Apa Perbedaan Pintar dan Bodoh?

17 Juli 2012 16:45:47 Dibaca :

Di awal masuk sekolah di tahun ajaran baru ini,  saya di buat terkejut oleh rekan kerja. Seorang yang telah bekerja di lebih dari setangah usianya.


'Bu lilih sebentar,, saya mau ngomong' Orang itu berucap


'Iya bu.. ada apa? tanyaku


'Bu Lilih enggak usah panggil anak-anak dengan kata-kata pintar, Mereka kan tidak pintar, mereka itu masih bodoh, membaca saja belum mampu' ujarnya.


Astagfirullah.. Kok ada ya orang yang seperti ini.? Mungkin dia produk kolonial sehingga mesin dalam otaknya sudah berkarat. Gumamku dalam hati.


Ternyata dia mengkritik ucapanku untuk anak-anak murid. Aku memang sering mengucapkan pintar ayo kedepan, ayo kerjakan anak pintar. Dan sekarang aku dilarang memanggil anak-anak dengan kata pintar. Padahal kata itu hanya salah satu dari kata yang sering aku gunakan untuk memberi penguatan pada anak didik. Lalu aku berfikir sebenarnya anak yang pintar itu seperti apa sih? dan anak yang bodoh itu seperti apa pula ? aku justru merasa bodoh sendiri karena malah membuat pertanyaan konyol itu.


Seharusnya dalam dunia pendidikan jangan ada pengkotak-kotakan anak pintar dan anak bodoh bila penilaiannya hanya dari segi linguistik dan matematis. Padahal kriteria kepintaran atau kecerdasan anak itu banyak ragamnya. Bila seorang anak yang belum bisa membaca tapi dia telah menjuarai balap lari satu gugus, masih bisakah kita sebut bodoh?


Sebagian anak memang tidak memiliki kepintaran atau kecerdasan dalam semua bidang, bila anak itu pandai matematika belum tentu pelajaran bahasa inggris. Bila seorang anak pandai dalam pelajaran Ipa tapi  ternyata lemah dalam kesenian. Tapi ada pula seorang anak yang matematikanya kurang baik, tapi hasil melukisnya sangat bagus. Lalu dari segi apakah kita bisa membandingkan mereka pintar atau bodoh?


Kepintaran atau kecerdasan anak itu beragam, selain kepandaian linguistik dan matematis ada pula kecerdasan ruang visual, yaitu kecerdasan dalam menangkap objek visual secara cepat. Seorang anak dengan kecerdasan ini dapat membuat gambar dengan komposisi ruang yang bagus. Kecerdasan lainnya adalah kinestetik , yaitu kecerdasan dalam mengkoordinasikan  anggota badannya. Seorang anak yang pandai dalam olahraga masuk dalam kriteria ini. Kecerdasan selanjutnya adalah kecerdasan musikal. Yaitu kecerdasan untuk memahami alat musik dan seni suara . Dan banyak lagi kecerdasan lain yang dimiliki oleh seorang anak.


Memang kesalahan kita dalam dunia pendidikan ini adalah masih menomor satukan kecerdasan berbahasa dan matematis. Salah satu contoh adalah UN, anak yang pandai dalam pelajaran matematika, IPA dan Bahasa saja yang mendapatkan nilai baik, dan anehnya beberapa tahun yang lalu UN menjadi barometer kelulusan. Sungguh tidak adil rasanya bila kita hanya memberikan fasilitas pembelajaran pada anak dengan kemampuan dua ranah kecerdasan tersebut.


Sudah saatnya kita selaku pendidik dan orang tua memberikan porsi pada anak yang memiliki keterbatasan dalam satu bidang. Bantulah anak-anak kita untuk menemukan kecerdasan lain yang bisa dia kembangkan dikemudian hari. Sehingga tidak ada lagi cap bodoh pada anak-anak kita.


Dalam dunia ini banyak contoh orang-orang yang bodoh ketika bersekolah, tetapi ternyata mampu memiliki prestasi atau menjadi pengusaha yang hebat di kemudian hari dan memiliki banyak perusahaan. Orang bodoh ini kemudian mempekerjakan orang-orang pintar dalam perusahaannya. Lalu dengan contoh tersebut, masih pantaskah kita berlaku tidak adil pada mereka .








Lilih Wilda

/lilihwilda

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Ho ho ho
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?