Tolong Dengar Aku

05 Juni 2013 00:22:45 Dibaca :

Minggu itu aku pulang kampung bersama istriku ke suatu daerah di carenang. dari grogol untuk menuju balaraja menggunakan angkutan warna merah (WBK) tarifnya jelas terpampang,Rp,8000 dan sang sopir tinggal duduk tenang mengemudi,karena penumpang tanpa diminta,tapi dengan sendirinya ngumpulin ongkos,mulai dari belakang,sampai ketangan sang sopir,tidak gerutu,apalagi protes karena kemahalan. setelah di balaraja,untuk menuju Serang/Terminal,kita harus ganti angkutan,dulu angkutannya kalu di Jakarta- namanya ODONG-ODONG/OMPRENGAN.sekarang omprengan itu sudah tidak ada,diganti angkot warna merah putih seperti lambang negara ini,ternyata macetnya jakarta,lebih parahan macet jalan antara balaraja-serang yg menurutku salah kaprah adalah,jalan yg masih layak,kenapa harus dibongkar lagi..? sementara yg jelas2 rusak dibiarkan bgitu saja,terus pembongkaran jalan dilakukan siang hari dimana lalulintasnya padat,aku lihat operator alat beratnya santai sekali,sepertinya menikmati kemacetan itu,dengan hati kesal campur dongkol hanya bisa mengumpat dalam hati "B**** kenapa bukan malam,supaya tidak menganggu lalulintas yg lain"dan itu menurutku sangat merugikan bukan cuma aku,tapi angkot dan yg lainnya pasti merasa dirugikan.CONTOHLAH DKI! tadi siang jalanan itu rusak paginya sudah mulus,kapan pengerjaannya? kapan lagi bukan malam hari dari jam 12:07 S/D 17:30 aku baru sampai di WARUNG SELIKUR (21),aku turun,dan membayar ongkos Rp.6000 dari balaraja dua hari kemudian aku berangkat lagi ke jakarta,naik angkot ber cat Merah Putih sang pengganti Omprengan yg sudah pensiun kalu tidak waktu naik angkot kira-kira pukul 15:30.wib.mulanya jalanan lancar melewati PT Nikomas yg biasanya juga macet,tapi tidak seberapa.25 menit kemudian mulai tersendat,dan akhirnya "GREEEEEEEEEK" berhenti.15 menit mobil jalan lagi, tidak sampai 5 menit berhenti lagi,dan itu terus berulang-ulang,sampai akhirnya sang sopir memutuskan untuk berputar karena tidak tahan melihat kemacetan,setelah membertahuku bahwa angkotnya hanya sampai disini,dan dipindahkan ke angkot warna telor asin,sang sopir minta bayaran Rp.10.000x2=20.000.karena aku berdua sama istriku, aku kaget..!?koq bisa semahal itu,aku protes sama si sopir,woaaaalaah malah galakan dia,aku tetap dalam pendirianku aku cuma mau bayar separo,logika nya tidak sampai tujuan.dan aku biasa bayar Rp.6000 sesampainya di balaraja. si sopir tetep tidak terima,dia minta segitu.aku juga kesel,ini nyopir apa malak..? sambil menahan emosi, aku tanya "Bang tarif dari terminal ke balaraja itu berapa..? dia tidak jawab malah dia tambah emosi, akhirnya dia minta Rp.15.000,berdua,tetap aku bilang "tidak bisa" aku juga tidak mau rugi,biasa ongkos Rp.12.000 berdua sampai balaraja itupun tanpa adu mulut dulu, eh,,si sopir angkot ini malah minta Rp.20.000 berdua.tangan ini hampir melayang,kalau tidak ingat pasal penganiayaan akhirnya aku tanya dengan menahan geram,"bang dari warung selikur ke balaraja berapa,? dia jawab " sudah sini Rp.15.000!!" aku mikir,bayar ini angkot Rp.15.000,terus aku harus bayar angkot sambungannya lagi,Rp.4000x2,berapa..? akhirnya aku bilang begini " bang onkos dari WARUNG SELIKUR ke BALARAJA kan Rp.6000 jadi aku berdua kasih abang Rp.8000,yg Rp.4000,buat ongkos satunya"tapi seperti nya si sopir ini tetap tidak dengankasar dia ambil uang dipegang istrku yang jumlahnya Rp.15.000,kemudian di berikan yang Rp.4ooo pada angkot akan aku naikin Dalam hati yang masih menahan emosi,aku bertanya sendiri dalam hati,keapa tidak dicantumkan besaran tarif jauh/dekat berapa? supaya sopr tidak meminta tarif semaunya sendiri,apakah DISHUB SERANG,yg memberikan izin trayek tidak membuat aturan seperti itu,apalagi nanti menjelang lebaran,tepatnya H-2,pengalaman dulu waktu masih omprengan tarifnya bisa gila-gilaan, biasa Rp.6000 bisa jadi Rp.10.000, untuk balaraja-warung selikur(21) berbeda sekali denganĀ  WBK,mereka itu menjelang lebaran biasa menaikan tarif kisarannya cuma Rp.2000 ditambah penjelasa/alasan kenaikan tarif ,biasnya ditempel di kaca dekat pintu mauk,jadi aku bisa maklum jadi harapan sekaligus himbauan buat DISHUB yang memberikan trayek angkot warna merah putih,supaya mencantumkan besaran tarif yang harus dibayarkan,supaya kami sebagai pengguna/penumpang tidak jadi korban ke sewenang-wenangan oknum pengemudinya, kalau ini tidak diatur,lebaran nanti akan menjadi lahan empuk bagi sopir yg bermental preman. "SEMOGA KAU DENGAR KELUHANKU INI BAPAK-BAPAK DI DINAS PERHUBUNGAN"

Masna Alina

/masna

Jika bergaul dengan orang yg pintar
Maka kita juga ikut pintar

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?