PILIHAN HEADLINE

Bertualang di Bukit Goagong

09 April 2017 05:58:58 Diperbarui: 09 April 2017 15:47:38 Dibaca : 204 Komentar : 7 Nilai : 8 Durasi Baca :
Bertualang di Bukit Goagong
Aku dan abang, lari-lari di puncak bukit Goagong (Ilustrated by Xien Lintang Tuahnaru)

Seperti ayah dan kakakku, aku suka sekali bertualang. Aku melihat foto dan rekamanku waktu kecil. Sejak bayi aku sudah sering diajak ayahku bertualang. Lebih dari setahun yang lalu, aku belum sekolah. Sabtu sore aku dan Abang suntuk di rumah, terus ayahku datang. Ayahku mengajak kami untuk bertualang di bukit Goagong. 

Aku dan Abang kesenangan, langsung siapin perlengkapan. Oh ya, kami tinggal di bagian selatan Pulau Bali, yang seperti pulau kecil itu. Di sini ada banyak bukit.

Aku, Ayah, dan Abang langsung pergi ke Goagong naik motor. Abang duduk di depan, aku di belakang. Kami jalan melewati Nuansa Dewata, lewat rumah Saras, kawan kakakku, terus ayahku berbelok ke kanan, terus belok lagi ke kiri dan kami masuk ke hutan jati. Nggak lama di dalam hutan jati, kami sampe di jalan aspal, jalan sedikit ketemu jalanan Goagong dan ayahku berbelok ke kiri. Tidak lama di jalan itu, kami naik tanjakan yang tinggi sekali, motor kami hampir nggak bisa naik, wuih rasanya seru sekali. Tapi akhirnya kami bisa juga naik dan enggak lama kemudian kami sampe. Dari atas sini kita bisa melihat laut.

Ayahku kemudian berbelok ke kiri ke sebuah jalan menurun, mencari tempat untuk memarkir motor, di tempat ini nggak ada orang lain. Cuma ada kami. Ayahku memarkir motor di atas rumput di samping aspal yang di sampingnya ada semak-samak. Pas sedang parkir, eh ada dua belalang sedang kawin hinggap di ranting semak. Aku suka sekali makan belalang, satu hari pulang latihan basket kakakku pernah bawa belalang, sama ayahku belalangnya digoreng. Hmm rasanya sedap melihat ada belalang. Aku bilang sama ayahku. Sama ayahku, hap, dua belalang itu langsung ditangkap. Terus aku cari rumput yang ujungnya ada bunga dan kuberikan kepada ayahku. Sama ayahku, ujung rumput yang ada bunganya diikat, ujung satu lagi ditusukkan ke tengkuk belalang, sekarang belalangnya tidak bisa lari lagi. Aku menentengnya.

Dua belalang mencoba lari waktu ditangkap ayahku (Ilustrated by Xien Lintang Tuahnaru)
Dua belalang mencoba lari waktu ditangkap ayahku (Ilustrated by Xien Lintang Tuahnaru)
Abis dari tempat parkir, ayahku mengajak aku dan Abang mencari tempat masuk ke bukit melalui semak-semak. Kami masuk melalui semak-semak, terus sampe di lapangan rumput. Di tempat ini banyak pohon yang batangnya sebesar kakiku. Ranting pohon ini berduri. Buahnya kuning sebesar jempol kaki ayahku. Kata ayahku, buah ini makanan kijang. Dulu waktu ayahku masik kecill, ayahku sering diajak datuku (bapak kakekku) jalan-jalan di hutan untuk melihat kerbau. Almarhum datuku punya peternakan kerbau. Jadinya ayahku jadi banyak tahu soal tanaman hutan.

Di sini lebih banyak lagi belalang, tapi belalangnya lincah-lincah. Dari segitu banyaknya, tidak ada satu pun yang berhasil kami tangkap. Dan ternyata, selain belalang, di sini juga banyak nyamuk. Nyamuknya loreng, beda dengan nyamuk di rumah. Kata ayahku ini nyamuk Aedes aegepty yang menyebarkan demam berdarah. Nyamuknya ganas banget, tangan kaki dan mukaku dan juga Abang habis bentol-bentol digigiti. Untung aku nggak kena demam berdarah.

Dari lapangan ini kami terus naik. Aku lari-lari di depan, diikuti Abang. Ayahku tertinggal di belakang. Terus di dekat puncak ada lagi semak-semak. Aku masuk ke situ dan pas keluar dari semak, eh di puncaknya ini ada lapangan rumput lagi. Lapangan ini jauh lebih luas daripada yang sebelumnya. Aku lari-lari kesenangan. Pas Abang keluar dari semak-semak, kami berdua lari-lari dan berguling-guling di semak-semak ini kesenangan. Kami nggak peduli lagi sama gigitan nyamuk.

Abis dari lapangan itu, aku naik lagi ke puncak lain dan lari-lari lagi. Kalau haus, kami minum air yang dibawa dari rumah. Tidak terasa hari sudah sore, sudah jam 6, kami pun turun, masuk ke semak lagi, turun lewat pohon makanan kijang, sampe di lapangan kecil, masuk ke semak lagi dan keluar ke jalan. Terus kami menuju motor. Di jalan aku melihat buah kecil kuning dari tanaman menjalar sebesar jempol ayahku yang di dalamnya seperti markisa. Aku dan Abang berebutan memakannya. Rasanya enak persis seperti markisa. Abis itu kami jalan lagi.

Hari mulai gelap, aku mulai mendengar suara Pedopore*, aku mendengar suaranya ada di mana-mana. Di sini pasti banyak Pedopore, tapi aku nggak takut sama Pedopore karena Pedopore itu kan cuma penjaga monyet.

Pedopore hutan Goagong (Ilustrated by Xien Lintang Tuahnaru)
Pedopore hutan Goagong (Ilustrated by Xien Lintang Tuahnaru)
Sampe di motor, kami naik dan langsung pulang. Nyampe di rumah aku mandi. Bunda khawatir melihat badanku dan Abang bentol-bentol digigitin nyamuk. Tapi kata ayahku, itu tidak apa-apa. Kalau di sekitarnya tidak ada orang yang sakit demam berdarah, orang tidak akan kena demam berdarah abis digigit nyamuk Aedes aegepty. Bundaku memang orangnya pengkhawatir.

Abis mandi, kami makan. Ayahku menggoreng dua belalang yang dia tangkap tadi. Aku makan satu dan satu lagi untuk Abang. Hmmm sedaaap...

Hari ini aku senang sekali.

*Catatan penyunting : Pedopore adalah makhluk mistis yang diceritakan oleh seorang pendongeng asal Eropa di acara "Ubud Writers and Readers Festival". Si pendongeng menceritakan Pedopore ini tinggal di Monkey Forest, Ubud. Mereka keluar saat malam dan bernyanyi-nyanyi ketika Ubud sudah sepi. Lintang membayangkan sosok Pedopore itu seperti Roh Hutan yang digambarkan dalam film "Princess Mononoke" karya Hayao Miyazaki.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL wisata

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana