Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Ingin Menjodohkan Orang Lain? Lakukan Saja

19 April 2017   06:29 Diperbarui: 19 April 2017   15:45 400 20 13
Ingin Menjodohkan Orang Lain? Lakukan Saja
businessmatching21-58f720bd789773031b390736.jpg

Waktu kecil, saya sering melihat Mama menjodohkan teman-teman kantornya. Ada yang berhasil sampai ke jenjang pernikahan, ada pula yang tidak. Saya senang sekali melihatnya. Bahkan saya akrab dengan pasangan-pasangan yang berhasil Mama jodohkan. Mereka baik dan perhatian pada saya.

Barulah tahun lalu Mama menceritakan alasannya suka menjodohkan orang lain. Simple saja, katanya agar anak Mama dimudahkan jodohnya. Saya hanya terdiam. Justru saya sudah tidak peduli dengan jodoh dan pendamping hidup bagi diri saya sendiri. Meski telah saya temukan sosok belahan jiwa dan keluarga saya bisa menerima, bahkan mendukung  siapa yang saya cintai, namun jika dilihat secara realistis tak ada lagi harapan bagi saya dan belahan jiwa untuk bersama. Kecuali Tuhan memiliki skenario lain atas diri saya.

Sebaliknya, secara sembunyi-sembunyi saya senang mencoba menjodohkan orang lain. Terlepas dari berhasil atau tidak, saya senang melihat orang lain bahagia. Terlebih orang-orang terdekat yang saya sayangi. Kebahagiaan mereka jauh lebih penting dari kebahagiaan saya. Lagi pula, bukankah Tuhan akan senang melihat bertambahnya cinta di dunia?

Bahagia rasanya melihat orang-orang yang semula sendirian kini mempunyai pasangan. Mereka tak lagi kesepian. Semangat hidup, belajar, dan beraktivitas pun meningkat dengan hadirnya pasangan yang dicintai. Cinta membuat segalanya lebih hidup. Itulah daya magis kekuatan cinta.

Di zaman serba modern dan serba instan seperti sekarang, orang menjadi lebih individualis. Tingkat ego mereka semakin tinggi. Jangankan mencarikan pasangan untuk orang lain, menemukan pasangan untuk diri sendiri saja tidak bisa. Bahkan timbul persaingan untuk segera mendapat pasangan. Status single seolah menjadi aib yang memalukan.

Apakah kita akan terus-menerus begitu? Sibuk mencari cinta untuk diri sendiri tanpa memikirkan orang lain? Bagi kita yang masih peduli pada orang lain, tak ada salahnya mencarikan pasangan untuk mereka. Menciptakan kebahagiaan di hati mereka. Orang lain tak perlu tahu bahwa kitalah yang menjodohkan mereka. Namun, Tuhan yang lebih tahu.

Mencarikan pasangan untuk orang lain menjadikan diri kita terhindar dari sifat egois. Kita tidak hanya fokus pada kebahagiaan kita sendiri. Rasa empati akan tumbuh pada orang-orang yang masih sendiri, kesepian, kekurangan perhatian dan kasih sayang. Saat itulah kita tergerak mencarikan teman hidup untuk mereka.

Ketika kita ingin menjodohkan orang lain, lakukan dengan hati-hati. Perlu pertimbangan matang untuk melakukannya. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Pastikan dia siap membuka hati

Entah kita bertindak di belakang layar atau terang-terangan untuk menjodohkan orang lain, pastikan dia telah siap membuka hati. Lakukan pada waktu yang tepat. Jangan menjodohkan orang lain saat dia baru putus cinta, diselingkuhi, ditinggal menikah, atau dikecewakan. Orang yang mengalami luka batin akibat kekecewaan cinta cenderung menutup hati dan lebih protektif pada dirinya sendiri. Mereka enggan memulai suatu hubungan karena trauma. Takut kekecewaan yang sama terulang kembali.

2. Pertimbangkan kecocokan

Sambil mencari waktu yang tepat, pertimbangkan dulu kesesuaian sifat dan fisik dua orang yang ingin kita jodohkan. Misalnya, pria dan wanita itu sama-sama penyuka kucing, sama-sama bertubuh ramping, berkulit putih, bermata teduh,  hobi fotografi, traveling, dll. Kesesuaian ini penting agar kelak di antara mereka tercipta kemistri. Bukankah kemistri membuat pasangan terlihat serasi?

3. Ungkapkan kelebihan dia

Sebelum saling memperkenalkan, ungkapkan lebih dulu semua tentang dia yang ingin kita jodohkan. Sebutkan prestasi, kelebihan, dan kekurangannya. Tunjukkan bahwa kita bangga bisa mengenal dengan orang seperti dia. Semua itu bukan untuk show off atau menyombong, melainkan untuk menceritakan tentang seseorang yang ingin kita jodohkan dari sudut pandang berbeda. Semacam prolog sebelum lanjut ke tahap perkenalan.

4. Bawa dia ke dalam lingkungan kita

Buat momen perkenalan senatural mungkin. Tidak perlu sengaja membuat acara khusus yang mempertemukan keduanya. Ajak saja dia ke dalam lingkungan kita. Perkenalkan dengan seseorang di pihak kita yang ingin kita jodohkan. Buat dia nyaman dan terbiasa di lingkungan kita sebelum mengenalnya. Dengan begitu, proses perkenalan akan mengalir lancar dengan sendirinya. Tanpa terkesan disengaja atau dibuat-buat.

5. Biarkan prosesnya mengalir

Cinta datang karena terbiasa. Cinta datang melalui proses. Sebagai orang yang membantu menjodohkan, kita cukup lihat prosesnya. Kita perhatikan progresnya. Jangan memaksakan atau terburu-buru menyuruh mereka mengambil keputusan. Bukankah cinta butuh waktu dan proses?

6. Berikan motivasi

Di tengah-tengah proses, ada saja saat dimana keduanya galau dan berdilema. Mungkin saja hati telah menyatu. Namun masalah lain menghadang. Tempatkan diri kita sebagai konselor dan motivator untuk mereka. Beri mereka motivasi yang positif. Bimbinglah mereka melewati masa-masa transisi.

7. Serahkan keputusan final pada mereka

Membimbing dan memotivasi ke arah positif boleh saja. Namun keputusan final tetap di tangan mereka. Kita tidak bisa memaksakan kehendak pada mereka. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk saling mencintai, bertunangan, atau menikah. Peran kita hanyalah membantu, memotivasi, dan mengarahkan. Biarkan mereka mengambil keputusan. Apa pun keputusannya, dukunglah. Anggaplah itu keputusan terbaik. Berhasil atau tidak, yang penting niat kita baik dan Tuhan tahu itu.

Kompasianer, masih memikirkan kebahagiaan sendiri atau sudah tergerak untuk menjodohkan orang lain?