Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Dua Pengalaman Budaya, Jamuan Batak dan Jawa

10 Agustus 2017   05:22 Diperbarui: 10 Agustus 2017   11:20 982 14 9
Dua Pengalaman Budaya, Jamuan Batak dan Jawa
Suasana jamuan USDEK di Solo, saya ada di antara tetamu (Dokpri)

Di Jakarta, juga di kota-kota besar lainnya, jika kita menghadiri resepsi pernikahan, hampir bisa dipastikan jamuannya cara hidang prasmanan. Cara ini bukan budaya asli nusantara, tapi budaya makan orang Perancis (Bld.fransman). Istilah Perancisnya "buffet", seperti cara hidang makan pagi di hotel-hotel.

Cara makan seperti itu, yang mengedepankan nilai kepraktisan, kehematan (tenaga layan), dan individualisme (terserah aku), dengan demikian bukan sesuatu yang eksotis atau unik. Sebab bukan milik sebuah entitas budaya tertentu di nusantara.

Sejatinya nilai makanan bukan semata nilai rasa dan gizi. Sehingga urusan makan bukan semata urusan lidah dan usus. Tapi juga urusan pemaknaan, terkait dengan kandungan nilai budaya di dalamnya. Penghayatan atas nilai budaya ini yang memberi rasa bahagia saat makan, sehingga keseluruhan hidangan teralami sebagai sebuah kenikmatan kultural.

Saya tidak mengalami kenikmatan semacam itu saat menyantap hidangan prasmanan. Memang ada rasa enak yang sifatnya organoleptik, tapi hampa rasa nikmat budaya. Bagi saya, prasmanan adalah budaya makan yang "hampa budaya".

Lantas bagaimana budaya makan yang sungguh "sarat budaya"? Itulah ragam budaya makan dari ragam etnik atau sub-etnik nusantara. Saya akan paparkan dua saja pengalaman partisipasi jamuan makan di dua etnis. Pertama jamuan makan pesta nikah orang Batak Toba pedesaan tahun 1960-an dan, kedua, jamuan makan pesta nikah orang Jawa Tengah kota, tepatnya Solo, tahun 2017. Yang pertama pengalaman lama, yang kedua pengalaman baru, gress, 5 Agustus lalu.

Saya hanya akan soroti jamuan makannya saja. Lalu akan menafsir kandungan nilai sosial budayanya.

Jamuan Batak Toba

Saya mulai deskripsi ringkas jamuan makan orang Batak Toba, dengan kasus pesta nikah pamanku akhir 1960-an. Jamuan digelar di halaman rumah. Tetamu duduk di atas hamparan tikar secara berkelompok. Satu kelompok biasanya berkisar 5-6 orang. Dipisahkan antara kelompok perempuan dan anaknya dan kelompok lelaki dewasa.

Makanan disajikan di atas lembaran daun pisang, tepat di tengah kelompok tetamu yang duduk melingkar. Gunungan nasi ada di bagian tengah. Lalu disampingnya disajikan tumpukan "saksang" (cincang daging babi a'la Batak). Air minum untuk bersama disajikan dalam "garung-garung", potongan ruas bambu.

Makanan disajikan oleh kelompok "parhobas", juru layan yang berasal dari keluarga pihak "pengambil isteri" dan "teman sekampung". Para "parhobas" berkeliling membagikan nasi dan lauk "saksang" sama rata sampai semua mendapat bagian.

Setelah makanan tersaji seluruhnya, doa makan didaraskan oleh penatua Gereja. Doanya cukup panjang, sehingga beberapa tamu sudah mulai mengunyah "saksang" sebelum doa benar-benar selesai.

Begitu sahutan "Amen" bergemuruh menutup doa, kelompok-kelompok tetamu langsung berlomba-lomba menyantap makanan yang terhidang di depannya. Semua makan pakai tangan langsung, dengan teknik raup, bukan umput. Kelompok yang makanannya habis, berteriak minta tambah pada "parhobas".

Jamuan Jawa Solo

Jamuan Jawa Solo yang menjadi kasus di sini adalah jamuan pesta nikah sepupuku, asli Solo. Bagaimana orang Toba bisa punya sepupu orang Solo, itu cerita lain.

Cerita yang menarik adalah jamuan cara USDEK alias "Piring Terbang" yang saya alami dalam pesta itu. USDEK yang dimaksud bukan haluan negara a'la Soekarno yaitu UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. Tetapi urutan saji dalam jamuan yaitu Unjukan, Sop, Daharan, Es Krim, dan Kondur.

Urutan makan semacam itu yang persis saya alami di Wisma Batari Solo, mulai tepat pukul 19.00 dan selesai tepat pukul 21.00. Sebelum pukul 19.00 tetamu sudah uduk manis di kursi-kursi yang ditata mengapit meja-meja. Di atas meja diletakkan gelas-gelas minum, perangkat utama U(njukan) yang sudah dituangi teh manis.

Setelah pasangan pengantin dan orangtua mereka duduk di pelaminan, dan rentetan kata-kata sambutan dan doa, mulailah tahap Unjukan, segelas teh manis. Para "sinom" datang membagikan kue coklat dan sosis solo sebagai teman unjukan. Selang berapa lama kemudian dibagikan lagi, secara estafet, Sop hangat sebagai penggugah selera. Isinya berupa potongan sayur, sosis, dan bakso.

Setelah sejenak jeda, sambil menikmati sajian lagu-lagu dari grup organ tunggal, datanglah Daharan, makanan utama yang ditunggu-tunggu. Sepiring nasi dengan lauk bola-bola daging plus sayuran. Piring-piring bersiliweran di barisan duduk tetamu. Itu sebabnya disebut "pring terbang".

Seusai makan besar, datanglah Es krim plus puding lengkap dengan vla. Suhu dingin "pencuci mulut" ini memang jitu memberi rasa nyaman dalam perut yang sudah kenyang.

Setelah semua urutan USDE itu, pengantin maju ke pintu keluar gedung. Tetamu beranjak dari kursi masing-masing lalu beriring menyalami kedua mempelai, untuk selanjutnya pulang, Kondur. Sehingga lengkaplah USDEK.

Muatan Nilai Budaya

Pada cara jamuan orang Batak di atas, yang menonjol adalah nilai kesetaraan, kebersamaan dan keadilan. Semua tamu duduk di atas tikar yang sama dan makan makanan yang sama, tanpa pandang status sosial. Inheren di situ adalah kebersamaan dan keadilan.

Semua umur dan gender sama makan kenyang. Sebab dikontrol dengan pemisahan kelompok lelaki dewasa dan kelompok perempuan serta anaknya. Dengan begitu, perempuan dan anak-anak lepas dari resiko kurang jatah, karena lelaki dewasa umumnya punya daya dan kecepatan lahap yang lebih besar. Pemisahan seperti itu mereduksi persaingan dalam melahap makanan.

Tentu ada satu dua Si Rakus dalam kelompok, tapi biasanya langsung ditegur oleh anggota kelompok makan yang lain.

Nilai kesetaraan dan keadilan juga jelas teranati pada USDEK-nya orang Jawa Solo. Semua tamu duduk di kursi yang sama dengan cara yang sama di satu ruangan, tidak ada VIP ataupun VVIP. Juga makan makanan yang sama komposisinya, sama porsinya, dan sama cara layananannya. Inheren di situ adalah nilai keadilan.

Tapi ada yang kurang tegas muncul dalam USDEK yaitu kebersamaan dalam arti "guyub"-nya orang Jawa. Padahal nilai ini yang menonjol dalam kultur Jawa, sehingga ada pepatah "mangan ora mangan waton ngumpul". Pada jamuan orang Batak nilai guyub ini justru muncul sebagaimana dimanifestasikan makan berkelompok, mengitari sajian makanan, atau "ngariung" (Bah. Sunda). Di situ "tepa selira" dipanggungkan, untuk menjamin keadilan dalam perolehan porsi makan.

Tapi lepas dari soal itu, kehadiran nilai-nilai budaya tadi membuat saya lebih menikmati jamuan orang Batak tempo dulu dan USDEK orang Jawa Solo itu, ketimbang prasmanan orang kota besar. Prasmanan bukan sesuatu yang eksotis seperti dua pengalaman pribadi di atas. Makanannya mungkin enak, tapi hampa nilai budaya, sehingga tak membahagiakan.

Bagaimanapun, sebuah perjamuan semestinya adalah sebuah pemanggungan nilai-nilai budaya.***