Surat Cinta untuk Putriku, Naurah...

31 Juli 2012 17:08:30 Dibaca :
Surat Cinta untuk Putriku, Naurah...

Beberapa malam ini, Bunda banyak merenungi dirimu, Sayang. Waktu berlalu sangat cepat. Rasanya baru kemarin, Bunda melahirkanmu. Saat itu, menjelang tepat tengah malam. Ketika Surabaya sedang dilanda banjir berat. Ketuban Bunda pecah setelah semalam begadang mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan esok hari. Saat itu, usiamu masih 34 minggu dalam kandungan. Bunda harus diinduksi agar dapat melahirkan dirimu.

Rasanya baru kemarin, Bunda menulis sepucuk surat cinta ketika dirimu sedang berulang tahun yang ke-1 dan ketika dirimu sekolah TK. Malam ini, Bunda tersadar, selama Naurah sekolah di SD, belum satupun surat cinta yang Bunda tuliskan untukmu. Malam ini, Bunda tiba-tiba ingin menuliskannya. Karena tahun depan...  Insya Allah engkau sudah akan memasuki jenjang SMP...

1343753755850840343Naurah Sayang, dirimu selalu istimewa untuk Bunda. Ketika Bunda memberimu nama, ada doa yang diselipkan pada namamu. Dan Allah mengabulkannya. Engkau adalah penghiburan untuk Bunda. Tak ada hari yang tak kau katakan ‘I Love U, Bunda’ untukku, baik melalui lisan maupun SMS. Jika Bunda di rumah, tak pernah absen kecupmu di dahi dan bibir Bunda.  Ketika engkau hendak tidur, tak pernah tak ada peluk dan dekapmu untukku. Ketika engkau hendak pergi sekolah atau mengaji atau ke luar rumah, tak pernah tidak engkau mencium tanganku. Ketika kita berpisah oleh ruang dan jarak, SMS-mu tak pernah tak mengatakan, ‘I loph U ful, Bunda’ atau ‘I love you so much,my Mother. Kakak kangen Bunda’. Dan jika Bunda hendak pergi ke luar kota,  tak pernah tak ada mata bening berkaca-kaca darimu dan genggaman erat untuk Bunda. Bunda selalu ingat SMS Naurah yang membuat Bunda menangis haru, ‘Kakak sekarang sedang memeluk Al-Qur’an. Rasanya seperti sedang memeluk Bunda...’.

1343754131227658127Naurah Sayang, Bunda senang menuliskan surat untukmu. Bercerita tentang apa saja yang sudah engkau bisa lakukan. Bercerita tentang hari-harimu. Bercerita tentang kita. Bunda ingin, surat-surat itu kelak menjadi kenangan indah dari Bunda untukmu. Bunda mungkin memang galak. Bunda mungkin memang kadang-kadang seperti orang jahat. Maafkan Bunda, Sayang. Percayalah, Bunda mencintaimu...

Naurah Sayang, Bunda mungkin tak bisa menemani seumur hidupmu. Masa depan adalah misteri. Dulu, engkau sering bertanya ‘Kenapa sih Bunda kok tidak sama seperti orang tua teman-teman Kakak? Kenapa sih Bunda gak suka kalau Kakak nonton sinetron? Kenapa sih Bunda mesti nyuruh Kakak ngaji setiap hari?’. Dulu, engkau juga sering bertanya, ‘Bunda itu sebenarnya kerjanya apa sih? Kakak bingung kalau ditanyain teman-teman atau ustadzah tentang pekerjaan Bunda. Gak ada yang percaya kalau Kakak bilang Bunda itu ibu rumah tangga. Teman-teman Kakak mesti bilang, ’kalau ibu rumah tangga kok sering pergi-pergi. Kalau ibu rumah tangga kok Bunda bisa ada di koran’. Perjalanan waktu akhirnya membuat dirimu perlahan memahami. Bunda senang sekali ketika Naurah suatu hari mengatakan, “Nda, Bunda memang berbeda dengan ibunya teman-temanku.” Ah Sayang, Naurah juga berbeda dengan anak lainnya. Masih ingat kah ketika Bunda tersenyum haru karena Naurah menegur Bunda yang saat itu sedang berolahraga? Naurah bertanya, “Memang kalau olahraga bisa bikin kita langsing, Nda?”. Lalu Bunda menjawab, “Bunda olahraga ini bukan mau langsing, tapi supaya keringetan. Bunda beberapa hari ini sering meriang. Mungkin karena banyak duduk mengetik, kurang bergerak.”. Lalu Naurah menjawab, “Bunda itu meriang bukan karena kebanyakan duduk. Tapi karena kebanyakan begadang. Kakak sedih kalau Bunda begadang. Bukannya di An-Naba’ sudah dikasih tahu kalau malam itu adalah selimut. Itu artinya kita harus istiraha. Harus tidur...”. Duhh Naurah, bergetar hati Bunda mendengar jawabannya Naurah...

1343754696672155656Naurah Sayang, Bunda kini sering memakai rok. Bunda sudah hampir jarang memakai celana jeans. Itu juga salah satunya karena Naurah yang sering menegur Bunda. Bunda ingat ketika menjemputmu dari Islamic Centre, engkau mengatakan sembari berbisik-bisik, “Alhamdulillah Bunda pakai rok. Kakak takut banget kalau Bunda pakai celana...”. Bunda saat itu agak marah dan mengatakan, “Memangnya kenapa kalau Bunda pakai celana. Bajunya Bunda kan enggak pendek. Bunda kalau pakai baju atasan kan panjang-panjang sampai selutut...”. Kemudian Naurah menjawab, “Iya, Bunda pakai bajunya panjang-panjang. Tapi tetap saja pakai celana kan. Di sini, perempuan harus pakai rok, Bunda. Kakak malu kalau Bunda pakai celana...”. Duhhh Rabb, saat itu ego seorang Ibu mungkin membuatku tersinggung. Tetapi aku tahu, putriku ini bermaksud baik...

1343754819624794038Naurah Sayang, ingat enggak waktu Bunda mengantarkan Naurah ke Islamic Centre naik becak? Saat itu Naurah bertanya kenapa Bunda bersemangat sekali naik becak jauh-jauh dari rumah hanya untuk mengantarkan Naurah ke Islamic Centre? Kemudian Bunda menjawab, “Bunda semangat karena senang Naurah mau mengikuti masukan dari Bunda untuk belajar menghafal Al-Qur’an. Bunda rasanya seperti sedang mengantarkan anak Bunda ke surga....”. Mendengar jawaban Bunda, Naurah kemudian memeluk Bunda dan menggenggam erat-erat tangan Bunda. Sungguh Sayang, saat itu Bunda ingin menangis karena haru. Tapi tangisan itu tak muncul karena Naurah bertanya, “Terus, kalau Kakak mau menghafal Al-Qur’an, Bunda berarti juga harus mau belajar menghafal Al-Qur’an  dong. Jangan anaknya saja...”. Hmmm, lagi-lagi egonya Bunda yang bermain. Maafkan ya Sayang jika Bunda selalu mengatakan, “Bunda sudah tua. Bunda sudah sulit menghafal. Justru kalau masih muda seperti Naurah, menghafalnya lebih cepat....”. Ah, engkau pasti menjawab, “Mesti Bunda banyak alasannya. Bunda kan masih muda. Bunda itu belum tua...”. Mmm, engkau selalu tahu kapan Bunda berdalih. Dan engkau tak pernah meributkannya. Engkau selalu tersenyum setiap kali Bunda mengatakan, “Di akherat nanti, hafalan Al-Qur’an akan menjadi cahaya penerang untuk kita ketika menyeberang jembatan sirathal mustaqim. Kalau hafalannya sedikit, ya jalannya remang-remang dan bisa buat kita jatuh. Tapi kalau hafalannya banyak, insy Allah kita akan selamat sampai di kahir jembatan. Nah, Bunda berharap kalau Naurah hafalannya banyak, nanti Bunda di belakangnya Naurah. Bunda megangin Naurah. Naurah di depannya Bunda karena Naurah yang jadi penerang untuk Bunda....”. Dan engkau hanya tersenyum menggeleng-geleng kepala setiap kali Bunda mengatakan demikian...

13437548471488163977Naurah Sayang, maafkan Bunda karena tak bisa sering menemanimu selama ini. Bunda sering abai dan mungkin tak sadar melukaimu. Meski kita punya kebiasaan untuk saling meminta maaf setiap jelang tidur, tapi tetap saja Bunda ingin minta maaf. Percayalah Sayang, Bunda mencintaimu. Karena begitu mencintaimu, Bunda mungkin sering bersikap keras padamu. Bunda hanya ingin mengajarkanmu untuk mau belajar bekerja keras. Dunia tidak selalu indah seperti yang kita bayangkan, Sayang. Dunia tak selalu menawarkan kemudahan. Dunia tak segampang yang engkau pikirkan. Bunda ingin Naurah mengetahui bahwa dunia penuh warna. Penuh rasa. Tak hanya bahagia, senang, gembira, tapi juga ada sedih, tangis, dan duka. Untuk meraih cita, sering kali kita harus menangis, jatuh, terluka, dan mengalami kesakitan. Bunda ingin Naurah mengetahui semua itu karena Bunda mungkin tak selalu bisa mendampingi Naurah...

Naurah Sayang, Bunda ingin Naurah mencintai ilmu dan menjadikan belajar sebagai kebutuhan. Jangan merasa lemah karena usiamu yang terlampau muda dibanding teman-teman seangkatanmu. Tak perlu marah dan menangis jika ada yang mengatakan sesuatu yang tak menyenangkanmu. Jangan dibalas, Sayang. Berikan saja senyuman. Allah pasti akan menyayangimu jika engkau membalas mereka dengan kebaikan. Naurah juga tak perlu minder jika diolok-olok hanya karena HP-nya tak berwarna dan tak berkamera atau juga karena kotak pensilnya sering menggunakan bekas tempat alat ukur tensi milik Abi. Bukankah Naurah bilang kalau Bunda berbeda dengan ibu teman-temannya Naurah? Meski HP dan kotak pensilnya Naurah tidak sebagus teman-teman, tapi lihat koleksi buku cerita dan eksiklopedianya Naurah yang sangat banyak. Juga untuk postur tubuhmu yang kecil, jangan berkecil hati. Naurah sedang dalam pertumbuhan. Makan makanan bergizi dan rajin minum susu, insya Allah, sebagaimana doanya Naurah ketika sholat yang hendak minta ditinggikan tubuhnya, maka kelak Naurah akan memiliki tinggi yang hampir sama dengan teman-teman. Hal-hal demikian jangan membuatmu gelisah ya, Sayang. Banyak hal yang lebih penting untuk Naurah pikirkan dan perjuangkan. Bunda bukan ingin mewariskan materi yang utama, tetapi Bunda ingin mewariskan ilmu, semangat, ketegaran, dan daya juang untukmu.

1343754222974887604Naurah Sayang, tak perlu gundah jika peringkat kelasmu tak sebaik Bunda dan Abi. Bukankah Bunda dan Abi tak pernah memarahi Naurah berapapun peringkatnya Naurah! Prestasi tidak selalu melulu diukur dengan peringkat, Sayang. Ketika Naurah mau belajar dengan sepenuh hati, maka hasilnya tentu akan mengikuti. Engkau masih sedang berproses. Usiamu memang masih muda, belum waktunya dirimu duduk di kelas 6. Tapi jangan khawatir Sayang, Naurah pasti bisa. Bekerja keras dan berdoa adalah kuncinya. Persiapkan diri baik-baik di kelas 6 ini ya, Naurah. Jangan biarkan waktu terbuang percuma hanya untuk menonton TV, membaca buku cerita, atau hal lain yang kurang bermanfaat. Sesekali untuk refreshing, it’s ok. Tapi jangan lama-lama. Rutinkan untuk melakukan Sunnah Nabi agar Naurah tenang dan selalu dalam penjagaan Allah. Bunda hanya bisa membantu doa dan menyemangati Naurah. Selebihnya, itu adalah usaha Naurah sendiri dan pertolongan Allah. Semoga 8 bulan tersisa ini membuat Naurah menjadi semakin semangat belajar, semangat mengaji, dan dapat mengelola waktu dengan lebih baik. Kurangi main Fesbuk dan utak-atik edit foto ya, Sayang. Insya Allah, Naurah akan lulus SD dengan hasil yang baik. Insya Allah, Naurah akan masuk SMP sebagaimana yang Naurah inginkan dan sudah kita sepakati.

Hafidzahullahu wa barakallahu, Putriku Sayang...  Man jadda wajada... Man shabara zhafira...

Khairunnisa Musari

/khairunnisamusari

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala" - Sayyid Quthb. Untuk artikel 'serius', sila mampir ke khairunnisamusari.blogspot.com dan/atau http://www.scribd.com/Khairunnisa%20Musari...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?