Diplomasi Amerika-Aceh dalam Perang Aceh

16 Desember 2010 08:57:21 Dibaca :


Pendahuluan


Perang Aceh memiliki arti penting dalam sejarah kolonialisme di Indonesia. Perang yang berlangsung selama 40 tahun tersebut merupakan perang terpanjang dan terdahsyat yang pernah dihadapi oleh Belanda. Bagi Belanda, perang Aceh lebih dari sekadar peristiwa lokal, tetapi juga merupakan fokus suatu politik nasional, kolonial, dan internasional selama satu abad. Namun, selain Belanda, rupanya perang Aceh juga memberikan makna berarti bagi Amerika Serikat. Sejarah mencatat, Amerika memainkan peran yang penting dalam perang Aceh. Sebelum maklumat perang dinyatakan Belanda, Aceh menjalin diplomasi dengan Konsul Jenderal Amerika dan Italia di Singapura. Oleh karena itu, dalam makalah ini, akan dijelaskan bagaimana hubungan Amerika Serikat dan perang Aceh untuk melawan Belanda.


Kronologis Perang Aceh


Sebelum menguraikan keterkaitan Amerika Serikat dalam perang Aceh, saya akan menjelaskan secara singkat bagaimana kronologis perang Aceh. Melalui alur ini, akan didapatkan hubungan yang jelas antara Amerika Serikat dengan Perang Aceh.


a. Belanda menduduki daerah Siak.


Akibat dari perjanjian Siak pada 1858, Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda. Padahal, daerah-daerah itu ada sejak Aceh berada di bawah penguasaan Sultan Iskandar Muda.


b. Belanda melanggar Siak.


Akibat pelanggaran yang dilakukan, berakhirlah perjanjian London pada 1824. Perjanjian itu berisi tentang kesepakatan Belanda dan Inggris dalam membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara, yaitu dengan garis lintang Singapura. Dalam perjanjian tersebut, keduanya mengakui kedaulatan Aceh.


c. Aceh menenggelamkan kapal.


Walaupun sudah diadakan perjanjian, kapal-kapal Belanda tetap melewati perairan Aceh. Akibatnya, masyarakat Aceh geram dan menuduh Belanda tidak menepati janji. Mereka menenggelamkan kapal-kapal Belanda yang melintasi batas perairan. Perbuatan Aceh ini disetujui Inggris karena memang Belanda bersalah.


d. Di bukanya terusan Suez


Ferdinand de Lessep membuka terusan Suez. Akibatnya, perairan Aceh menjadi semakin penting untuk lalu lintas perdagangan.


e. Perjanjian Sumatra


Perjanjian Sumatera 1871 dibuat antara Inggris dan Belanda. Perjanjian itu menyatakan bahwa Inggris memberikan keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Akhirnya, Belanda menjaga keamanan lalu lintas di Selat Sumatera. Selain itu, Belanda mengizinkan Inggris bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerah di Guinea Barat kepada Inggris.


f. Hubungan diplomatik


Aceh tidak menerima perjanjian Sumatera yang dilakukan oleh Belanda dan Inggris. Kemudian, untuk mengatasi hal tersebut, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia, dan Turki di Singapura. Aceh mengirimkan utusan ke Turki pada 1871.


g. Perang Aceh-Belanda


Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika Italia dan Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Nieuwenhuyzen dengan dua kapal perang datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tentang apa yang sudah dibicarakan di Singapura. Namun, Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.


Diplomasi Amerika-Aceh


“Selama kedaulatan kita tidak diakui, tetap ada campur tangan asing yang mengancam kita seperti pedang Democles.”


Pernyataan di atas merupakan tanggapan Gubernur Hindia Belanda, James Loudun, terhadap pemberitaan tentang pertemuan Syahbandar Kerajaan Aceh, yaitu Panglima Muhammad Tibang, dengan konsul Amerika di Singapura, Mayor Studer. Karena Belanda dan Inggris melanggar perjanjian kedaulatan, Aceh menjalin hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia dan Turki di Singapura.


Pada akhir 1872, Loudon mengangkat dua orang komisaris pemerintah. Sesudah mengalami kegagalan pada masa lalu, mereka akan berusaha berunding dengan sultan Aceh, yaitu tentang peninjauan Perjanjian Niaga, Perdamaian, dan Persahabatan tahun 1857. Kepada sultan diberitahukan kedatangan mereka yang akan berlangsung pada bulan Desember (Van T Veer, 27: 1985). Pada bulan September, seorang pejabat tinggi Aceh bernama Panglima Tibang Muhammad, mengunjungi residen Riau, D.W.Schiff. Tibang Muhammad mengabarkan pada Schiff bahwa ia diberi kuasa membuat perjanjian dengan sultan. Karena tak dapat menunjukkan surat-surat kuasa penuh, Tibang Muhammad kembali dan muncul lagi di Tanjungpinang lantas mengatakan bahwa Sultan masih belum berumur dewasa sehingga belum bisa melakukan perjanjian.


Setelah sebulan berada di Riau, Schiff menyuruh mengantar pulang para perunding Aceh dengan kapal uap pemerintah bernama Marnix. Tepat pada 25 Januri mereka diberangkatkan ke Singapura. Namun, di daerah inilah justru para perunding Aceh berkesempatan mengunjungi para konsulat Amerika dan Italia. Para utusan tersebut membawa surat dari Sultan yang isisnya meminta bantuan untuk melawan Belanda. Hanya Amerika yang bersedia melakukan perjanjian dengan Aceh. Konsul Amerika Studer berjanji segera menulis surat kepada Laksamana Jenkins, panglima suatu skuadron Amerika Laut Cina Selatan. Ia menginginkan agar kapal tersebut terus melaju ke Singapura untuk membantu Aceh.


Sambil menunggu angkatan laut Amerika tersebut, Studer merancang konsep perjanjian persahabatan antara Aceh dengan Amerika. Studer mempersiapkan suatu traktat yang terdiri dari dua belas pasal. Traktar tersebut harus ditandatangani Sultan. Namun, usaha Studer mengalami kegagalan karena Hamilton Fish, Menteri Luar Negeri AS di masa itu, menolak untuk memberikan perhatian khusus pada persoalan Aceh dengan Belanda. Dalam suratnya kepada Duta Besar Amerika di Denhaag Belanda, Hamilton menyebut Studer sebagai konsul yang tolol. “Orang itu benar-benar tolol,” tulis Hamilton.


Pengkhianatan Teuku Muhammad Arifin


Pada 16 Februari, Loudon mengirimkan surat kawat dari Den Haag: “Konsul jenderal Singapura memberikan pengkhianatan Aceh. Perutusan telah meminta bantuan konsul Amerika dan Italia di sana melawan kita. Keduanya telah ikut campur. Akan berusaha mendesak pemerintah negara-negara lain agar tidak ikut campur tangan. Konsul Amerika mengajukan traktat pada Aceh dan menyurati laksamana di Cina”. Begitu Belanda mengetahui perjanjian Aceh dan para konsulat, dikirimkannya Dewan Hindia J.F.N Niewenhuyzen, sebagai komisaris Aceh, untuk meminta kejelasan dan jaminan untuk masa mendatang.


Menteri Fransen van de Putte tidak sepanik Loudon. Pertanyaannya, sejauh manakah informasi dari Singapura dapat dipercaya. Ketika dicari tahu, tindakan Studer, konsulat Amerika, banyak yang terungkap. Read menyampaikan bahwa Studer telah beberapa kali menerima perutusan Aceh dan malahan sempat menitipkan surat kepada mereka untuk Sultan. Salah satu di antaranya memuat konsep yang telah dibuat untuk suatu traktat Amerika-Aceh dalam dua belas pasal dan petunjuk bagaimana kemungkinan suatu serangan Belanda dapat dipatahkan, bila kapal-kapal perang Amerika yang dijanjikan itu tidak tiba pada waktunya. Teuku Muhammad Arifin, orang kepercayaan Read, yang menyampaikan hal ini. Kedua belas pasal tersebut di antaranya memuat hak-hak dagang istimewa, pertukaran wakil-wakil, dan perlindungan terhadap ‘tindakan-tindakan permusuhan’. Suatu pengkhianatan yang sungguh memilukan. Teuku Muhammad Arifin, mata-mata Melayu yang sangat licik. Paul Van ‘T Veer menulis,


“Bahwa Arifin telah melakukan penyelewengan secara sadar dapat diketahui dalam surat-surat resmi. Kemudian dalam perdebatan di dalam Majelis Rendah Belanda disebut-sebut, bahwa orang ini dapat disuap. Read telah menyuapnya “ia adalah seorang mata-mata yang bekerja untuk kepentingan Read.”


Pecahnya Perang Aceh


Karena adanya mata-mata, diplomasi Amerika-Aceh mengalami kegagalan. Pada Rabu, 26 Maret 1873, Pemerintah Kolonial Belanda, di atas kapal Citadel van Antwerpen, menyatakan maklumat perang terhadap Aceh. Sebulan setelahnya, di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.T Kohler, pasukan Belanda mendarat di Pante Ceureumen, Ulee Lheue. Ia langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira. Adapun Perjanjian Sumatra itu yang poin pentingnya:


1. Pasal I: Keraaan Britania Raya tidak mengajukan keberatan atas perluasan dominasi Belanda terhadap Pulau Sumatera dan juga membatalkan kesepakatan dalam Perjanjian London tahun 1824.


2. Pasal II: Kerajaan Belanda menyatakan bahwa perdagangan dan pelayaran Britania Raya atas Kesultanan Siak dapat dilakukan, begitupun terhadap semua kesultanan di Sumatra yang dapat bertanggung jawab pada Belanda.


Pascaperjanjian Sumatra, sejarah Aceh bergerak dari satu perang ke perang lainnya.


Penutup


Perang Aceh merupakan perang terlama dan perang yang paling banyak menguras tenaga Pemerintah Kolonial Belanda. Perang Aceh merangkak dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Salah satu peristiwa bersejarah yang penting untuk dicatat adalah adanya diplomasi Amerika-Aceh. Hubungan Aceh dan Amerika dilakukan sebagai strategi melawan Belanda. Namun, dalam perjalanannya, diplomasi yang dilakukan Amerika-Aceh mengalami kegagalan. Pertama, karena tidak adanya persetujuan Menteri Luar Negeri AS. Kedua, hal yang paling ironi adalah adanya penghianatan yang dilakukan oleh orang Melayu bernama Teuku Muhammad Arifin. Seandainya diplomasi Aceh dan Amerika berhasil, barangkali sejarah akan berkata lain.


Daftar Acuan


Van ‘T Veer, Paul.1965.Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgrounje.Jakarta: PT Grafiti Pers


Iskandar. Studer, Kambing Hitam Perang Aceh. http://iskandarnorman.multiply.com/favicon.ico (8 November 2010)


Gagalnya Diplomasi Aceh-Amerika . http://iskandarnorman.multiply.com/favicon.ico (8 November 2010)



Alfi Syahriyani

/kalamkolam

Graduate of English Studies at FIB-UI. Dreamer. English teacher. Free writer. Book Worm. Social-entrepreneur ;)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?