HIGHLIGHT

Cinta di Ujung Kursor

29 Maret 2013 06:55:35 Dibaca :
Cinta di Ujung Kursor
-

Cinta Di Ujung Kursor

Oleh: @Lh1n4

Berawal dari saling komen postingan di sebuah forum, kami merambah perkenalan melalui Yahoo Messanger. Ia mengenalkan diri sebagai Feliaz, yang menurut penuturannya berasal dari bahasa latin Felyaz yang artinya keselamatan. Namun aku lebih suka memanggilnya "Fey". Lelaki berzodiak Pisces ini cukup menyenangkan. Fasilitas Wifi kantor membuat kami bisa chatting setiap hari. Saling menyapa di antara pekerjaan kantor yang menjenuhkan, saling menghibur di kala stress menerpa. Sesederhana itulah hubunganku dengannya.

Sudah hampir dua tahun kami menjalin kasih hanya berperantarakan dunia maya. Meski demikian kami belum pernah sekalipun bertemu wajah. Aku mengenalinya hanya melalui foto kecil yang menghiasi propil picturenya. Setia menahan rindu tanpa pertemuan. Menyukaiku tanpa mau tahu latar belakang dan masa laluku. Mencintaiku tanpa pernah tahu wajahku jelek ataukah jelita. Begitulah aku menguji ketulusannya. Ia menerima segala kondisiku, malah berkali-kali mengajakku menikah. Meski belum pernah aku mengiyakan namun ia tetap menungguku. Aku masih takut memberikannya harapan. Bagaimana mungkin aku berjanji hidup abadi dengan seseorang yang belum pernah kusentuh.

Feliaz bekerja di sebuah instansi pemerintah di Jakarta, sedangkan aku bekerja di perusahaan asing yang bergerak di bidang pertambangan di Praya, kota yang berjeda dua pulau di bagian timur kotanya. Sejauh apapun jarak seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bertemu. Tetapi kami berkomitmen hanya akan bertemu jika segala sesuatunya telah siap.

***

Sehabis jam istirahat, siang itu aku dipanggil oleh atasanku ke ruangannya.

"Ameera, tolong gantikan saya mengikuti Workshop Perpajakan di Jakarta lusa. Saya mendadak harus ke Batam sore ini, tidak akan sempat jika harus ke Jakarta lagi."

"Lusa Pak? Ta.. Tapi saya belum menyiapkan berkas-berkasnya."

"Tidak usah khawatir, kamu datang sebagai perwakilan perusahaan, bukan sebagai pribadi. Jadi berkas yang sudah saya siapkan sebelumnya tinggal kamu gunakan saja. Transportasi dan penginapan pun semuanya sudah pesan, kamu tidak perlu khawatirkan apa-apa lagi. Cukup persiapkan diri kamu untuk berangkat lusa."

"Baiklah Pak."

Maka demi tugas, berangkatlah aku ke Jakarta pada hari yang telah ditentukan hanya dengan menenteng nyali. Ini adalah pengalaman baru bagiku yang belum pernah menginjakkan kaki ke ibu kota negaraku sendiri. Syukurlah perusahaan sudah menyiapkan segala fasilitasnya, sehingga aku hanya mengikuti instruksi. Kemegahan ibu kota membuatku berdecak kagum, sungguh berbeda dengan kotaku. Gedung-gedung yang menjulang tinggi, monumen yang berhiaskan emas, kemacetan yang melegenda, semua tersaji seperti berlarian di luar kotak besi yang aku tumpangi.

***

Sebelum memasuki ruangan workshop, baik peserta maupun panitia harus mengisi buku tamu. Selain identitas perusahaan atau instansi yang mengutus, kami juga diminta menyertakan identitas pribadi supaya terjalin keakraban secara personal di antara kami. Saat giliranku mengisi, aku iseng membolak-balik lembaran buku tamu, ingin mengetahui asal peserta darimana saja. Secara tak sengaja aku menemukan sebuah identitas salah satu panitia workshop memiliki alamat email yang tidak asing buatku. feliaz_1903@yahoo.com. Aku sangat yakin pemiliknya adalah orang yang dua tahun belakangan ini sering menyapaku di YM.

Kedatanganku ke Jakarta tak sempat kuberitakan pada Feliaz. Otakku berpikir cepat, aku ingin melihat bagaimana seorang Feliaz di belakangku. Maka aku mengisi buku tamu beralamatkan kantor serta menyertakan email kantor bukan email pribadi yang biasa aku gunakan bercengkrama dengan Felias. Aku mencoba menyamarkan keberadaanku, agar Felias tidak menyadari bahwa Ameera yang datang pada workshop ini adalah aku.

***

Brukk..!!

Seorang pria yang berjalan sambil menelpon menabrakku ketika aku baru saja keluar dari toilet. Dengan gerakan tangannya ia berusaha meminta maaf dan memberi isyarat untuk menunggunya. Aku hanya mengangguk seolah berkata “tak apa-apa.” Dari pakaian yang digunakan aku menebak ia adalah salah satu panitia yang saat itu berseragam batik kotak-kota merah biru dengan bawaha gelap. Di lehernya tergantung sebuah ID card berwarna biru tua. Sekilas aku meneliti identitasnya itu yang menerangkan bahwa pemiliknya diberikan tugas sebagai Koordinator Lapangan. Dan, aku gugup ketika melihat nama pemiliknya adalah Felias A. Pancapati. Nama yang tak biasa digunakan oleh orang kebanyakan. Mungkinkah ia Fey?

Beberapa menit kemudian ia terlihat menutup pembicaraan dan menyimpan ponsel slidenya. Ia menghampiriku.

“Maaf yah. Tadi saya gag sengaja. Mbak gag papa kan?”

“Ohh. Santai saja. Saya tidak apa-apa kok. hehe”

”Anda peserta workshop juga ya? Dari  kota mana?" tanyanya. "Saya dari Praya. Nama saya Ameera. Anda?" jelasku sambil mengulurkan tangan mengajaknya berkenalan.

"Oh ya? Salam kenal. Saya...." dia menyambut uluran tanganku.

Namun, Belum sempat ia mengucapkan namanya. Teman panitianya yang lain tiba-tiba memanggilnya. Sekali lagi dia menyatakan permintaan maafnya dan segera menemui rekan yang memanggilnya itu. Ah, tanpa menyebutkannya pun bukankah sudah jelas tertulis di ID card yang dikalungkannya.

***

Hari ini adalah hari terakhir. Kegiatan workshop sangat padat. Acara yang semula direncanakan selama empat hari akan diringkas menjadi dua hari saja. Akupun tidak lagi memiliki kesempatan bertemu dengan Feliaz. Ia sibuk mengkoordinasi jalannya workshop sedangkan aku sibuk merapal materi-materi workshop.

Di sela-sela acara istirahat siang, aku iseng membuka aplikas YM melalui ponselku. Seperti biasanya, ID Feliaz terlihat online di sana tanpa menulis status apapun. Lalu aku putuskan untuk mengebuzznya. Cukup lama, baru aku mendapatkan tanggapan dari Fey.

=============================

feliaz_2303       : Halo sayang

ameera.pratiwi  :  Hai..

feliaz_2303       : Aku bertemu klien bernama Ameera, Mirip sekali denganmu. Aku pikir itu kamu sayang. Hehe..

=============================

Aku tertegun melihat untaian kata lawan chatku. Aku berniat untuk mengaku saja. Tapi aku lagi-lagi mengurungkan niatku. Malah bertanya asal-asalan, untuk mengalihkan pembicaraan.

=============================

ameera.pratiwi : Di mana Fey?

feliaz_2303       : Biasalah. Lagi di kantor

ameera.pratiwi : Sibukkah?

feliaz_2303       : Lagi istirahat makan siang.

=============================

Sementara itu, di depan sana aku melihat Fey sedang duduk dengan seorang wanita. Mereka terlihat cukup mesra sambil tertawa-tawa sembari menunjuk-nunjuk sesuatu pada laptop di depan Fey.

=============================

ameera.pratiwi : Yakin kamu di kantor?

feliaz_2303       : Iya. Kenapakah?

=============================

Aku tak menjawab pertanyaannya. Kupilih tombol signout dan exit dari aplikasi. Pikiranku berkecamuk, aku merasa sakit karena Fey membohongiku.

****

Penutupan workshop. Menuju pintu keluar aku memutuskan melewati pintu depan dimana para panitia terlihat sibuk beramah tamah dengan peserta workshop yang akan segera meninggalkan mereka. Aku menghampiri Feliaz yang masih saja terlihat asik bermesraan dengan wanita tadi.

"Feyy... " Aku memanggilnya.

Dia langsung menoleh padaku. Aku menatapnya, kemudian menatap wanita yang sedang bersamanya. Aku tak mengucap sepatah kata lagi, lalu buru-buru pergi. Aku berharap Feliaz tadi mengenaliku dengan memanggilnya menggunakan nama kesayangan dariku. Feliaz tidak mengejarku, dia malah berdiri dengan kebingungan. Dari kejauhan, sayup-sayup Aku masih bisa mendengar perempuan itu bertanya padanya.

"Siapa?"

"Peserta workshop." katanya menjelaskan tentang aku.

***

Sesampainya di kotaku, aku tidak segera online. Aku masih marah karena Feliaz membohongiku. Ternyata di Jakarta dia sudah punya kekasih. Aku mengabaikan Feliaz yang berkali-kali menyapaku ketika aku sesekali online untuk mengecek pesan offline. Tetapi dia tidak menyerah. Dia pasti sudah menyadari perubahan sikapku karena aku sedang marah.

Pada buzznya yang kesekian kali, aku baru meresponnya.

=============================

ameera.pratiwi : Sudahlah, Fey. Lupakan saya.

feliaz_2303       : Kamu kenapa sih tiba-tiba marah?

ameera.pratiwi : Satu hal yang saya benci. Saya benci pembohong!

feliaz_2303       : Kapan saya bohong padamu?

ameera.pratiwi : Terakhir chat, kamu yakin lagi di kantor..? Bukannya kamu sedang bermesraan dengan seorang wanita  di acara workshop?

feliaz_2303       : Bermesraan? Workshop? Saya di kantor... Sumpah!

ameera.pratiwi : Namamu masih Felias Pancapati-kan?

feliaz_2303       : Iya. Itu benar.

ameera.pratiwi : Felias yang sama dengan yang aku temukan di workshop waktu itu?

feliaz_2303       : Amee, saya bisa jelasin.

ameera.pratiwi : Sudahlah, Feyy... Tidak usah jelasin apa-apa.

=============================

Tanpa memberikan ia waktu untuk menjelaskan, aku meng-ignorenya. Aku memasukkan id-nya ke ignore list.

****

Beberapa bulan kemudian.

Kriiingg.. Kriinggg..!! Telepon di mejaku berbunyi.

Kualihkan perhatian dari monitor komputerku untuk mengangkatnya. Terdengar suara Vanya dari bagian resepsionis.

"Amee.. Ada seorang tamu dari Jakarta mencarimu."

"Hah? Jauh amat."

"Katanya panitia workshop kemarin."

Sembari menuju ke lobby, aku mulai menebak-nebak apa yang terjadi pada workshop kemarin. Mereka mendatangiku langsung ke kantor, padahal banyak media lain yang bisa mereka gunakan untuk menghubungiku.

Seorang lelaki berkaca mata minus duduk di sofa sembari membolak-balikkan majalah yang tersedia di atas meja. Ketika melihatku, dia langsung berdiri dan tersenyum ramah. Dia mengulurkan tangannya menjabat tanganku.

"Ibu Ameera?" tebaknya.

"Iya. Saya sendiri. Anda darimana?"

"Saya salah satu panitia workshop yang ibu ikuti bulan lalu."

"Ohh.. “ aku bergumam sembari mempersilahkannya duduk kembali.

Aku memberi kode kepada seorang Pak Tono yang kebetulan melintas di luar ruangan itu. Lelaki separuh baya yang bekerja sebagai OB itu berhenti sejenak dan langsung mengangguk memahami perintahku untuk membawakan minuman kepada tamu.

"Anda pasti haus. Biar diambilkan minuman oleh Pak Tono." ucapku singkat. "Oh, makasih bu. Jadi ngerepotin...", balasnya pelan.

Setelah Pak Tono mengantarkan dua gelas teh hangat, aku mempersilahkannya minum. Kemudian kami terlibat perbincangan yang membuat kami tertawa kecil. Mengingat pekerjaanku masih banyak yang belum selesai, aku ingin mempersingkat pertemuan dengan mempertanyakan kembali permasalahan awal.

“Jadi, ada masalah apa sampai anda jauh-jauh datang kemari?" tanyaku sopan.

Ia tidak segera menjawab. Ia terlihat sibuk mencari sesuatu dari dalam map yang ia pegang sedari tadi.

"Maaf, saya menemui ibu untuk urusan yang lain." "Apa ya?" tanyaku semakin penasaran,

Lelaki di depanku ini berkali-kali mengusap keringat di keningnya dengan sapu tangan yang sudah terlihat lusuh. Peluhnya tak tertahan oleh sejuknya ruangan berpendingin.

"Perkenalkan. Nama saya Feliaz." katanya. "Feliaz Pancapati." lanjutnya kembali.

Aku terkaget mendengar ucapannya yang terdengar mustahil, karena ia terlihat sangat berbeda. Masa aku tidak mengenali lagi lelaki yang baru sebulan lalu kuajak berkenalan di acara workshop. Melihat keterkejutanku, ia menyodorkan map yang dipegangnya.

"Jika anda tidak percaya. Ini tanda pengenal saya dan berkas-berkas saya di kantor."

Dengan gugup aku mengambil map tersebut. Aku mengamati dan membaca dengan penuh selidik dokumen-dokumen yang ada di dalamnya. Satu lembar berganti dengan lembar yang lain. KTP, SIM, name tag dari kantornya, serta beberapa berkas lainnya. Aku pun menyamakan foto yang berada di kartu identitas dalam map itu dengan wajah lelaki di hadapanku.

Kesimpulanku, lelaki yang di hadapanku saat ini memang beridentitas Feliaz Pancapati. Lalu siapa Feliaz yang aku temui di workshop? Membaca kebimbangan di wajahku, ia kembali menjelaskan.

"Orang yang kamu temui waktu itu, bukan saya, Amee. Dia adalah teman sekantor yang meminjam ID card saya."

"Ohhh.."

"Saya ingin menjelaskannya, tapi kamu.."

"Maaf Feyy.. Saya terlalu berburuk sangka. Saya terlaku takut dibohongi."

"Mana mungkin saya berani berbohong pada calon istriku."

Berdesir darahku mendengar kata yang dipilih untuk menutup kalimatnya.

"Kamu mau maafin saya, feyy?"

"Tentu saja, Amee.. Saya sayang kamu, Amee. Dan saya serius dengan hubungan kita selama ini. Kamu mau kan?"

Tak ada suara yang kuucap. Hanya air mata yang mengalir di pipiku. Bahagia.

[Nama, kejadian dan tempat hanyalah fiktif belaka]

Selamat membaca, selamat hari Jum'at.

Bukan Nicholas

/lh1n4

Penyembah Tuhan ◕ Penikmat puisi ◕ Pecinta lelaki, (◦'⌣')♥ Pepey ◕ Pecumbu malam.
http://flavors.me/lh1n4

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?