Mohon tunggu...
Meita Eryanti
Meita Eryanti Mohon Tunggu... Freelancer - Penjual buku di IG @bukumee

Apoteker yang beralih pekerjaan menjadi penjual buku. Suka membicarakan tentang buku-buku, obat-obatan, dan kadang-kadang suka bergosip.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

19 Juni 2017   18:58 Diperbarui: 19 Juni 2017   19:14 701
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Hari ini kuhabiskan siangku untuk membaca sebuah novel pendek berjudul Troublemaker karya Faye Aden. Ceritanya adalah tentang seorang anak perempuan bernama Winnie yang duduk di bangku High School. Tadinya Winnie adalah seorang gadis biasa. Tidak populer dan memiliki 2 orang sahabat yang saling mengasihi hingga akhirnya dia jatuh cinta pada seorang bad boy yang kaya raya dan populer di sekolahnya bernama Brody.

Suatu hari, Winnie menemukan journal milik Brody yang terjatuh dan mencoba usil pada Brody. Setelah itu dia terlibat masalah-masalah kecil yang menjadikan dirinya sebagai pembuat masalah. Dia mulai bertengkar dengan Ellis, sahabatnya, terlibat masalah dengan guru, hingga menjadi sorotan karena terlibat hal-hal yang bersinggungan dengan anak-anak yang lebih dahulu menjadi populer di sekolah itu.

Yang menarik dari cerita ini adalah peran dari guru-guru di sekolah Winnie. Menurutku mereka benar benar memanusiakan murid-muridnya. Mereka bisa memperhatikan murid-muridnya satu per satu. Bukan hanya mengenal nama, tapi mereka tau karakter orangnya satu per satu. Bahkan sang kepala sekolahnya, dia selalu membuka diri untuk mendengarkan keluhan murid-muridnya. Seperti ketika ada seseorang yang mencoret-coret loker milik Winnie, Winnie merasa terintimidasi karenanya dan ketika mengadukan hal tersebut pada kepala sekolah, dengan sungguh-sungguh kepala sekolah mengusut siapa pelakunya.

Ada lagi cerita ketika di kelas dan ada tugas kelompok, gurunya mengatur kelompok dengan mempertimbangkan kehidupan mereka diluar kelas. Gurunya mengerti bahwa Winnie tidak cocok dengan Lola, temannya yang sangat populer, sehingga dia memasangkan Winnie dengan Ellis. Namun guru itu juga menangkap bahwa Winnie dan Ellis sedang tidak akur. Guru itu mengkonfirmasi apakah mereka mau menjadi partner atau tidak.

Guru-guru di sekolah itu tidak saklek memberikan penilaian buruk pada murid-murid yang bermasalah. Dengan sabar mereka selalu memberi pengertian pada murid-muridnya. Seperti ketika kepala sekolah menemukan bahwa Ellis yang mencoret-coret loker milik Winnie, kepala sekolah dengan sabar mendengarkan alasan Ellis. Setelahnya, kepala sekolah berkata pada Ellis, “... Kamu harus belajar mengontrol dirimu. Tidak ada tindakan orang lain yang boleh mempengaruhimu melakukan tindakan yang buruk...”

Aku begitu terkesan dengan tokoh guru dan kepala sekolah dalam cerita ini. Jaman aku sekolah dulu, jangan kan bisa curhat sama kepala sekolah, beliau yang seharusnya mengajar di kelasku seminggu sekali pun sering tidak hadir karena ada acara di luar sekolah.

Bekerja kelompok adalah hal yang tidak menyenangkan selama aku sekolah. Selama aku sekolah aku tidak terlalu akrab dengan kebanyakan teman. Gurunya, boro-boro mau peduli kehidupan muridnya diluar kelas. Mereka membuat kelompok dengan cara yang gampang menurut mereka. Membuat kelompok berdasarkan absen, undian, atau sesukamu. Sepertinya guru tidak peduli aku sedang malas dengan absen sebelahku. Yang mereka tau, tugas dikumpulkan tepat waktu atau aku akan dapat masalah.

Tidak semua guru sekolahku buruk tentu saja. Namun beberapa dari mereka tidak akan sesabar guru-guru yang ada di sekolahnya Winnie. Mendengarkan alasan seorang murid yang bermasalah seperti Ellis, mereka lakukan dengan setengah hati. Beberapa ora Menghadapi seorang pembuat masalah, beberapa orang bisa bersikap lebih kekanak-kanakan dibanding muridnya.

Jangankan menghadapi anak yang bermasalah. Aku ingat betul aku menyukai menulis sejak aku masih sekolah. Saat aku duduk di sekolah menengah, aku mulai mengirimkan tulisanku ke media masa. Beberapa kali gagal dimuat membuatku merasa harus berkonsultasi pada seseorang yang lebih mengerti. Namun saat aku menemui guru bahasa Indonesia, beliau tidak menyambutku dengan menyenangkan sehingga itu menjadi terakhir kalinya aku berbicara dengan beliau di luar kelas. Aku mencoba terus menulis hingga akhirnya bisa menembus kolom “andai aku menjadi” di tabloid Bola.

Dan keberuntunganku tiba saat aku duduk di bangku kuliah. Beberapa dosen sempat aku minta pendapat tentang tulisanku dan mereka menyambutku dengan baik. Bahkan sampai lulus kuliah, kami masih sering berkomunikasi. Dosenku pun masih mau memberi kritik dan masukan untuk tulisanku yang tayang di media online.

Jaman sudah berkembang. Aku sudah lulus dari bangku sekolah bertahun-tahun yang lalu. Mungkin sekarang semuanya sudah berubah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun