HIGHLIGHT

Agar Kita Nyaman Jadi Warga Kompasiana

14 Juli 2012 08:59:47 Dibaca :

Sebagai warga blog keroyokan Kompasiana, saya sadar betul, bahwa saya hanyalah warga yang harus taat sama yang punya rumah dengan segala etika dan aturan mainnya. Dengan menyediakan server yang begitu besar, kerja moderasi admin yang terbatas. Biaya yang juga cukup besar setiap bulannya. Kompasiana telah benyak membantu warganya yang telah menjadi penghuni tetap maupun yang sekedar bertamu untuk saling mengeluarkan gagasan dan pendapatnya, lalu saling bertegur sapa dengan sesama.


Dari semua proses keluar masuknya tulisan serta berbagai interaksinya tersebut, banyak warga yang telah mengambil manfaat, sebagai bagian dari proses belajar dalam hal tulis menulis. Bahkan lebih daripada itu, pihak Admin sering menggelar berbagai blogshop dan pelatihan, hingga event lomba menulis dengan hadiah-hadiah yang juga lumayan.


Untuk itulah, karena rumah besar Kompasiana ini juga merupakan ruang publik, pihak admin dan pengelola serta pemilik Kompasiana juga manusia biasa dengan segala fasilitas yang mereka berikan, berikut feedback yang mereka dapatkan secara kalkulasi bisnisnya. Memerlukan sebuah interaksi tulis menulis yang sehat dan elegan.


Jika saya meminjam percikan renungan saya yang saya tulis di profil, "Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali...."


Menulis di Kompasiana juga semestinya menggunakan hati dan pikiran. Termasuk dalam hal berinteraksi dalam komentar.  Pihak admin memang memiliki hak untuk menegur bahkan mendelete tulisan atau komentar yang kiranya melanggar ketentuan Kompasiana.  Bahkan lebih jauhnya mendelete akun kompasiana kita. Tapi alangkah lebih baiknya apabila kita bersikap untuk pandai merasa, dengan cara tidak menulis ataupun berkomentar tentang sesuatu yang sifatnya menyerang secara vulgar dengan kata-kata yang kasar dan tidak pantas.


Kita bisa koq, untuk mengeluarkan pendapat kita dengan bungkus bahasa yang baik dan elegan. Kita juga bisa koq untuk berdiskusi dalam komentar juga dengan bahasa yang elegan. Yang penting jangan sekali-kali memaksakan pendapat sendiri sebagai kebenaran yang mutlak adanya. Karena kebenaran sejati hanayalah milik Tuhan. Selama itu nilainya pendapat, tafsir, atau ta'wil, kita sah-sah saja untuk berbeda.


Alhamdulillah secara pribadi, selama saya bergabung dengan Kompasiana, tak ada tulisan saya yang di delete, atau ada teguran dari Kompasiana. Saya berusaha untuk menulis dan berkomentar dengan akal sehat dan hati yang bersih.  Saya juga selalu berusaha untuk menjaga perasaan kompasianers lain yang sudah berteman dengan saya atau yang selintas sekalipun.


Silaturrahmi jauh lebih penting dari sekedar hujat-hujatan, dan caci maki. Perkubuan dan perseteruan dalam media intelektual tak saya kenal dan saya sukai.  Kalaupun tock ada materi tulisan saya yang memiliki kecenderungan pro ke Anu atau ke pergerakan itu, maka jikalaupun ada yang berpendapat berbeda selalu saya tanggapi dengan argumentasi, bukan dengan emosi. Seperti dalam hal politik, pemikiran keagamaan, ritual ibadah dll misalnya.


Saya ingin tinggal nyaman dan lama di Kompasiana. Oleh karena itu saya ikuti aturan main admin dalam hal menulis dan berinteraksi. Dalam hal berinteraksi di rumah besar jurnalisme warga ini pun saya berprinsip. Punya satu musuh terlalu banyak, seribu sahabat masih terlalu sedikit. Oleh karena itu, tak menarik rasanya jika kita hanya urusan "kopdar" saja menjadi satu topik yang melebar kemana-mana, sebagaimana yang menimpa sahabat dan adik saya Dewa Gilang.


Alangkah baiknya jika Kompasiana ini kita isi saja dengan banyak hal yang mencerminkan cinta dan persahabatan, semangat berbagi, dan mencerahkan. Sehingga Kompasiana benar-benar menjadi Rumah Warga yang nyaman dan bermanfaat..Salam kompasiana "Sharing And Connecting"


Usman Kusmana

/kusmanausman

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?