Maidiyanto Rahmat
Maidiyanto Rahmat pegawai negeri

saya hanya ingin berbagi sedikit yang ditahu, sedikit yang dimengerti, sedikit yang terpikirkan. semoga dapat meramaikan makna dan warna hidup anda. mari lebih akrab di maidiyantorahmat@ymail.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Ketika Buku Digugat Televisi

14 April 2011   12:50 Diperbarui: 26 Juni 2015   06:48 232 1 8

Tulisan ini terinspirasi dari sambutan yang dibawakan oleh CEO Kompas, Pak Andi Suruji pada Pembukaan Kompas Gramedia Fair di CCC (Celebes Convention Centre) pada Selasa, 27 April 2010 lalu. Sedikit penyampaian dari beliau, padat tapi mengena untuk sebuah perbaikan bagi generasi membaca Indonesia.

Budaya menonton pada masyarakat Indonesia sekarang ini sangat meningkat intensitasnya baik itu menonton channel pengetahuan, update news, atau film Budaya menonton sudah betul-betul menggerus budaya membaca karena intensitas kita untuk menonton jauh lebih banyak dibandingkan dengan waktu untuk membaca.

Budaya membaca merupakan budaya yang sudah terbangun berabad-abad lalu. Bahkan dalam Islam, ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca (Q.S. Al-Alaq ayat 1). Ayat pertama yang diturunkan kepada Muhammad ini menunjukkan betapa pentingnya membaca bagi umat manusia.

Mengapa budaya membaca jauh lebih berharga dibandingkan dengan budaya menonton? Karena membaca jauh berbeda dengan menonton. Ketika kita membaca, kita akan jauh lebih berkembang dibandingkan dengan hanya menonton. Cobalah rasakan, ketika kita membaca, daya ekspolrasi kita sungguh sangat berkembang. Rangkaian kata bisa dimaknai berbeda oleh dua orang yang berbeda. Karena itu, bisa dibilang bahwa membaca mampu meningkatkan daya kreativitas. Lain halnya ketika kita menonton. Apa yang menjadi eksplorasi kita terbatasi visualisasi dan audio yang sudah ada. Contoh, coba saja anda bandingkan membaca novel ayat-ayat Cinta dengan menonton filmnya, atau film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Anda pasti menganggap bahwa membaca mempunyai nilai lebih disbanding menonton.

Bagaimana di berbagai negara, khususnya di Indonesia melihat budaya gemar membaca? Salah satunya adalah pemerintah merangkul swasta dalam hal penerbitan media-media surat kabar. Sekarang, di Indonesia perusahaan penerbitan surat kabar nasional dan lokal sudah mencapai 500 lebih. Hal ini tentunya diharapkan dapat menggenjot kebiasaan membaca pada masyarakat kita. Selain itu, sudah banyaknya perusahaan-perusahaan penerbitan buku di Indonesia merupakan langkah awal untuk menciptakan generasi gemar membaca. Namun, tidak dapat dipungkiri, dalam hal penerbitan buku, kita masih ketinggalan dengan negara-negara tetangga. Indonesia dengan 230 juta jiwa mampu menerbitkan 10.000 judul buku setiap tahunnya. Vietnam yang notabene penduduknya jauh lebih sedikit mampu menerbitkan 50% lebih banyak. Negara ini mampu menerbitkan 15.000 judul buku setiap tahunnya. Bagaimana dengan Jepang dan China?Jepang sudah mampu menembus 60.000 judul buku dan China mampu menerbitkan 140.000 judul buku setiap tahunnya. Yang lebih menarik, buku-buku di China yang 140.000 judul itu laris manis dibeli oleh penduduknya sendiri, WOW!. Kebiasaan-kebiasaan positif seperti inilah yang harus dibangun bangsa kita untuk menuju peradaban bangsa yang gemar membaca tentunya untuk sebuah perubahan yang lebih baik.

Januari lalu, PNRI bercerita tentang ‘tragedi nol buku’ bangsa Indonesia. Mereka mengatakan bahwa minat membaca masyarakat kita rendah sekali. Dalam 365 hari masyarakat Indonesia rata-rata hanya membaca 27 halaman. Dengan kata lain, untuk membaca 1 halaman, masyarakat kita memerlukan waktu 2 pekan. Dibandingkan dengan Jepang yang siswanya membaca 15 buku dalam 1 tahun. Inilah yang disebut tragedi nol buku. Budaya membaca bangsa kita masih belum sebaik negara lain tapi bukan berarti kita tidak berupaya untuk meningkatkannya.

Karena itu, pada artikel ini, saya ingin mengajak. Mari kita wujudkan generasi gemar membaca itu bersama-sama untuk Indonesia yang lebih cerdas.

Membaca untuk Ilmu Pengetahuan,

Membaca untuk Suatu Perubahan Mendasar , dan

Membaca untuk Indonesia.