Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight

Belajar Ekonomi Lokal di Pasar Tradisional

7 Agustus 2017   12:32 Diperbarui: 8 Agustus 2017   00:09 225 6 1
Belajar Ekonomi Lokal di Pasar Tradisional
Suasana pasar tradisional (Foto: detik.com)

Mengunjungi pasar tradisional? Apa bagusnya. Begitu mungkin reaksi orang kebanyakan. Becek, kotor, bau, sesak, berantakan, riuh. Siapa yang tahan?

Siapa yang tahan? Banyak. Terbukti pasar-pasar tradisional di kota-kota kecamatan dan kabupaten di Jawa dan Luar Jawa yang pernah saya kunjungi selalu ramai. Berarti banyak yang tahan, bukan?

Saya adalah satu dari banyak orang yang betah berlama-lama mengitari dan mengamati pasar tradisional. Sering tidak membeli apapun. Hanya berkeliling mengamati. Lalu pulang dengan sebuah pengetahuan baru.

Pengetahuan baru? Begitulah. Saya akan coba jelaskan secara singkat.

Jika kita berkeliling pasar-pasar tradisional di kota-kota kecamatan misalnya, dan sebaiknya pada hari pasar besar, kita akan temukan tata-letak yang sepola. Lazimnya pasar tradisional terbagi atas  dua lokasi besar, yaitu bagian makanan dan non-makanan.

Lokasi makanan masih terbagi tiga. Ada lokasi makanan basah (daging, ikan segar), semi-basah (sayuran, buah-buahan, bumbu segar, dll.), dan kering (biji-bijian, telur, bumbu kering, gula, garam, dll.).

Sedangkan lokasi non-makanan terdiri dari bagian sandang (pakaian, kain, alas kaki, tutup kepala, dll), perabot rumahtangga (peralatan masak, alat pembersih, wadah, lampu, dll.),  perlengkapan sekolah ( buku tulis, alat tulis, tas sekolah, dll), dan peralatan kerja (pertanian, pertukangan, kantoran, dll.).

Pengetahuan pertama yang langsung diperoleh dari berkeliling pasar tradisional adalah potensi ekonomi lokal. Pada bagian pasar makanan misalnya dapat diketahui jenis-jenis hasil bumi utama yang diperjual-belikan. Berdasar itu maka dapat dibuat kesimpulan sementara tentang struktur ekonomi pertanian setempat.  

Begitulah, dengan berkeliling pasar tradisional di Kabupaten Kerinci, segera kita tahu daerah itu adalah sentra kayu manis. Dengan berkeliling di pasar tradisional Kabupaten Ende, segera kita tahu daerah itu penghasil kacang mete. Dengan berkeliling pasar tradisional di Gayo NAD, kita bisa tahu daerah itu penghasil kopi.

Pengetahuan kedua adalah tentang pertukaran komoditas antar desa di daerah. Yang paling menonjol adalah pertukaran komoditas antara desa pantai dan desa gunung. Warga  gunung membeli ikan yang dijual warga pantai. Sebaliknya warga pantai membeli sayuran dan buah-buahan yang dijual warga pantai. Pertukaran semacam ini bisa disaksikan misalnya di pasar tradisional Balige, Toba-Samosir.

Selanjutnya bisa diamati gejala penetrasi produk kota yang berusaha mematikan produk desa. Di pasar tradisional Tigaraja, Simalungun akhir 1960-an sampai awal 1970-an saya bisa mengamati penetrasi produk-produk berbahan dasar plastik. Ember plastik menggusur dominasi ember kaleng. Keranjang plastik menggeser dominasi  keranjang rotan. Piring dan cangkir plastik menjadi alternatif piring dan cangkir kaleng. Terpal plastik menggeser dominasi tikar pandan atau mendong. Kue-kue kalengan menyaingi kue-kue tradisional.

Di pasar tradisional juga bisa disaksikan penetrasi kota ke desa di bidang mode busana. Berkeliling los-los pakaian bisa dilihat produk-produk busana bermodel "kota" dipajang mencolok. Misalnya pakaian anak dengan motif karakter anime terbaru, dan pakaian remaja dengan model yang biasa dikenakan artis-artis ibukota.

Sejatinya, di pasar tradisional kita bisa saksikan ko-eksistensi  dua cara produksi yaitu kapitalisme industri kota dan komersialisme pertanian desa. Saya senang menyaksikan bagaimana liatnya komersialisme pertanian desa. Sehingga kapitalisme industri kota tidak pernah berhasil melindas habis komersialisme pertanian. Keranjang rotan, keranjang bambu, tikar pandan, tikar mendong, tikar rotan, dan kue-kue kampung (cenil, tiwul, gethuk, lupis, onde-onde, dll.) masih bertahan di pasar-pasar tradisional.  Bahkan kini mulai bersinar lagi, seiring dengan merebaknya gerakan "go green" atau "back to nature".

Singkatnya, berkeliling pasar tradisional memberi kita pengetahuan tentang sejarah ekonomi setempat, dinamika ekonomi lokal, interaksi kapitalisme dengan komersialisme, dan relung-relung survival ekonomi rakyat. Harapan tambahan pengetahuan tentang berbagai aspek itu membuat saya tidak bosan-bosannya mengunjungi pasar tradisional, setiap kali ada kesempatan.

Apa yang sudah saya sampaikan sebenarnya adalah pengamatan pasar sebagai salah satu metode penelitian kualitatif untuk studi sejarah dan dinamika ekonomi lokal. Mengunjungi pasar tradisional adalah belajar ekonomi lokal. Mudah-mudahan artikel ini tidak menggurui.***