Kholil Rokhman
Kholil Rokhman swasta

Berusaha menyelami sederhana. Suka yang berbau Timnas Sepak Bola Argentina.

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Cavenaghi, Digadang Lalu 'Menghilang'

12 Juli 2017   19:05 Diperbarui: 13 Juli 2017   04:01 138 1 0

Banyak pemain sepak bola yang moncer saat junior, tapi kemudian meredup saat senior. Satu di antaranya adalah Fernando Cavenaghi, penyerang asal Argentina.

Sebelum muncul Gonzalo Higuain dan Sergio Aguero, Argentina memiliki harapan pada Cavenaghi. Pemain ini lahir pada 21 September 1983. Aksi menawan Cavenaghi kali pertama sebagai tukang jebol dia perlihatkan di River Plate. Di usia 18 tahun, dia mampu menjadi pencetak gol terbanyak Liga Argentina dengan 17 gol, yakni pada musim 2001-2002.

Aksi menawan itulah yang membuat dia masuk Timnas Argentina Junior saat Kejuaraan Amerika Selatan U-20 pada tahun 2003 yang digelar Januari 2003. Saat itu, Cavenaghi masih berusia 19 tahun. Dia menjadi bagian skuat Timnas Argentina Junior di bawah asuhan Hugo Tocalli. Di skuat itu ada beberapa nama yang kemudian terkenal ketika bermain di level senior. Mereka adalah Javier Mascherano, Carlos Tevez, Pablo Zabaleta. Ada juga nama Maxi Lopez yang namanya dikenal karena perseteruan dengan Mauro Icardi perihal wanita bernama Wanda Nara.

Di Timnas Argentina Junior itu, Cavenaghi jadi andalan di lini depan. Cavenaghi menjadi pencetak gol terbanyak kejuaraan tersebut dengan 8 gol. Bahkan, dia seperti berlari sendirian di daftar topskor turnamen. Sebab, posisi dua pencetak gol terbanyak hanya membukukan 4 gol. Di ajang itu pun, Carlos Tevez bahkan tidak mencetak satu gol pun.

Selain menjadi pencetak gol terbanyak, Cavenaghi juga berperan penting bagi Argentina. Sebab, di kejuaraan itu, Argentina mampu menjadi juara. Setelah Argentina juara, mereka berkesempatan mengikuti Piala Dunia U-20 tahun 2003.

Di Piala Dunia U-20 2003, Cavenaghi kembali menjadi andalan Argentina. Dia pun mampu membuat empat gol di ajang tersebut. Empat gol itu membuat Cavenaghi berada di puncak daftar topskor bersama Dudu (Brasil), Daisuke Sakata (Jepang), dan Eddie Johnson (Amerika Serikat). Namun, karena aturan menit bermain, Eddie Johnson berhak mendapatkan sepatu emas tanda sebagai pencetak gol terbanyak.

Aksi luar biasa Cavenaghi pada tahun 2003 membuatnya direkrut Spartak Moscow, Rusia. Hanya saja, di Liga Rusia, Cavenaghi tak terlalu tajam. Selama tiga tahun, dia hanya membuat 12 gol. Namun, pesona Cavenaghi belum pudar. Dia akhirnya berlabuh ke Bordeaux di Liga Prancis pada 2007. Di musim pertamanya, dia hanya membuat dua gol.

Di musim kedua bersama Bordeaux, Cavenaghi cukup lumayan karena mampu membuat 15 gol. Aksi impresif itulah yang membuat dia dipanggil pelatih Timnas Argentina saat itu, Alfio Basile. Pada 2008, Cavenaghi bermain empat kali bagi Argentina, namun tak mampu membuat gol.

Setelah itu, karier Cavenaghi di klub dan timnas meredup. Dia tak mampu bersaing di Bordeaux. Bahkan, di Timnas Argentina senior, dia tak pernah lagi dipanggil setelah tahun 2008.

Pada musim 2015-2016, Cavenaghi memang sempat menjadi topskor, namun hanya di Liga Siprus, yang secara gengsi dan kualitas jauh dari liga besar Eropa. Dia bermain untuk APOEL Siprus dan membuat 18 gol dalam 19 laga. Cavenaghi saat ini sudah pensiun. Dia memutuskan pensiun pada tahun 2016, saat usianya 32 tahun. (*)