Lalu Apa Setelah Idul Fitri?

21 Agustus 2012 03:39:22 Dibaca :

Bergabung dengan kompasiana selama beberapa hari memberikan banyak kesan. Banyak orang yang berbagi ilmu, berbagi kekayaan intelektualnya kepada sesama kompasiana.

Idul Fitri memberikan harapan munculnya tatanan sikap yang baru, sebagai hasil dari mati raga yang telah dilakukan selama satu bulan penuh. Diharapkan kualitas puasa berbanding lurus dengan kualitas sikap paska puasa. Rahmat idul fitri seharunya menjadi rahmat yang bisa dirasakan oleh berbagai suku, agama, ras, dan antargolongan.

Meski demikian saya sempat prihatin dengan beberapa postingan di kompasiana yang mengindikasikan adanya sikap baru yang berkebalikan dengan semangad perdamaian dan keberagaman sebagai hasil dari idul fitri.

Begitu sering di kompasiana ditampilkan tulisan-tulisan informatif tetapi tidak reflektif dan cenderung kontraproduktif. Aroma "menebar" solidaritas antar sesama muslim dengan menonjolkan perilaku beberapa oknum pembenci islam mulai rajin ditampilkan. Di antaranya tentang pameran karikatur di German, peringatan dirusaknya masjidil Aqsa, akun twitter yang menghina islam, dan sebagainya.

Bagi seorang pendidik saya merasa prihatin. Apakah itu buah-buah Idul Fitri yang mulai kita rasakan bersama. Sebagai warga Indonesia saya berharap, buah Idul Fitri adalah semangad cinta kasih, toleransi, dan sikap bijak dalam menulis di kompasiana. Sungguh, kompasiana adalah tempat belajar yang baik untuk memupuk semangad kemuridan.
Salam hangat

Kuda Kelana

/kuda-kelana

Jayapura tetap Indonesia yang ingin merasakan kemerdekaan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?