PILIHAN

Putaran Kedua Pilkada DKI, Episode Merayu Mantan

17 Februari 2017 11:36:41 Diperbarui: 17 Februari 2017 12:40:47 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Sikap optimistis Ahok bahwa  daerah Bukit Duri bebas banjir  didasarkan pada kinerja pemerintahnya dalam penanganan banjir, alasanya  antara lain keberhasilanya menertibkan kawasan Kampung Pulo dan normalisasi Sungai Ciliwung di Bukit Duri. "Sekarang sudah kering-kerontang, enggak usah ngepel. Murid bersekolah seperti biasa," ucap Ahok waktu itu.

Namun faktanya, banjir itu tidak dapat diatasi hanya dengan menggusur dan menormalisasi  kali Ciliwung, sembilan jam setelah Bendungan Katulampa dinyatakan siaga II pada Rabu, 15 Februari 2017, Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Jakarta kembali terendam air. Ketinggian air di sekolah yang berada di Jalan Taman Bukit Duri itu mencapai 70 sentimeter.

Persoalan banjir di Jakarta sesungguhnya bukanlah hanya persoalan Jakarta, namun kondisi hulu sungai sungai  dan sepanjang aliran sungai yang menuju wilayah Jakarta yang berada diluar teroterial wilayah Jakarta adalah penyumbang utama problem Jakarta tersebut.

Terlebih akibat terjadinya eksploitasi air tanah yang tak terkendali, setiap tahun permukaan tanah Wilayah Jakarta mengalami penurunan yang menjadikan Jakarta sebagai catchment area atau wilayah tangkapan air.  Ditambah lagi timbulnya anomali alam yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan seperti terjadinya kenaikan permukaan air laut, penggusuran kampung Pulo yang diramaikan iru dengan melihat indikator fenomena alam tadi lebih tepat untuk penataan estetika kota dari pada mengatasi banjir.

Arus urbanisasi oleh karena ketimpangan ekonomi wilayah sekitar selain menimbulkan masalah estetika kota juga menjadi  potensi bisnis sewa menyewa  hunian mengingat tingginya harga tanah di Jakarta. Tanah sudah menjadi komoditas yang paling komersial dan paling aman karena demand yang tinggi telah mendorong timbulnya penguasaan lahan hijau milik negara yang merupakan problem lainya yang dihadapi oleh pemprov DKI atau kota-kota besar lainnya.

Dinamika politik yang berkembang, petahana seperti halnya Ahok mestinya memiliki waktu yang lebih panjang untuk membangun citra politiknya. Menjelang hari pencoblosan, mengemuka di jagat maya maupun pemberitaan bahwa Jakarta sudah bebas banjir, namun hanya dalam hitungan jam,  beberapa wilayah DKI dilanda banjir.

Pencitraan keberhasilan yang langsung dijawab oleh fenomena alam yang tidak dapat dihindari oleh siapapun ini, bebas banjir agaknya tidak laku lagi menjadi jargon politik untuk meraih kemenangan.

Mungkin baru disadari, terjunya SBY dalam kancah pilkada DKI dengan memasang AHY dalam persaingan pilkada DKI menempatkan SBY sebagai penentu kemenangan pihak yang bersaing dalam putaran 2. 

Maka, tak mengherankan dalam beberapa hari terakhir dunia sosial media dan media pemberitaan muncul fenomena puja puji terhadap AHY yang disebut sebagai figur ksatria yang sebelumnya disebut bau kencur. Bahkan, yang semula biasa mengungkap adanya konflik  antara SBY dan Jokowi, usai diperkirakan Pilkada DKI berlangsung dua putaran, opini konflik yang dikembangkan  terjadi antara SBY dan Prabowo.

Inilah dunia politik, manuver SBY dalam kancah pilkada DKI tak dapat terbaca yang tujuannya adalah untuk mengkuhkan perananya dalam percaturan politik Indonesia  adalah sebagai penentu dan pengendali. Sehingga, siapa yang berhasil merangkul SBY akan memperoleh kans kemenangan yang lebih  besar. Baik Golkar maupun PDIP sebagai pengusung Ahok belakangan menyatakan keingi8nianya untuk bekerjasama dengan SBY.

Episode merayu mantan agaknya mulai intensif dilakukan, walaupun suara perolehan AHY "hanya" 17 %, namun sangat menentukan kemenangan pihak yang bersaing dalam putaran 2.  Sebab, jargon politik Jakarta bebas banjir sudah terjawab oleh fenomena alam yang tidak dapat dihindarkan.



KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana