Hijau highlight

Pentingkah Desain pada Tempat Sampah Organik dan Anorganik?

18 Mei 2017   22:32 Diperbarui: 18 Mei 2017   22:36 196 7 4

Populasi manusia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyaknya populasi manusia menandakan bahwa Bumi yang kita tinggali pun semakin penuh. Tidak heran apabiala jumlah sampah yang dihasilkan oleh manusia sangat banyak dan menimbulkan berbagai permasalahan. Sampah-sampah tersebut memiliki banyak sekali jenis. Oleh sebab itu, manusia membuat lima jenis tempat sampah yang digunakan untuk mengelompokkan masing-masing sampah. Kelima jenis tempat sampah tersebut adalah tempat sampah bewarna hijau (organik), kuning (sampah guna ulang), merah (bahan berbahaya dan beracun), biru (daur ulang), dan abu-abu (selain keempat jenis tempat sampah). Pemisahan jenis tempat sampah tersebut tentu memiliki banyak manfaat dan sudah diterapkan pada negara-negara maju. Namun, apakah Indonesia sudah menerapkan penggunaan tempat sampah yang memiliki pembeda jenis tersebut dan apakah penerapan tempat sampah tersebut sudah efektif? Selama ini kita tahu bahwa kepedulian masyarakat kita masih sangat rendah terhadap lingkungan.

Di Universitas Ma Chung, tempat sampah yang memiliki pembeda jenis sudah mulai diterapkan. Namun hanya terdapat dua jenis tempat sampah yang digunakan, yaitu tempat sampah organik dan tempat sampah anorganik. Masing-masing tempat sampah dihias dengan lukisan tangan dan memiliki desain dengan gambar yang berbeda-beda. Namun kita tidak tahu apakah adanya desain gambar pada tempat sampah tersebut sudah efektif atau belum. Oleh sebab itu, saya melakukan pengamatan terhadap tempat sampah di Gedung Bakti Persada Universitas Ma Chung. Disamping pengamatan, saya juga menyebarkan kuesioner yang berhubungan dengan efektivitas tempat sampah organik dan anorganik kepada 50 mahasiswa Universitas Ma Chung.

Saya melakukan pengamatan terhadap enam tempat sampah di Gedung Bakti Persada Universitas Ma Chung. Pengamatan yang saya lakukan adalah mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diselidiki. Saya melakukan pengamatan pada masing-masing lantai di Gedung Bakti Persada, yaitu 2 tempat sampah anorganik di lantai satu, 2 tempat sampah organik di lantai dua, dan 2 tempat sampah anorganik di lantai tiga. Tiap-tiap tempat sampah dilukis dengan desain gambar yang berbeda-beda dan diberi tulisan “organik” dan “anorganik” sebagai keterangan dari tempat sampah tersebut. Pengamatan terhadap tempat sampah di Gedung Bakti Persada saya lakukan selama 10 hari. Melalui pengamatan tersebut, saya dapat mengetahui bahwa 21.7% tempat sampah sudah diisi sesuai dengan fungsinya, 15% tempat sampah diisi tidak sesuai dengan fungsinya, 18.3% tempat sampah kosong, dan 45% tempat sampah berisi cukup sesuai dengan fungsinya. Melalui data tersebut, menunjukkan sebagian besar tempat sampah masih belum berfungsi dengan baik. Bahkan, seringkali tempat sampah tersebut digunakan sebagai tadah air hujan yang berarti fungsi dari tempat sampah tersebut sudah melenceng. Selain tidak digunakan sesuai fungsinya, tulisan “organik” dan “anorganik” pada tempat sampah seringkali tertutup dengan tas plastik sehingga tulisan tidak dapat dibaca secara jelas. Sampah-sampah yang dibuang pun seringkali diletakkan pada bagian tutup tempat sampah.

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atas pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Saya menyebarkan kuesioner yang dapat diisi secara online. Penyebaran kuesioner difokuskan kepada mahasiswa Universitas Ma Chung sejumlah 50 orang. Pertanyaan yang diberikan sejumlah enam pertanyaan yang berhubungan dengan desain dan efektivitas tempat sampah organik dan anorganik di Gedung Bakti Persada. Melalui kuesioner tersebut, dapat diketahui bahwa 64% responden mengetahui bahwa di Gedung Bakti Persada terdapat tempat sampah organik dan anorganik, sedangkan 36% lainnya tidak mengetahui. Sebagian besar responden, yaitu sejumlah 52% dapat membedakan antara tempat sampah organik dan anorganik yang terdapat di Gedung Bakti Persada Universitas Ma Chung. Walaupun demikian, masih banyak responden yang tidak dapat membedakan tempat sampah tersebut. Dari 50 orang responden, 66% responden masih membuang sampah tidak sesuai dengan fungsi dari masing-masing tempat sampah, padahal sebagian besar responden sudah mengetahui fungsi dari masing-masing tempat sampah tersebut. Dengan adanya desain gambar pada tempat sampah, sejumlah  60% responden tidak dapat melihat tulisan “organik” dan “anorganik” secara jelas. Namun, sebagian besar responden menganggap bahwa desain gambar pada tempat sampah organik dan anorganik tetap diperlukan, yaitu sejumlah 86% responden. Sejumlah 72% responden menganggap bahwa desain gambar pada tempat sampah organik dan anorganik di gedung Bakti Persada belum mencerminkan fungsi dari masing-masing tempat sampah tersebut.

Melalui data-data yang sudah dikumpulkan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa tempat sampah organik dan anorganik di Universitas Ma Chung masih belum dapat berfungsi dengan baik.  Sebagian besar tempat sampah masih terisi dengan jenis sampah yang tidak sesuai, bahkan terkadang digunakan tidak sesuai dengan fungsi tempat sampah. Sebagian besar mahasiswa sudah mengetahui adanya tempat sampah organik dan anorganik serta funsi dari sampah organik dan anorganik tersebut. Namun, jumlah responden yang tidak mengetahui fungsi dari masing-masing tempat sampah juga cukup besar. Walaupun jumlah responden yang mengetahui fungsi dari masing-masing tempat sampah lebih besar, sebagian besar responden masih belum membuah sampah sesuai dengan fungsinya. Hal tersebut tentu disebabkan karena beberapa faktor. Melalui pengamatan yang saya lakukan, salah satu faktor penyebabnya adalah kurang terbacanya tulisan organik dan anorganik pada tempat sampah. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingginya jumlah responden yang menjawab bahwa mereka tidak dapat melihat tulisan “organik” dan “anorganik” secara jelas. Desain gambar pada tempat sampah dinilai perlu, namun desain tempat sampah di gedung Bakti Persada belum dapat mencerminkan fungsi dari masing-masing tempat sampah. Hal itu jugalah yang menjadi salah satu faktor penyebab mahasiswa tidak membuang sampah sesuai fungsi dari masing-masing tempat sampah.

Melalui pengamatan yang saya lakukan ini, dapat disimpulkan bahwa tempat sampah organik dan anorganik di Gedung Bakti Persada Universitas Ma Chung masih belum efektif. Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu desain tempat sampah yang tidak sesuai dan kurangnya kepedulian mahasiwa. Desain tempat sampah organik dan anorganik di Universitas Ma Chung tidak menggambarkan fungsinya, sehingga orang yang melihatnya pun tidak memahami arti dari tempat sampah tersebut. Padahal desain merupakan suatu hal yang dapat membantu dalam segala aspek. Apabila tempat sampah tersebut didesain dengan menarik dan dapat menggambarkan fungsinya, pasti akan lebih menarik perhatian. Dengan demikian, akan semakin banyak mahasiswa yang membuang sampah sesuai dengan tempatnya. Peletakan tempat sampah di gedung Bakti Persada tidak sesuai karena pada masing-masing lantai hanya terdapat satu jenis tempat sampah. Misalnya di lantai satu hanya terdapat tempat sampah anorganik. Begitu pula di dua lantai lainnya. Menurut saya, desain pada tempat sampah tetap diperlukan agar dapat lebih menarik perhatian dan dapat membantu orang lain dalam memahami fungsi dari tempat sampah tersebut. Namun, desain yang dibuat tentu saja harus sesuai dan mudah dipahami banyak orang.

Kurangnya kepedulian mahasiswa menunjukkan bahwa pendidikan yang tinggi bukanlah cerminan dari sikap seseorang. Belum tentu orang yang memiliki pendidikan tinggi dapat memiliki sikap yang baik pula. Padahal membuang sampah sesuai tempatnya merupakan suatu hal yang sangat mudah. Semua hal kembali kepada diri kita sendiri. Apakah kita sudah cukup peduli dengan apa yang ada di sekitar kita? Atau apakah kita ingin tetap sama dengan arus yang ada di sekitar kita walaupun arus tersebut salah? Apa jadinya apabila setiap orang terus menerus tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya? Mungkin, bumi yang kita tempati ini akan semakin rusak, padahal bumi adalah tempat tinggal yang harus kita jaga. Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus mampu melakukan perubahan-perubahan, walaupun perubahan itu dimuali dari perubahan kecil. Dari perubahan-perubahan kecil tersebutlah akan terjadi perubahan yang besar.