HEADLINE

Terong Om Bob Sadino Disukai Jepang

25 September 2011 01:09:23 Dibaca :

Orang Jepang tidak bisa hidup tanpa terong. Cobalah tengok di setiap kulkas mereka. Selalu ada terong (nasu) atau lobak (daikon), demikian dikatakan Bob Sadino, ikon entrepreneur Indonesia, di Tokyo, kemarin (24/9).

Saya beruntung mendapat kesempatan diajak makan siang oleh Om Bob Sadino, yang kebetulan sedang berada di Tokyo. Kami makan di warung Indonesia dan mencicipi “tumis terong” serta “terong dabu-dabu”. Di warung itu, Om Bob banyak bercerita dan membagi ilmunya, tentang terong, wirausaha, dan bagaimana melihat peluang pasar.

Benar sekali apa yang dikatakan oleh Om Bob. Konsumsi terong di Jepang dalam satu tahun bisa mencapai lebih dari 10 juta kilogram. Orang Jepang mengolah terong menjadi berbagai macam olahan, mulai dari tempura hingga terong panggang dengan olesan miso (nasu no shigiyaki).

Dari sekian banyak konsumsi terong di Jepang, sekitar 1 juta kilogramnya dipasok oleh Om Bob dari Indonesia. Hal itu sudah dilakukan selama 20 tahun. Dan menurut Iyo-san, importir terong dan sayur-sayuran di Jepang, masyarakat Jepang sangat menyukai terong dari Om Bob. Konsumsi sayur-sayuran di Jepang terus meningkat seiring dengan tingginya kesadaran akan kesehatan. Terong, selain bagus untuk tubuh, juga dipercaya bisa menangkal kanker.

Kedatangan Om Bob Sadino ke Jepang memang bukan hanya soal terong. Ia diundang khusus oleh Dompet Dhuafa Jepang untuk membagi ilmunya pada masyarakat Indonesia di Tokyo dalam Training Kewirausahaan bertema “Sukses di Rantau”. Training diadakan di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Tokyo serta di Okayama, pada tanggal 24 dan 25 September 2011. Training tersebut dipandu oleh rekan Kompasianer Rane Hafied, yang bekerja di NHK Jepang, dan dihadiri oleh lebih 100 orang mahasiswa dan pekerja Indonesia di Jepang.

Menurut Om Bob, kunci sukses adalah tidak mudah menyerah dan jangan takut untuk gagal. "Dengan kegagalan, kita bisa belajar bagaimana ke depan lebih baik lagi. Jadi, jangan pernah takut untuk gagal" kata Om Bob.

Di hadapan masyarakat Indonesia di Jepang, Om Bob yang tampil dengan gaya khas baju kemeja putih kotak-kotak dipadu celana jins pendek menyampaikan pengalaman hidupnya tentang memulai sebuah usaha tanpa harus menggunakan modal besar. “Pikiran bahwa memulai usaha harus mendapat kredit dari bank itu pikiran yang goblok, bank juga merusak paradigma dengan segala macam proposal kredit”, demikian Om Bob dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.

"Yang penting dalam usaha adalah kemauan dan berani menerima kegagalan. Semua usaha jenis apa pun akan tetap jalan. Dan usaha yang paling bertahan lama serta cocok di negara kita adalah agropreneur," kata Om Bob yang juga menyebut dirinya sebagai seorang petani.

"Negara kita ini adalah negara pertanian yang kaya. Jangan pernah melupakan hal itu", sambung Om Bob. Kisah ekspor terong ke Jepang adalah salah satu contoh yang ia bagi pada para peserta. Masih banyak lagi peluang untuk ekspor ke Jepang, karena besarnya konsumsi terong dan sayuran di Jepang.

Om Bob bercerita bahwa kreatifitas dan inovasi sangat diperlukan di bidang agrobisnis. Ia yang pertama memperkenalkan telor ayam negeri, ayam broiler, kacang edamame, jagung manis, dan tanaman hidroponik di Indonesia. Awalnya tidak ada pasarnya, tapi ia menciptakan pasar. Dan begitulah cara berpikir wirausaha sebenarnya.

"Sumber daya alam terbentang luas. kita bersyukur Indonesia alamnya subur dan kaya, tapi SDM Indonesia yang kurang mampu memanfaatkannya. Jarang sekali orang Indonesia yang mau menjadi petani", sambung Om Bob lagi.

Om Bob mengatakan, peluang bisnis pertanian cukup besar, tidak hanya pasar internasional saja, tetapi pasar dalam negeri Indonesia juga sangat menjanjikan untuk perkembangan bisnis pertanian tersebut.

Bersama Om Bob Sadino, tampil pula pengusaha sukses Indonesia, Zainal Abidin yang juga dikenal dengan julukan Jay Teroris. Dalam pemaparannya, Jay membangkitkan semangat masyarakat Indonesia melalui bukunya “Monyet Aja Bisa Cari Duit”. Ini adalah buku tentang pengalaman Jay dalam memulai berbagai usahanya, dari bawah hingga sukses seperti saat ini.

Duet Om Bob Sadino dan Jay Teroris mampu membangkitkan semangat masyarakat Indonesia di Tokyo. Om Bob Sadino terkenal dengan gaya bicaranya yang unik, nyeleneh, jungkir balik, dan tidak bisa ditebak. Ia mencoba menggedor dan meruntuhkan pemikiran kita yang selama ini nyaman dan terperangkap dalam teori-teori sekolahan. Om Bob mengingatkan bahwa hidup ini tidak linear melainkan lateral. Kita juga kerap terbelenggu oleh pikiran-pikiran kita sendiri sehingga takut untuk memulai sesuatu.

Kembali ke soal pertanian, Om Bob berulangkali mengingatkan bahwa kekuatan bangsa ini adalah di pertanian. Tapi, mengapa orang Indonesia, terutama orang pintarnya, enggan menjadi petani?

Ia-pun mengajukan satu pertanyaan menggugah, “Mengapa kalau kita sekolah kedokteran, lulus menjadi dokter. Kalau sekolah militer, lulus jadi militer. Tapi mengapa kalau sekolah pertanian, lulusnya tidak jadi petani?”

Pertanyaan Om Bob itu mengajak kita merenung, adakah yang salah dengan konsep pembangunan dan pendidikan pertanian kita. Mengapa tidak banyak anak muda yang punya cita-cita ingin menjadi petani. Pertanyaan itu juga mungkin bisa menjelaskan, mengapa pertanian di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain, seperti Jepang dan Thailand.

Siang itu, sayapun teringat dengan kawan-kawan Kompasianer yang peduli pertanian. Ada pak Syamsul Asinar, petani Cijapun, yang sedang belajar bertani di Jepang. Ada mas Imansyah Rukka, yang peduli pada pertanian di negeri ini. Dan masih banyak lagi lainnya. Mereka tidak hanya bicara soal pertanian, tapi juga memilih menjadi petani.

Salam dari Tokyo.

Junanto Herdiawan

/junantoherdiawan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Pecinta ekonomi dan traveling. Penulis empat buku, Flying Traveler, Shocking Japan, Shocking Korea, dan Japan Aftershock. Saat ini tinggal dan bekerja sebagai ekonom di Surabaya, Jawa Timur. Bertugas mencermati dinamika ekonomi regional Jawa Timur. Ber-twitter di @junanto
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?