PILIHAN

Mahal, Seru, dan Jauh Bercampur Menuju Betaet Mentawai

20 Maret 2017 04:42:48 Diperbarui: 20 Maret 2017 15:49:40 Dibaca : 75 Komentar : 0 Nilai : 2 Durasi Baca :
Mahal, Seru, dan Jauh Bercampur Menuju Betaet Mentawai
Gapura Selamat datang di Betaet ( foto Adi Prima)

MAHAL, SERU DAN JAUH BERCAMPUR MENUJU BETAET MENTAWAI



MENTAWAI.Faktanya, tidak semua masyarakat Mentawai pernah berkunjung atau tau dimana itu Betaet berada. Selain jarak tempuh, biaya yang tinggi, dan faktor cuaca, sangat menentukan jika ingin berkunjung ke sini. Penuh tantangan dan pastinya nanti akan meninggalkan banyak cerita jika sudah pernah berkunjung ke daerah yang berada di wilayah paling barat Kepulauan Mentawai ini.

Ada beberapa alternative untuk keberangkatan jika hendak menuju Betaet. Jika berangkat dari Sikabaluan, jarak tempuh diperkirakan 3-4 jam, jika berangkat dari Tuapeijat, dibutuhkan 5-6 jam perjalanan laut dengan speed boat 2 mesin 40 PK. Lama waktu yang ditempuh, semua tergantung pada kondisi cuaca dan muatan boat. Sampai saat ini, memang belum ada akses darat bagi kendaraan roda dua atau roda empat untuk menuju Betaet, baik dari Sikabaluan, ibukota Tuapeijat atau dari desa terdekat. Pilihan satu-satunya, praktis hanya jalur laut.

Jalur laut, satu-satunya moda transportasi yang menghubungkan Desa Simalegi ( foto : Adi Prima)
Jalur laut, satu-satunya moda transportasi yang menghubungkan Desa Simalegi ( foto : Adi Prima)

Kagum dan Takut Bercampur

Jika berangkat dari Tuapeijat, suguhan pemandangan dinding batu tebing yang terus-menerus dihantam gelombang besar Samudera Hindia, mengaduk perasaan decak kagum akan keindahan dan rasa takut. Dinding batu ini tepatnya berada disepanjang perbatasan antara Desa Taileleu dan Desa Sagulubbeg. Bagaimana tidak takut, jika seandainya terjadi kerusakan mesin atau boat, pastinya hanya ada dua pilihan, berenang menjauh supaya tidak terhempas ke dinding tebing dan hanyut ke tengah laut lepas Samudera Hindia, atau ikut terbawa arus gelombang menuju dinding tebing? Pilihan ini disesuaikan dengan nyali masing-masing saja, tidak ada yang bisa disarankan. Sebab, masing-masing memiliki keuntungan dan risiko yang berbeda.

Dinding batu sepanjang Desa Tailelu dan Sagulubbeg ( foto Adi Prima )
Dinding batu sepanjang Desa Tailelu dan Sagulubbeg ( foto Adi Prima )

Operator yang Handal Kunci Keselamatan

Saran satu-satunya saran demi keselamatan adalah, mencari operator yang berpengalaman jika hendak mengunjungi Betaet. “Nyawa sepenuhnya berada ditangan Tuhan, namun, memilih operator boat yang handal adalah tugas manusia.” Operator yang berpengalaman tentunya paham akan kondisi mesin, kondisi boat dan yakin untuk memutuskan melanjutkan perjalanan, atau menepi sejenak kepulau terdekat sembari menunggu cuaca membaik demi keselamatan. Kondisi cuaca di laut memang sering berubah-ubah.

Operator yang berpengalaman selalu mengamati gelombang laut demi keselamatan ( foto Adi Prima)
Operator yang berpengalaman selalu mengamati gelombang laut demi keselamatan ( foto Adi Prima)

Mahalnya Biaya Menuju Betaet

Seru bercampur takut pasti sudah sering diceritakan sebagian orang yang pernah berkunjung ke Mentawai. Namun, biaya yang cukup mahal juga menjadi pertimbangan tersendiri jika ingin berkunjung. Contonhya untuk sekali perjalanan dari ibukota Tuapeijat menuju Betaet, biaya sewa Boat yang harus dikeluarkan adalah 13 juta untuk perjalan pulang pergi, wow! Itu sama dengan harga ticket ke Eropa jika medapatkan ticket promo. Bedanya, di boat tidak ada pramugari cantik yang menemani dan mengantar makanan. “Harga minyak yang cukup tinggi jika dibandingkan di Kota Padang, memang ikut mempengaruhi tinggi rendahnya tarif sewa boat di Mentawai,” ucap Agus Syafril selaku operator Boat yang cukup disegani pengalaman berlayarnya di Kepulauan Mentawai ini.

Harga minyak menentukan tinggi rendahnya sewa boat(foto Adi Prima)
Harga minyak menentukan tinggi rendahnya sewa boat(foto Adi Prima)

Sirkus Gratis dari Alam

Sirkus gratis dari alam, suguhan pemandangan laut di sepanjang perjalan laut memang tidak sepenuhnya bisa diceritakan. Benar-benar harus dialami sendiri bagi yang belum pernah berkunjung ke wilayah Pantai Barat Mentawai. Jika beruntung, sekelompok Lumba-lumba akan menyapa selamat datang di Pantai Barat Mentawai, dengan atraksi khasnya, (mohon maaf, untuk momen foto lumba-lumba, ini selalu telat diabadikan). Suguhan kawanan burung-burung laut yang berburu ikan, juga menjadi pemandangan laut yang tak kalah seru. Biasanya, keberadaan kawanan burung di tengah laut, menjadi pertanda keberadaan ikan bagi Nelayan.

Burung ditengah laut menjadi tanda keberadaan ikan bagi nelayan ( foto Adi Prima )
Burung ditengah laut menjadi tanda keberadaan ikan bagi nelayan ( foto Adi Prima )

Mabuk Laut dan Pipis di Boat

Hal seru lainnya, pastinya mabuk laut dan pipis di boat! Mabuk laut, pusing, tertidur atau muntah. Penyebabanya, selain karena diombang-ambing gelombang, gempuran asap hasil pembakaran mesin boat yang menemani berjam-jam perjalanan laut, sering menjadi tertuduh faktor penyebab mabuk laut. Padahal, kondisi tubuh seseorang sebelum keberangkatan, juga sangat menentukan. “Sepertinya, kesehatan berpengaruh pada aktifitas apa saja, mari budayakan hidup sehat, biar tidak mabuk laut!” he.he. Padahal, tetap saja akan menjadi masalah bagi yang tidak terlalu sering berlayar dengan boat, apalagi berlayar dengan jarak tempuh yang cukup jauh, mereka dijamin akan mabuk laut. Biasanya bermacam jenis obat anti mabuk menjadi list yang wajib dibawa bagi yang mempunyai masalah mabuk laut.

Pipis diatas boat juga menambah seru perjalan laut. Boat yang saya tumpangi atau kebanyakan boat-boat yang melintasi laut Mentawai memang tidak di design untuk memiliki kamar mandi. Jadi kebayangkan, jika dalam perjalanan tiba-tiba kepingin buang air kecil atau buang air besar (BAB) ? Rofikul, salah seorang rekan yang ikut berangkat ke Betaet, bermaksud hendak menyusul saya kebagian depan boat, mungkin bermaksud sembari mencari angin segar. Setelah membuka pintu depan boat, Ia bukannya medapat angin segar, Ia malah kaget melihat botol plastik air mineral besar yang sedang saya pegangi. Melihat saya sedang buang air kecil, Ia sedikit kesal, saya hanya menyambut dengan tertawa. Tentu saja kejadian ini berbalas wajah kesal teman tersebut.

Buang air kecil atau pipis di boat belumlah pemandangan atau keseruan yang parah. Pernah saya harus berjuang melawan aroma angin hasil BAB di dalam boat. Benarnya kata pepatah, “Jika sudah kebelet BAB, rasa takut dan peduli pasti hilang” Teman saya yang lain telah membuktikan. Seakan melupakan kondisi gelombang laut yang lumayan besar, Ia bergegas menuju ke kepala boat dan segera mewujudkan keinginannya. Akibat ulah teman ini, saya yang berada di dalam boat menjadi kebagian angin yang katanya ini adalah proses metabolisme tubuh manusia! Menutup hidung dan sesekali berteriak kesal kearahnya, hanya itu yang bisa saya lakukan!

Keseruan seperti ini memang menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika melakukan perjalanan laut menuju desa-desa yang berada di Pantai Barat Mentawai. Tidak ada opsi boat untuk menepi atau bersandar jika hanya untuk buang air kecil atau BAB. “Pandai-pandai se lah” (cari solusi sendiri-sendiri saja), biasanya hanya itu yang akan diucapkan oleh operator atau teman seperjalanan. Seperti sudah saya jelaskan diatas, kiri kanan hanya dinding batu dan laut lepas, jadi solusinya, tahan sampai di desa tujuan, atau lepaskan diatas boat Ha.ha

Tertidur, kelelahan atau Mabok hanya penumpang yang tau (foto Adi Prima)
Tertidur, kelelahan atau Mabok hanya penumpang yang tau (foto Adi Prima)

Begitulah semua keseruan, biaya yang mahal, dan kelucuan, akan bercampur menemani perjalanan laut. Saya bukanya tanpa sebab datang jauh-jauh ke Betaet Mentawai. Sedikit cerita, perjalanan saya dan tim ke Betaet Mentawai untuk penjemputan Tim Penyuluh Kebencanaan yang dahulu pernah dilatih oleh lembaga tempat saya bekerja. Nantinya mantan Regu Penyuluh Kebencanaan ini akan menjadi narasumber untuk berbagi pengalaman di desa dampingan lembaga yang baru. Kegiatan ini demi menindaklanjuti hasil kerjasama international antara Negara-negara di bidang kebencanaan, khususnya pada poin Penguatan Peningkatan Kapasitas dan Pengurangan Risiko Bencana yang Inklusi atau PRB Inklusi.

Lembaga tempat saya bekerja, setuju bekerjasama dengan Kementrian Dalam Negeri Indonesia, melakukan kegiatan di wilayah-wilayah pesisir pantai barat Sumatera, salah satu yang terpilih adalah, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Bagi yang penasaran dan ingin merasakan mabok laut atau pipis di atas boat, silahkan atur jadwal dan siapkan mental untuk perjalan laut ke Betaet Mentawai. Malainge Mentawai! (Adi Prima)

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL wisata

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana