Apakah Ahok Akan Mengulangi Kesalahan yang Sama di Tahun 2016?

13 Januari 2016 07:17:21 Diperbarui: 13 Januari 2016 09:13:04 Dibaca : 3689 Komentar : 17 Nilai : 21 Durasi Baca :
Apakah Ahok Akan Mengulangi Kesalahan yang Sama di Tahun 2016?

AHOK (Pic Source: Liputan6.com)
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta memang masih harus menunggu sampai 2016, tetapi persiapan dan glamour-nya ajang pemilihan tersebut seperti sudah mulai menghangat. Genderang ‘perang bintang’ sudah mulai ditabuh. Banyak bakal calon, baik yang resmi dan yang tak resmi pastinya akan terus bermunculan.

Kita melihat nama-nama putra-putri terbaik digadang-gadangkan untuk maju. Ada Bu Risma, ada Kang Emil, ada Om Ahok, ada dari PNS, ada dari anggota DPRD dan masih banyak lagi. Belum lagi nama-nama seperti Kak Haji Lulung, Tante Diah, Uncle Fadli Zon, dan entah nama-nama siapa lagi. Entahkah itu hanya sekedar hembusan angin malam (testing the water) atau sudah dalam taraf atau takaran serius, maka tetap saja Sang Gubernur petahana mestinya sudah harus pasang kuda-kuda yang kuat menancap (tidak perlu menunggang kuda beneran tentunya yah).

Apa persiapan Ahok? Kayaknya sih tak terlihat banyak persiapan, ia hanya santai-santai saja. Menurutnya tidak terpilih oke-oke saja. Bila terpilih ya oke-oke juga. Bukankah masalah di Jakarta ini masih amat banyak, dan butuh tangan dan mulut Pak Ahok untuk membenahinya? “Mau jadi ape Jakarte ini kalo sampe jatoh ke tangan orang gak jelas….”, demikian kata seorang bapak ketika bertemu saya di sebuah apotik di Pasar Ampera, Kampung Ambon. Ya, kita harap saja kalaupun bukan Ahok yang memimpin Jakarta nantinya, ada sosok yang bagus dan bernyali yang akan memimpin.

Persiapan Ahok yang terlihat jelas adalah mempersiapkan diri untuk maju dari jalur independen. Makanya penggalangan dukungan KTP terus digalakkan. Akankah berhasil? Bisa jadi. Di bawah kolong langit ini tidak ada satupun yang mustahil, bukan? Apalagi di Indonesia ini, wah wah wah, semua hal ‘ajaib’ dan ‘aneh’ pun dapat terjadi tanpa pernah kita kira sebelumnya. Gudang keajaiban ada di negeri ini.

Saran saya sih begini, cobalah Pak Ahok pertimbangkan ‘sinyal-sinyal’ dari PDIP yang kayaknya, sepertinya, kelihatannya ingin ‘meminang’ Ahok sebagai calon Gubernur dari mereka. Apalagi di rakernas PDIP, Ahok disambut begitu meriah dan hangat. Habis itu juga masih saja ia diajak-ajak foto selfie dan foto bareng (fobar), padahal dia itu bukan kader PDIP. Ibu Megawati juga menyapa dia dalam sambutannya, demikian juga Pak Jokowi (yang Presiden RI itu lho…).

Jadi pertimbangkanlah matang-matang sematang buah duren di kebun opa bilamana ada tawaran dari partai kuat. Apa maju dari jalur independen nggak mungkin? Oiya tentu saja sangat mungkin, kenapa tidak? Tetapi oleh karena di negeri ini masih banyak hal-hal aneh, maka alangkah lebih elok kalau pakai 'kereta' saja. Bukan berarti yang naik kereta serta merta harus mengabdi kepada kereta setelah itu yah, sama sekali tidak begitu lah. Hanya saja jika Jakarta masih butuh Ahok ya jangan ambil resiko melupakan kereta dan memilih untuk jalan kaki githu lho…

Itu pendahuluan saja, kini mari masuk ke pokok tulisan ini. Apa sih? Oh iya, begini, saya banyak dengar dan baca bahwa katanya Ahok banyak buat ‘kesalahan’ di tahun kepemimpinan kemarin (2015). Nah, apakah kesalahan-kesalahan yang sama itu bakal diulangi tahun 2016 ke depan ini? Entahlah. Ingat lho, tahun 2017 adalah tahun pemilihan, jadi jangan sampai karena kesalahan-kesalahan sepele maupun tidak sepele itu akan menghambat Ahok terpilih kembali. Apa saja kesalahan dia? Setidaknya ada 3 kesalahan utama (oleh sebagian orang dipandang perlu diperbaiki sesegera mungkin).

Ini beberapa kesalahan yang terungkap dan tercatat:

Ahok itu pekerja keras, oleh karenanya ia juga suka bertutur keras. Bagi sebagian orang kata-kata keras dan kasar itu abnormal di negeri yang santun ini. Maka dengan demikian pemimpin yang suka teriak-teriak sampai wajah memerah itu adalah tidak baik adanya. Negeri yang santun ini mestinya diisi hanya oleh pribadi-pribadi yang weles asih dalam bertutur dan berbicara, tidak menjadi soal dia itu seorang koruptor atau penjahat berkerah putih. Itu soal lain, urusan belakang dan nothing to worry about. Cara ngomong itu harus terjaga dan terukur.

Sopan santun artificial masih sangat laku dijual rupanya. Meskipun saya pribadi menilainya sebagai upaya murahan. Ya, kebanyakan adalah sebagai upaya pembodohan publik semata, dan itu menjadi prilaku sangat menjijikkan tentunya. Tolong dicatet yah. Bagaimana bisa kita itu tersenyum manis, angkat tangan lembut, menyapa dengan amat sopan, tetapi kita juga malah menjarah dan menilep uang negara, membohongi rakyat, serta berprilaku sebaliknya?

Umpamanya, kita bermanis-manis namun kita main perempuan sana-sini tanpa punya malu. Kita berbicara sangat sopan, namun serempak kita menjual harga diri dan kewibawaan kita. Inilah yang saya bilang the true of being a liar. Atau bagi Mary Wilson Little ia membahasakannya sebagai, “Politeness is half good manners and half good lying.” Kesopan-santunan memang terkadang menyimpan banyak misteri. Sebagiannya adalah sebagai bentuk tatakrama yang baik, namun bisa jadi sebagiannya lagi adalah kebohongan yang baik. Ha ha ha…so guys, jangan terpaku pada apa yang tersurat namun telisiklah secara mendalam apa yang tersirat.

Satu lagi tambahan, semoga kita bisa memahami dengan hati terbuka komentar Thomas Jefferson, mantan Presiden Amerika berikut ini, “In truth, politeness is artificial good humor, it covers the natural want of it, and ends by rendering habitual a substitute nearly equivalent to the real virtue.” Sebab itu, kalau ada pejabat yang kita tau kelakuannya seperti apa namun sangat hebat bersandiwara di depan media…tertawalah! Karena itu adalah good humor yang menyegarkan sekaligus menggelikan.

Kesalahan berikutnya adalah gampang mencopot dan memecat bawahan. Wow, apakah ini benar-benar sebuah tindakan yang sadis, wahai Pak Ahok? Ingin betul, semua mereka yang dicopot, dimutasi, dilengserkan, atau dipensiundinikan tentu tidak akan mencoblos gambar Anda di tahun 2017 nanti. Ini juga dianggap sebagian orang sebagai sebuah bentuk kesalahan. Ingat dan percayalah bahwa di negeri ini pecat memecat masih dianggap sesuatu yang gimana githu lho.

Saya pribadi sih coba melihatnya dari perspektif lebih luas lagi. Kalau memang malas, tidak bekerja maksimal malah ‘makan tulang’ doang kerjaannya. Seumpamanya kinerja tidak ada bagus-bagusnya sekian lama, bahkan ketika pun sudah diberi waktu dan kesempatan tambahan, lalu kemudian justru banyak mengeluh dan ngeles saja kerjaannya, maka apakah ada yang lebih baik daripada dicopot dan dipecat atau dipensiunkan? Wah, entahlah…

Good government tentu akan selalu dimusuhi mereka yang no good. Itu pasti, oleh karena merekalah sesungguhnya penghambat terciptanya good government. Bekerja tidak satu irama. Tidak satu visi-misi. Tidak punya chemistry yang sama. Anthony Albanese mengingatkan kita, “Short-term thinking is the greatest enemy of good government.” Berpikir pendek akan selalu menjadi musuh good government. Vice versa. Berpikir pendek, suka jalan pintas, tidak mau peduli, malas, dan sebagainya itu adalah musuh bersama. Musuhnya good government. Orang yang ‘sumbu pendek’ sehingga berpikiran pendek menyikapi sikap tegas Ahok juga bisa jadi akan menjadi enemy of good government.

Kesalahan ke-tiga dan yang terakhir adalah Ahok itu terlalu berani. Bagi sebagian, tindakan terlalu berani akan berdampak besar dalam peta pemilihan Gubernur 2017 nanti. Karena sikap terlalu berani, maka Ahok selalu siap berhadapan dengan siapa saja, dalam situasi apa saja. Ini tidak boleh terjadi di negeri ini. Mestinya Ahok itu cukup berani saja (brave enough). Itu sudah lebih dari cukup. Bisa-bisa akan ada kelompok-kelompok yang menolak Ahok jadi Gubernur 2017 karena sikap terlalu beraninya itu. Tapi….ya apa boleh buat…..meskipun banyak gonggongan dan rongrongan, kafilah toh tetap saja berlalu.

Ketika negeri ini dipenuhi para penakut dan pengecut, maka kehadiran sosok Ahok tentu mengguncang banyak pihak. Bahkan terkadang sampai menusuk masuk sangat dalam ke pori-pori kulit. Luar biasa.

Mungkin Ahok pernah membaca kalimat yang ditulis dan diungkapkan oleh J.R Tolkien ini, “It is not the strength of the body that counts, but the strength of the spirit.” Tidak peduli badannya tidak sebesar Arnold Schwarzenegger. Lehernya tidak sekokoh beton seperti Mike Tyson. Kecepatannya tidak secepat Iron Man, namun ia punya kekuatan dalam spiritnya. Raga boleh saja melemah, namun roh dan jiwa harus selalu kuat. Inilah yang memunculkan keberanian amat sangat.

Jikalau aku berjalan di jalur yang benar kenapa harus takut? Bilamana aku bekerja dengan tulus dan tidak setengah hati mengapa harus takut? Tatkala aku sudah menjalankan apa yang baik untuk kepentingan orang banyak, untuk apa pula aku harus takut? Kira-kira seperti itulah kedalaman pemikiran orang-orang yang berjalan lurus, melawan arus, dan mengabdi untuk orang banyak. Braveness tidak boleh setengah hati.

Akhirnya, semoga Pak Ahok tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di tahun 2016 ini ya. Kalau masih saja terus terjadi dan menjadi-jadi? Ya berarti Anda memang selalu siap melawan arus di negeri ini. Kerap kali itu memang dibutuhkan kok. Bagus juga. Itu saja. Salam hangat. ---Michael Sendow---

“Tapi kalau kamu hidup di tengah-tengah masyarakat yang begitu miskin, sementara oknum pejabat nyolong uang gila-gilaan dan dengan santun gaya bahasa agama, kamu muak nggak kira-kira?” ― Ahok

Michael Sendow

/michusa

TERVERIFIKASI

Writer &Trainer. Motto: As long as you are still alive, you are capable of changing and growing. You can do anything you want to do, be anything you want to be. Cheers... http://tulisanmich.blogspot.com/ *** http://www.inggris-unik.web.id/ *) Menyukai permainan catur dan gaple. Menulis adalah 'nafas' seorang penulis sejati. I can breath because I always write something...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana