Jangan Bercerai, Pertahankanlah Keluarga Anda, Fikirkan Nasib Anak-anak Anda

07 Agustus 2012 15:14:06 Dibaca :

Oleh: Lafi Munira

Perceraian tentu bukan jalan terakhir dari suatu hubungan yang tidak berhasil (dalam pernikahan). Apakah para orang tua pernah memikirkan konsekuensinya? Baik pada diri mereka sendiri maupun pada kondisi mental anaknya kelak. Orang tua biasanya berpikir bahwa ini masalah mereka, jadi jangan libatkan anak-anak. Pernahkah terlintas dipikirannya bahwa anak merupakan imbas dari intervensi masalah orang tuanya sendiri.

Mental anak yang masih labil akan sangat terpengaruh atas apa yang dialaminya. Terutama pada anak usia remaja, kejadian seperti ini akan sangat menjadi faktor dominan pembentukan sikap kedepannya nanti. Faktor pembentuk sikap diantaranya adalah pengalaman, orang lain yang dianggap penting, lingkungan sosialnya, kebudayaan, dsb.

Perceraian akan membawa anak ke tahap perubahan kepribadian sesuai kekuatan mental anak dan sejauh mana mereka mampu menerima kenyataan. Berikut beberapa kepribadian baru yang akan terbentuk akibat perceraian orang tuanya :

1. Anak Melankolis
Anak tipe ini kondisinya akan menjadi murung, sedih, dan tidak jarang yang menyalahkan diri sendiri, berpikir berlebihan, hingga mengalami depresi karena merasa kehidupannya terganggu. Saat segala sesuatunya menjadi tidak seperti yang ia harapkan, maka ia akan berpikir negatif dan cenderung menutup diri. Yang paling menyedihkan buatnya adalah melihat keluarga lain yang harmonis. Perlahan ia akan berpikir “kenapa keluargaku tidak seperti ini?”

2. Anak Bijaksana
Seperti namanya yaitu bijaksana, begitu anak menerima kenyataan pahit, ia akan membuka pikirannya dan menentukan sendiri langkahnya dan berkomitmen pada dirinya untuk tidak mengulang kesalahan yang dibuat orang tuanya pada kehidupannya dimasa yang akan datang. Sifat kebijaksanaannya muncul karena ia memahami resiko single parent dan menjadi motivasi baginya untuk merawat keluarganya sendiri. Kedewasaan sangat berpengaruh namun jauh dalam hatinya dia pasti merasa kesepian dan butuh dukungan dari orang-orang terdekat agar hatinya tetap kuat.

3. Anak Brokenhome
Istilah anak brokenhome sering mendapat stigma dari masyarakat sebagai ‘anak bandel’ yang kurang perhatian dari kedua orang tuanya karena perceraian. Anak tipe ini memiliki 2 persepsi, pertama adalah dia menjadi nakal karena merasa tidak akan ada lagi ayah atau ibu yang akan melarangnya berbuat macam-macam. Kedua, tekanan emosional (stress) berat yang membuatnya galau dan mudah terpengaruh lingkungan pergaulan tidak baik. Contoh kasus anak seperti ini sudah banyak, diantaranya merokok, minum-minuman keras, narkoba, free sex, jarang pulang, kekerasan, dan menganggap pertengkaran adalah hal biasa baginya. Sehingga maklum saja kalau ia suka cari masalah dan meningkatnya agresi yang ditujukan pada dirinya sendiri maupun orang lain. Anak seperti ini bukan seharusnya dijauhi. Kuncinya adalah orang yang dekat dan dianggap penting baginya dapat menjadi motivasi perubahan sikapnya. Institusi seperti pendidikan dan agama dapat menjadi media dalam penyadaran sifatnya.

4. Anak Cuek
Kategori anak cuek dimaksud disini adalah anak yang tidak peduli pada masalah keluarganya. Dibalik ketidak peduliannya sebenarnya dia sudah capek melihat masalah berdatangan dan sebagai langkah menghindari stress maka ia akan merasa tidak mau peduli lagi. Namun pada kenyatannya banyak diantaranya yang merasa dendam dan membenci orang tua sendiri. Sehingga tidak baik jika terus didiamkan. Setelah perceraian, orang tua harus memberinya penjelasan agar tidak membenci orang tuanya. Karena bagaimanapun tidak ada yang namanya “mantan orang tua”. Walaupun masa depannya akan tidak sesuai harapan. Misalnya sang ayah yang bercerai dan menikah dengan orang lain membuat anak yang masih SMA tidak jadi melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan karena si ibu yang sudah tua dan tidak punya biaya untuk kuliah anaknya. Awalnya anak akan menyalahkan orang tuanya meskipun ia diam dan berniat untuk tidak mengutarakan perasaannya. Tapi hal ini bisa cepat diantisipasi jika si ibu memberi arahan lain misalnya bekerja, atau belajar giat untuk mendapatkan beasiswa universitas.

Maka dari itu ada baiknya orang tua sebelum bercerai berpikir ulang dan mampu memahami serta memprediksi kepribadian anak selanjutnya agar berkembang ke arah yang lebih baik. Jangan sampai anak terjerumus pada hal-hal buruk. Karena jika hal itu terjadi kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan anak maupun orang tua. Karena kenyataanlah yang berkata lain. Selama kita masih mau berusaha merubahnya, maka Insya Allah jalan akan terbuka. Karena manusia hanya bisa berusaha dan Allah yang menentukan. Naudzubillah,

berdasar pengalaman pribadi, saya pernah menjadi anak tipe 1, 2, dan 4 ^_____^
tentunya, badai psikis akan dialami anak-anak korban perceraian bertahun-tahun, atau bahkan sepanjang hidupnya..
di 8 tahun pasca perceraian, saya hidup menjadi anak tipe 1 dan 4, melankolis sekaligus cuek.. wow sekarang tersenyum ketika mengingatnya,, 8 tahun menjalani hidup abstrak kayak gitu…
dan 4 tahun terakhir ini kombinasi antara tipe 1, 2, dan sedikit tipe 4, agak sulit menghilangkan secara total, karena udah bersahabat bertahun-tahun dengan tipe ini di dalam diri, biasanya tipe ini akan muncul ketika sedang tertekan yang sangat hebat dan bertubi-tubi… alhamdulillah saya banyak belajar dan saya menjadi bijak, dan memiliki banyak mimpi tentang keluarga, tentang anak-anak, saya ingin memiliki keluarga yang harmonis dan bisa mengurus anak-anak dengan kasih sayang dan cinta bersama2 dengan suami saya kelak, siapakah?

oiaa selain perceraian ada poin penting yang saya pelajari yakni kebudayaan bisu dalam keluarga, apa itu?
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan diikat oleh tali batin. Problem tersebut tidak akan bertambah berat jika kebudayaan bisu terjadi diantara orang yang tidak saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak. Bila orang tua tidak memberikan kesempatan dialog dan komunikasi dalam arti yang sungguh yaitu bukan basa basi atau sekedar bicara pada hal-hal yang perlu atau penting saja; anak-anak tidak mungkin mau mempercayakan masalah-masalahnya dan membuka diri. Mereka lebih baik berdiam diri saja. Situasi kebudayaan bisu ini akan mampu mematikan kehidupan itu sendiri dan pada sisi yang sama dialog mempunyai peranan yang sangat penting. Kenakalan remaja dapat berakar pada kurangnya dialog dalam masa kanak-kanak dan masa berikutnya, karena orangtua terlalu menyibukkan diri sedangkan kebutuhan yang lebih mendasar yaitu cinta kasih diabaikan. Akibatnya anak menjadi terlantar dalam kesendirian dan kebisuannya. Ternyata perhatian orangtua dengan memberikan kesenangan materiil belum mampu menyentuh kemanusiaan anak. Dialog tidak dapat digantikan kedudukannya dengan benda mahal dan bagus. Menggantikannya berarti melemparkan anak ke dalam sekumpulan benda mati. (berdasar referensi psikologi yg sy baca)

Sebenarnya, dibalik ketangguhan anak-anak korban perceraian, mereka bisa dibilang rapuh, namun mereka tulus dan tak pernah mengada-ngada, mereka perhatian dan penuh cinta, karena hidup mereka kekurangan cinta jadi mereka senang berbagi cinta kepada siapa saja, khususnya anak kecil…
pernah juga mendapat ledekan, kalo cinta itu biasa aja ga usah berlebihan… bagi anak-anak yang kekurangan cinta ini, cinta adalah sesuatu yang langka sejak kecil, jadi wajar saja kami bakal jadi setia setengah mati sama seseorang yang dicinta, bagi anak-anak korban perceraian itu cinta segalanya, cinta adalah kehidupan, yang ibaratnya bisa menebus kehilangan dan kecacatan selama ini… kenapa sy ekstrem bilangnya cacat?, serius kayak rasanya lebaran tu hampa banget selama bertahun2, karena ga ada wajah ayah dan ibu yang dipandang secara bersamaan, ya saya punya jargon “lebaran hampa”, sampai saat ini, bukannya kurang bersyukur, namun ada rasa yg menusuk-nusuk di hati karena hampa,, kekurangan cinta,, jadi tentunya hidup bersama orang yang dicinta adalah impian terbesar.. ah, cinta..
anak-anak yang rapuh ini, melewati hidup yang berat, apalagi ketika ditarik2 kedua orangtuanya, kalo memihak ke salah satu saja, ke ayah saja atau ibu saja, dibilang ga adil, nanti di bilang durhaka, atau bahkan ga tau terimakasih, how hard our life… setidaknya kami berusaha berbagi cinta kepada kedua orangtua,
lebih kompleks lagi kalo jadi anak pertama,, beban psikis yang ditanggung tambah banyak, .. menurut pengamatan saya berbelas tahun ini,, dari beberapa anak dalam keluarga yang orangtuanya bercerai, hanya sedikit yang berhasil menjadi bijak.. kenapa?, karena sebagian besar memilih hidup dengan tipe no. 4 yakni cuek (untuk anak laki-laki) atau tipe 3. untuk anak orang kaya..

well, semoga tulisan ini bisa menginspirasi, semoga kita semua bisa memiliki keluarga yang indah, mempertahankannya sampai tutup usia, mendidik anak-anak kita dengan cinta, sehingga mereka bisa menjadi generasi kebanggan bangsa.. amin allohumma amin, insyaAllah…

jangan bercerai, walau badai melanda, bertahanlah, fikirkan anak-anak anda, bayangkan wajah dan senyuman mereka, yang tiba-tiba hilang sinarnya meredup atau bahkan berganti tangisan pasca perpisahan, tangisan yang disimpan saja, tak berani ditunjukkan, karena tak ingin mengecewakan, karena tak ingin menambah beban, ya seketika itu, anak yang kecil itu berubah cara fikirnya menjadi seperti orang dewasa, mungkin anda tidak bisa membayangkan atau mengetahui sakit yang mereka rasakan, disini, didalam hati..”

Lafi Munira

/lafimunira

introvert-moody|sangat menyukai hujan | sangat menyukai anak-anak | pecinta kucing | penggemar musik | kolektor buku |pecinta puisi, bahasa-bahasa, psikologi, sastra, filsafat, bintang, dan langit malam hari| menyukai aroma udara pagi hari dan langit teduh di pagi hari | penyuka langit biru dan awan-awan putih | suka mengumpulkan pasir pantai | lebih suka menulis daripada bicara | sangat suka memandangi sawah-sawah hijau dan damainya kota yogya | menyukai senyuman | menyukai filosofi pasir dan filosofi udara | suka berfikir, memperhatikan hal yang detail, | humanitarian wanna be |
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?