HIGHLIGHT

Alkemis: Pengembaraan Menemukan Harta Jiwa

25 Juni 2012 22:47:31 Dibaca :
Alkemis: Pengembaraan Menemukan Harta Jiwa
Sumber: Dokumen pribadi

Sebererapa dahsyat mimpi mempengaruhi kehidupan seseorang? Apakah mimpi mampu menimbulkan reaksi-reaksi yang terus bergejolak menempuh orde-ordenya untuk membawa sang pemimpi meraihnya, meski harus menempuh marabahaya sekalipun?

Mimpi memang kembang tidur, begitulah kata-kata yang sering kita dengar. Namun, tak jarang pula lewat mimpilah kehidupan seseorang bahkan dalam lingkup yang lebih luas perubahan itu terjadi. Nabi Yusuf adalah contoh sederhana manusia yang kehidupannya banyak berubah karena mimpi. Lewat mimpi Beliau dicelakakan oleh saudara-saudaranya karena merasa iri dengan “sebelas bintang dan matahari bersujud” dalam mimpinya. Sebab mimpi “sapi kurus dan setangkai rumput” Beliau diangkat menjadi perdana menteri. Mimpi memang unik, terkadang kembang memang berubah menjadi biji dan bernas.

Kata-kata bijak mengatakan bahwa mimpi adalah bagian dari tanda-tanda kenabian. Begitu pula dengan dunia sufi, mimpi merupakan media yang dipakai Tuhan untuk menyalurkan ilmu hikmah. Tetapi tidak semua mimpi bisa menjadi ilmu, pertanda atau ‘wahyu’ sebagaimana bunga yang tak semuanya bisa menjadi biji. Sekali lagi, mimpi itu unik.

Begitu pula dengan Paulo Coelho, dalam Novel Sang Alkemis (The Alchemist), mengangkat mimpi menjadi inspiri dalam tokoh sentralnya yaitu anak laki-laki yang bernama Santiago. Santiago adalah anak kecil, pengembala domba-domba miliknya, jiwa petualang dan pembelajar sejati. Pengembaraan Santiago bermula mimpi yang selalu hadir dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Santiago melihat dirinya diraih oleh seorang anak dan dipindahkan ke piramida-piramida: “Lalu tiba-tiba anak itu meraih kedua tanganku dan memindahkanku ke piramida-piramida Mesir”. Menurut ucapan anak kecil dalam mimpinya “kalau kau mau datang kemari, kau akan menemukan harta karun”.

Menurut ahli tafsir mimpi, jika si anak laki-laki mau pergi ke piramida-piramida itu dia akan menemukan harta karun yang kelak akan membuatnya kaya raya. Tetapi ahli tafsir mimpi tidak bisa memberi solusi bagaimana caranya agar anak tersebut sampai ke mesir. Si anak laki merasa kecewa dan memutuskan untuk melupakan mimpinya.

Di saat kekecewaan itulah tiba-tiba hadir sosok laki-laki tua berjubah, mengaku raja Salem. Lelaki tua inilah yang mendorong agar si anak laki-laki mewujudkan mimpinya sekaligus menjalani takdirnya yang telah tertulis oleh tangan yang sama. menurut laki laki tua itu takdir merupakan sesuatu yang selalu ingin dicapai. Pada titik ini pulalah (keinginan) segalanya jelas, segalanya mungkin. Namun, pada titik ini pulalah terkadang usaha untuk mencapai keinginan itu menyerah pasrah.

“...tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu.” justru saat inilah sebenarnya ujian hanya sebagai bentuk penguatan jiwa dan menunjukkan jalan takdir. Simak kata-kata laki-laki tua: “ Daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif, tapi sebenarnya menunjukkan padamu cara mewujudkan takdirmu. Daya ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu, sebab ada satu kebenaran mahabesar di planet ini: siapapun dirimu, apapun yang kau lakukan, kalau engkau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu di dunia.”

Kata-kata yang sarat makna. Tentunya jika setiap manusia menyadari tentang keberadaannya di dunia ini, tapa kesadaran misinya yang ada hanyalah gelisah resah. Di dunia beragam jenis manusia dan pekerjaan ditemukan mulai dari yang jelata sampai raja. Semua itu bukanlah pilih kasihnya Tuhan, melainkan memang kesengajaan Tuhan menciptakan dan menjadikan manusia sesuai kodratnya. “satu-satunya kewajiban manusia adalah mewujudkan takdirnya. Semua satu adanya.”

Sejak perjumpaan dengan laki-laki tua itulah si anak laki-laki memutuskan untuk meninggalkan Andalusia, negerinya, menuju Mesir. Dia tidak tahu letak mesir itu berada yang dia tahu adalah harus menyeberangi lautan, menempuh padang pasir yang luas. Cita-cita, impiannya telah mengantarkan anak laki-laki mengembara ke Tangier serta padang gurun Mesir, dan di sanalah dia bertemu Sang Alkemis yang menuntunnya menuju harta karunnya, serta mengajarinya tentang jiwa dunia, cinta, kesabaran, dan kegigihan.

Inti novel ini terletak pada Alkemis itu sendiri. Alkemis, hemat saya, bukan mengacu pada nama seseorang meskipun di dalam novel ini memang tokoh alkemis ada. Tetapi kalau kita simak baik-baik, alkemis adalah pengembaran sang anak sendiri. sebab dalam pengembaraan ini pulalah sang anak menemukan berbagai pelajaran yang berharga untuk kehidupannya. Sebagaimana para alkemis yang setia di laboratoriumnya; mereka percaya kalau sebentuk logam yang dipanaskan bertahun-tahun, logam itu akan membebaskan diri dari semua sifat-sifat individualnya, dan yang tersisia adalah Jiwa Dunia. Sebuah transfofmasi dari debu menjadi permata, batu menjadi emas, dari manusia biasa menjadi insan kamil.

Konon, dalam sejarahnya, kimia lahir karena adanya impian dari kalangan filsuf yang meyakini bahwa segala sesuatu berasal dari satu jiwa. Kepercayaan itu pulalah yang menggerakkan untuk mencoba mensitesis batu menjadi emas. Bahkan kitab dari bapak kimia, Jabir al-Hayan, dinamakan “Kutub Al-Ahjar”. Pertanyaan yang masih tersisa adalah kenapa harus perubahan batu bisa berubah menjadi emas, bukan yang lain?

Pengembaraan sang anak layaknya reaksi kimia, sebuah bentuk proses mencari bentuk jati diri, mempelajari banyak hal: soal cinta, persahabatan, usaha, keteguhan seorang pemimpi. Ketika dia memutuskan untuk mencari harta karun, sebetulnya dia baru memulai tantangan hidup, menghadapi arus yang sewaktu-waktu bisa menyeret jiwanya. Memang benar, petualangan mengejar impian memang harus jer basuki mawa bea, perlu pengorbanan. Domba-dombanya habis terjual, tertipu oleh para peramal, menghadapi badai gurun, peperangan antar suku. Tetapi semua itu tak seberapa jika bandingkan dengan hasil dan pelajaran dari pengembaraan. Inilah hikmah menikmati proses belajar.

Hal yang paling penting adalah bahwa harta karun itu tidak berada di Mesir, di antara piramida. Justru harta karun itu berada di negaranya, Andalusia. Pembaca bisa mengambil pelajaran bahwa kekayaan itu bukanlah di “sana” melainkan di “sini”. kekayaan itu tidak berada di barat atau di timur tetapi di sini, di dalam hati itu sendiri. sebagaimana percakapan antara si anak laki-aki dengan Sang Alkemis:

“Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?” tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu.

“Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.”

Untuk menemukan amanat, pelajaran dari novel ini pembaca harus membaca secara runtut, sesekali berhenti sambil merenungkan setiap kalimatnya. Pasalya, pelajaran itu terbentang dari awal sampai akhir ceritanya. Sebagaimana kesetiaan sang anak mengembara menelusuri perjalanan pengembaraan. Akhirnya pelajaran itu, harta jiwa ada hanya di hati para pembaca layaknya harta karun yang tidak ada di Mesir tetapi di Andalusia bagi si anak laki-laki. Selamat membaca.

Judul               : The Alchemist (Sang Alkemis)

Penulis            : Paulo Coelho

Penerjemah     : Tanti Lesmana

Penerbit           : Gramedia Pustaka, Jakarta

Tahun Terbit   : cetakan keduabelas, September 2011

Tebal               : 213 halaman

ISBN              : 978-979-22-1664-6

Genre              : Sastra (Novel)

Khoirul Anwar

/kaha.anwar

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Belajar di UIN Yogyakarta
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?