Muda highlight

Pintar tapi Tidak Beretika

11 September 2017   20:50 Diperbarui: 11 September 2017   21:19 640 1 1
Pintar tapi Tidak Beretika
sumber photo : tehdanroti.blogspot.com

Hal ini menyinggung beberapa kalangan yang bisa dibilang Smart, bukan berarti orang yang pintar tidak beretika, tetapi disini aku mau menjabarkan kalau orang pintar kadang lupa cara beretika, mungkin karena kebanyakan orang yang pintar itu egois karena dari segi pandangan juga merasa lebih luas dari yang lain, sehingga munculah rasa merendahkan orang lain, bahkan untuk memberikan tanggung jawab ke orang lain juga tidak mau, karena merasa kalau orang lain yang mengerjakan pasti tidak sesuai dengan apa yang dimau, dan akhirnya pasti salah, hal-hal ini yang membuat orang pintar suka bekerja sendirian dari pada berkelompok. 

Bukan hanya itu orang semacam ini juga sensitif dari orang biasa, misalnya saja ketika dia menginginkan suatu yang menyamai data akurat, tapi dia tidak bisa mencapai data tersebut, dia akan marah sejadi-jadinya, dan imbasnya adalah orang yang ikut dalam mendata hal tersebut, marah tanpa jelas, merasa kalau dia yang mengerjakan pasti tidak begitu hasilnya, mencaci maki, mencari kesalahan. Kalau sudah terjadi seperti itu orang-orang menjadi malas meladenin dia, karena orang beretika tapi tidak pintar lebih memilih mengalah, dari pada melawan orang yang pintar tapi tidak beretika.

Hal-hal egois inilah yang buat orang pintar biasanya lebih suka sendirian, kurang dalam  pergaulan, padahal yang terpenting dari semuanya ini adalah pergaulan, pergaulan bisa membawa kita ke informasi-informasi seperti lowongan kerja dan sebagainya. Sedikit cerita dulu sewaktu aku di SMKN 17 Farmasi Samarinda, aku punya sahabat namanya Marfuatun Mutoharoh, dia anaknya pendiam dan etikanya bisa di acungi jempol. 

Tapi kurangnya dia itu kalau di Lab Ilmu resep selalu terlambat membuat 4 sediaan, sedangkan kami dengan sangat cepatnya seperti berlomba-lomba, dia juga beberapa kali remedial pratikum, dan juga lambat dalam hapalan Sinonim obat. Sebenarnya aku juga takut apakah nanti dia bisa bekerja, namanya teman sendiri aku juga ingin semua temanku bisa kerja nantinya, karena semasa aku SMK dulu lulusanku mendapatkan Sumpah Asisten Apoteker, sehingga angakatanku memiliki STRTTK. Teman ku yang akrab di panggil Uum ini berniat kuliah satu Universitas denganku, tapi dia terlambat untuk mendaftar, dan akhirnya memutuskan untuk bekerja. Aku pernah menanyakan ke dia

 "kerja dimana Um ?, cari sudah nanti keburu di ambil orang" kataku

 "iya Bung, sudah ada kok, nanti Uum tes juga"  

"Di mana um ?"

"Di dekat rumah"

Pikirku saat itu Apotek, ternyata dia diterima di Rumah Sakit Herawati, Samarinda.

Aku yakin bukan karena dia pintar atau tidak, tapi etikanya yang luar biasa.

Kepintaran itu memang perlu, tapi ETIKA lebih diatas kepintaran, orang yang beretika sudah pasti pintar, tapi orang pintar belum tentu beretika. Ketika seseorang terjun di dunia kerja, kita akan terus menerus bertemu dengan orang banyak, membentuk suatu organisasi, dan orang yang semacam ini yang diperlukan, bukan orang yang pintar tapi mau apa-apa sendiri, malah susah untuk bergaul dan bekerja, jadi alangkah baiknya Pintar tapi beretika juga, dari pada pintar tapi bikin semua orang membenci, bahkan untuk melawani orang seperti ini hanya buang-buang waktu, terlebih wataknya yang telah lama terbentuk sehingga membutuhkan waktu lama untuk merubahnya. Mulailah menyadari bahwa etika itu penting, bukan cuman di bidang pekerjaan, tapi di segala aspek kehidupan. Orang yang pintar tapi tidak beretika itu belum mengerti istilah

"Siapa yang menanam, Dia menuai"

Jadi segala hal yang pernah dilakukan seperti, merendahkan, meremehkan, memarahi, pasti suatu saat dia akan mendapatkannya juga, bisa jadi dari orang terdahulu atau orang yang berbeda, orang seperti ini jadi di takuti di manapun. Jangan bangga jadi orang yang "DITAKUTI" tapi banggalah jika jadi orang yang "DIHORMATI", karena "DITAKUTI" dengan "DIHORMATI" adalah dua kata yang sangat berbeda, Anda pasti lebih pintar bukan dalam menilai dari segi ini ?

Menjadi pintar itu perlu, tapi pintar dan  memiliki etika itu lebih dibutuhkan.