspor sebesar 252 juta ton, Sedangkan China sebagai produsen batubara terbesar dunia, hanya menempati peringkat ke tujuh sebagai eksportir dengan jumlah 47 juta ton. Jika melihat data diatas Indonesia lebih mementingka untuk memasarkan batubara keluar negeri dibandingkan untuk memanfaatkannya untuk kebutuhan dalam negeri. Terbukti saat ini batubara Indonesia 85,5 % di pasarkan di india, cina, dll. Sedangkan sisanya untuk kebutuhan dalam negeri. Hal ini sungguh ironis padahal Indonesia dengan daerah yang bergitu luas dan pada penduduk membutuhkan energy untuk hidup yaitu energy listrik namun dengan kebijakan pengelolaan batubara seperti ini sepantasnya Indonesia dikatakan krisis energy. Keterdapatan batubara di Indonesia tersebar di seluruh wilayah Indonesia berikut ini daera-daerah penghasil batubara Indonesia: a) Bukitasam : Pusatnya di Tanjungenim, Sumatra Selatan. b) Kotabaru : Pulau Laut, Kalimantan Selatan. c) Sungai Berau : Pusatnya di Samarinda, Kalimantan Timur. d) Umbilin : Pusatnya di Sawahlunto, Sumatra Barat. Selain itu, tambang batubara terdapat juga di Bengkulu, Jawa Barat, Papua dan Sulawesi Selatan. Tambang batubara dusahakan oleh PN Batubura. 3. Potensi Minyak dan Gas Indonesia Potensi minyak Indonesia juga cukup besar dibandingkan dengan Negara-negara tentangga. Indonesia menduduki peringkat 25 sebagai negara dengan potensi minyak terbesar yaitu sebesar 4.3 milyar barrel, selain itu Indonesia juga menduduki peringkat 21 penghasil minyak mentah terbesar dunia sebesar 1 juta barrel/hari, Indonesia juga menduduki peringkat 24 negara pengimpor minyak terbesar sebesar 370.000/hari, dan peringkat 22 negara pengonsumsi minyak terbesar sebesar 1 juta barrel/hari, peringkat 13 negara dengan cadangan gas alam terbesar sebesar 92.9 trillion cubic feet, peringkat ke-8 penghasil gas alam terbesar dunia sebesar 7.2 tcf, peringkat ke-18 negara pengonsumsi gas alam terbesar sebesar 3.8 bcf/hari, peringkat ke-2 negara pengekspor LNG terbesar sebesar 29.6 bcf, a. Potensi ini terdapat di daerah-daerah sebagai berikut: Tambang minyak bumi terdapat di : 1) Babo : Papua 2) Cepu : Jawa Tengah 3) Delta Sungai Berantas : Jawa Timur 4) Dumai : Riau 5) Kembatin : Kalimantan Tengah 6) Kepulauan Natuna : Riau 7) Klamano : Papua 8) Lhokseumawe : DI Aceh 9) Majalengka : JawaBarat 10) Peureuk : Jawa Barat 11) Plaju : Sumatra Selatan 12) Pulau Bunyu : KalimantanTimur 13) Pulau Seram : Maluku 14) Pulau Tarakan : Kalimantan Timur 15) Pulau Tenggara : Maluku 16) Surolangun : Jambi 17) Sorong : Papua 18) Sungai Gerong : Sumatra Selatan 19) Sungai Mahakam : Kalimantan Timur 20) Sungai Paking : Riau 21) Tanjungpura : SumatraUtara b. Pabrik Pengolahan Minyak Bumi Pabrik pengolahan minyak bumi terdapat di : * Balikpapan : Kalimantan Timur * Cepu : Jawa Tengah * Cilacap : Jawa Tengah * Pangkalan Brandan : SumatraUtara * Plaju : Sumatra Selatan * Sungai Gerong : Sumatra Selatan * Wonokromo : Jawa Timur 4. Potensi Emas Indonesia Berdasarkan data USGS cadangan emas Indonesia berkisar 2,3% dari cadangan emas dunia. Dengan cadangan sebesar ini Indonesia menduduki peringkat ke-7 yang memiliki potensi emas terbesar didunia. Sedangkan peroduksi emas Indonesia sekitar 6,7% produksi emas dunia dan menduduki peringkat ke-6 di dunia. Daerah-daerah penghasil emas Indonesia diantaranya: 1) Bengkalis : Sumatra 2) Bolaang Mangondow : Sulawesi Utara. 3) Cikotok : Jawa Barat. 4) Logas : Riau 5) Meuleboh : DI Aceh 6) Rejang Lebong : Bengkulu Selain itu terdapat juga di Lampung, Jambi, Kalimantan Barat. Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Pabrik pengolahan emas terdapat di Cikotok, Jawa Barat. 5. Potensi Timah Indonesia Potensi timah Indonesia tidak kalah seru dibandingkan dengan potensi emas. Indonesia menduduki peringkat ke-5 untuk cadangan timah terbesar di dunia dimana candangan timah Indonesia sebesar 8,1% dari cadangan timah dunia. Sedangkan dari segi produksi timah Indonesia menduduki peringkat ke-2 dengan besar produksi 26% dari julah produksi dunia. Daerah-daerah yang timah di Indonesia diantaranya : 1) Bangkinang : Riau 2) Dabo : Pulau Singkep 3) Manggar : Pulau Belitung 4) Sungai Liat : Pulau Bangka Pabrik pelabuhan bijih timah terdapat di Muntok (Pulau Belitung) 6. Potensi Tembaga Indonesia Cadangan tembaga Indonesia sekitar 4,1% dari cadangan tembaga dunia, dan merupakan peringkat ke-7 sedangkan dari sisi produksi adalah 10,4% dari produksi dunia dan merupakan peringkat ke-2. Daerah-daerah penghasil tembaga di Indonesia diantaranya: 1) Cikotok : JawaBarat 2) Kompara : Papua 3) Sangkarapi : Sulawesi Selatan 4) Tirtamaya : Jawa Tengah Selain itu, terdapat juga di daerah Jambi dan Sulawesi Tengah. 7. Potensi Nikel Indonesia Cadangan nikel Indonesia sekitar 2,9% dari cadangan nikel dunia, dan merupakan peringkat ke-8 sedangkan dari sisi produksi adalah 8,6% dan merupakan peringkat ke-4 dunia. Daerah-daerah penghasil nikel Indonesia diantaranya: 1) Bengkalis : Sumatra 2) Bolaang Mangondow : Sulawesi Utara. 3) Cikotok : Jawa Barat. 4) Logas : Riau 5) Meuleboh : DI Aceh 6) Rejang Lebong : Bengkulu Selain dari potensi-potensi sumberdaya yang disebutkan diatas banyak lagi sumberday alam lain yang menjadi kebangga Indonesia dimata internasional.

C. Prospek Bisnis Pertambangan Nasional 2011

Transaksi investasi dan akuisisi di sektor pertambangan 2011 global akan semakin cerah. Hal ini terlihat dari berbagai transaksi yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia baik di pertambangan emas, batubara, nickel maupun biji mineral lainnya. Walter Energy Inc, perusahaan berbasis di Amerika dalam pernyataannya di Jumatminggu lalu berminat untuk membeli perusahaan Kanada yaitu Western Coal dengan nilai USD 3,3 milyar. Dalam transaksi lainnya, perusahaan Australia Andean Resources Ltd telah setuju untuk melakukan buyout Goldcorp Inc perusahaan yang berbasis di Kanada dengan nilai USD 3,58 milyar. Rio Tinto bersama Aluminum Corporation of China akan membentuk perusahaan patungan yang bertujuan untuk melakukan eksplorasi sumber daya mineral di China. Rio Tinto juga akan memperluas usaha patungan dengan Sinosteel Corp. untuk menambang biji mineral di Australia. Meningkatnya transaksi investasi dan akuisisi di sektor pertambangan dipicu oleh besarnya permintaan akan emas, mineral dan batubara di berbagai negara dengan pertumbuhan tinggi seperti China dan India serta kuatnya harga komoditi di tingkat dunia. Disamping peningkatan permintaan, adanya pengetatan pemberian ijin pertambangan di berbagai negara, peningkatan standar dampak lingkungan dan buruknya infrastruktur juga menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan besar berskala global untuk membentuk usaha patungan dengan perusahaan pertambangan lokal. Diharapkan dengan adanya usaha patungan tersebut maka kecepatan investasi, kegiatan eksplorasi dan penambangan dapat ditingkatkan. Di Indonesia sendiri, sektor pertambangan tetap akan menjadi primadona dengan melihat potensi sumber daya mineral yang masih luas untuk digarap baik oleh perusahaan lokal maupun asing. Tidaklah mengherankan bila di 2011 akan terjadi berbagai transaksi investasi dan akuisisi besar yang melibatkan perusahaan global di sektor pertambangan di Indonesia.

D. Tantangan Bisnis Pertambangan Nasional

Di tengah tingginya kontribusi sektor pertambangan terhadap penerimaan negara, beberapa masalah masih menghambat perkembangan industri pertambangan, seperti tumpang tindih lahan tambang dengan hak penguasaan hutan (HPH)/hutan tanaman industri (HTI)/perkebunan dan hutan konservasi, peralihan sistem kontrak karya (KK) ke izin usaha pertambangan (IUP) dan keinginan pemerintah daerah menerbitkan kuasa pertambangan (KP). Masalah krusial dalam tumpang tindih lahan adalah kegiatan pertambangan di kawasan hutan lindung. Sesuai UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, pasal 38 ditetapkan hutan lindung tertutup bagi kegiatan pertambangan dengan sistem open pit. Hal ini didasarkan atas kepentingan penyelamatan ekologi hutan tropis Indonesia. Padahal cadangan mineral terbesar justru berada di kawasan hutan lindung. Aturan itu juga membuat pengusaha tambang mengalami kesulitan untuk menentukan titik eksploitasi, karena sebagian areal hutan lindung berimpitan dengan lahan konsesi pertambangan. Untuk itu, telah diterbitkan PP No. 10/2010 tentang tata cara perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dan PP No. 24/2010 tentang penggunaan kawasan hutan yang diterbitkan pada Februari 2010. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pertumbuhan sektor pertambangan dapat mencapai hasil yang maksimal di masa mendatang. Salah satunya adalah laju pertumbuhan volume ekspor di sektor pertambangan. Laju pertumbuhan volume temyata cenderung menurun sejak awal tahun 2007. Volume ekspor batu bara, misalnya, mencatat pertumbuhan tahunan 34,2 persen pada Januari 2007. Namun, laju pertumbuhan volume ekspor batu bara terus menurun hingga mencapai nilai negatif pada September 2009. Tren yang sama ditunjukkan oleh volume ekspor gas dan volume ekspor minyak bumi dan produksinya. Fenomena penurunan laju pertumbuhan volume ekspor ini menyebabkan sektor pertambangan tidak dapat memperoleh kinerja yang maksimal. Ini terutama saat kenaikan harga minyak bumi maupun komoditas pertambangan, yang seharusnya dapat mendongkrak kinerja sektor pertambangan dengan sangat baik. Untunglah, sejak Oktober 2009, laju pertumbuhan volume ekspor tiga komoditas pertambangan tersebut mulai kembali menunjukkan tren meningkat. Selain itu, produksi di sektor pertambangan pada tahun 2009 juga tidak banyak menunjukkan perubahan dibandingkan produksi pada tahun 2000. Hal ini dapat dilihat dari indeks produksi pertambangan (IPP) dari beberapa komoditas pertambangan yang cenderung berada tidak jauh dari level 100. Ini berarti kinerja produksi beberapa komoditas pertambangan tidak meningkat secara signifikan dibandingkan dengan kinerja produksinya di tahun 2000. Misalnya, IPP tembaga mencapai 106,4 dan IPP emas mencapai 112 pada Desember 2009. Sementara itu, IPP yang masih menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan adalah IPP baru bara yang mencapai 309,2 pada Desember 2009. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kredit yang disalurkan ke sektor pertambangan. Kredit tersebut mengalami penurunan tajam sejak September 2008 hingga pertengahan tahun 2009. Penurunan yang cukup signifikan pada penyaluran kredit ke sektor pertambangan ini tentu akan mengganggu kinerja sektor tersebut Dengan demikian, sektor pertambangan tidak dapat mencapai kinerja yang maksimal Pada tahun 2008. penyaluran kredit ke sektor pertambangan mengalami pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 62 persen. Namun, pertumbuhannya terus menurun hingga kredit ke sektor pertambangan sempat mengalami pertumbuhan negatif pada Mei dan Juni 2009. Untunglah, sejak Juli 2009, laju pertumbuhan kredit yang disalurkan ke sektor pertambangan sudah mulai kembali menunjukkan tren meningkat Pada April 2010 pertumbuhannya sudah mencapai 56,6 persen.

E. Hambatan dalam pengelolaan Bisnis Pertambangan

Berdasarkan kajian Komite Tetap Inestasi Koordinator Wilayah Tengah Kadin Indonesia ditemukan fakta berbagai hambatan dalam pengotimalan bisnis pertambangan di Indonesia yaitu : 1. Belum adanya penataan potensi pertambangan yang berbasis masyarakat Daerah, dimana investor sering konflik dengan masyarakat lokal akibat kecemburuan sosial dan ketidak adilan. 2. Perilaku oknum aparat penegak hukum dalam melakukan tindakan operasi dan penertipan sering over acting 3. Penerapan alas hukum yang lemah dan bahkan mengada ada sering terjadi, Penegak hukum tidak cermat dalam memakai landasan hukum tindakan. 4. Perebutan usaha dengan memanfaatkan institusi penegak hukum sehingga sering terjadi kriminalisasi investor 5. Peraturan dan kebijakan Pemerintah yang tidak konsisten bahkan cendrung kontra investasi 6. Lemahnya koordinasi dan sinkronisasi antar Departemen dan lembaga sehingga sering terjadi penghentian usaha dan tindakan hukum secara parsial oleh masing-masing lembaga dan atau departemen.

F. Strategi Optimalisasi Bisnis Pertambangan

Straregi dan langkah penataan pengembangan potensi pertambngan yang berkeadilan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan pemerintah sangat perlu di laksanakan agar pengalaman masa lalu dalam pengelolaan potensi daerah yang hanya menguntungkan segelintir orang dari luar jangan sampai terulang dan disamping itu juga dalam rangka mengantisipasi timbulnya friksi dan tuntutan serta protes masayarakat akibat kecemburuan dari pengelolaan yang belum nenerapkan segi keadilan bagi masyarakat daerah, timbulnya kerusuhan dan berbagai protes masyarakat nantinya akan membuyarkan semua investasi yang sudah ditanamkan dan harapan untuk menggaet investor sulit untuk dilakukan akibat cara penanganan yang salah dalam mengelola investasi didaerah. Perlu adanya kesadaan dan tekad semua pihak untuk mewujudkan Indonesia sebagai tempat tujuan investasi yang menyenangkan, aman dan terjamin dimana kondisi tersebut menimbulkan peningkatan minat investor akan menanamkan modalnya. Hal lain yang sangat penting juga diantisipasi dalam penataan pengelolaan investasi tersebut adalah merubah paradigma penonton menjadi paradigma pelaku usaha agar masyarakat daerah tidak jadi penonton saja melainkan juga turut berperan aktif dalam pengelolaan investasi dibidang pertambangan sesuai dengan peran dan kemampuan masing-masing. Untuk dapat menata dan mengelola potensi daerah agar dapat dimanfaatkan secara optimal dengan meminimasi potensi konflik dengan masyarakat maupun sesama pelaku usaha perlu ditetapkan pembagian zona atau wilayah pengembangan investasi yang disepakati dan ditaati semua pihak termasuk masyarakat setempat. Dari potensi yang tersedia berdasarkan hasil kajian dan penelitian Tim Terpadu Percepatan Investasi selanjutnya ditetapkan zona kawasan investasi dengan distribusi sebagai berikut :

a. Zona Pengelolaan Potensi Pengusaha dan Masyarakat Daerah sebesar 30 % dari total potensi yang tersedia dengan membentuk Badan Usaha Milik Rakyat, agar mampu bersaing dengan pelaku usaha lain.

b. Zona Pengelolaan Potensi BUMD dan atau BUMN yaitu sebesar 20 % dari potensi yang tersedia

c. Zona Pengelolaan Potensi PMDN dan PMA sebesar 50 % yang selanjutnya ditawarkan kepada investor Nasional dan Luar negeri.

Masing-masing zona atau kawasan dibatasi secara tegas dan diberi rambu-rambu dilapangan sehinga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dan perebutan yang dapat menimbulkan konflik. Masyarakat yang berada di sekitar wilayah zona tersebut diberikan pengertian dan penyuluhan secara intensif agar dapat mengetahui dan selanjutnya mendukung terhadap program tersebut. Kepada masyarakat daerah dibawah koordinasi pemerintah berupaya mengoptimalkan perannya untuk berusaha dan bekerja sesuai dengan kemampuannya di wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona masyarakat daerah, sehingga dengan telah terdistribusinya potensi tersebut dan termasuk pengaturan alokasi bagi masyarakat daerah tentunya diharapkan masyarakat daerah tidak lagi hanya sebagai penonton melainkan juga diharapkan dapat terlibat usaha langsung yang tentunya hal ini merupakan jalan yang penting untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari Prospek dan potensi yang sangat positif terhadap perkembangan bisnis pertambangan nasional pada tahun 2011, dan adanya upaya meminimalisasi hambatan dan masalah yang timbul tentunya diharapkan akan menjadikan Indonesia sebagai penghasil tambang yang diperhitungkan dipercaya di kancah dunia dan yang terpenting adalah sektor pertambngan tersebut mampu menjadi sumber devisa yang potensial bagi pembangunan bangsa.

G. Penutup

Demikian gambaran Prospek Bisnis Usaha Pertambangan Nasional Pada tahun 2011 beserta kendala dan permasalahannya, dan diharapkan keberadaan kekayaan sumber daya alam tambang di negeri ini mampu mensehjahterakan masyarakat dan pemerintah agar keberadaannya benar-benar menjadi berkah, bukan malah menjadi bencana. semoga bisa bermanfaat.

Muhammad Solikin

/muhammadsolikin

1. Ketua Komite Tetap Bidang Investasi Indonesia Bagian Tengah Kadin Indonesia
2. Sekjen Asosiasi Pemegang Ijin Tambang dan Pengusaha Tambang (ASPEKTAM) Kalimantan Selatan

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?